Loading
Loading...
Menu BINUS

Paylater dan Pinjol: Akuntansi di Balik Gaya Hidup “Beli Dulu, Bayar Nanti”

Paylater atau pinjaman online (pinjol) memungkinkan konsumen membeli sekarang dan
membayar nanti. Pembelian tampak tidak terlalu berat karena dibagi menjadi angsuran kecil.
Namun dalam istilah akuntansi setiap angsuran adalah sebuah hutang yang berarti sebuah
kewajiban yang harus dilunasi dan pembayaran terlambat menghasilkan biaya tambahan. Konsep
akuntansi mental menyatakan bahwa individu menggunakan berbagai “akun mental” untuk uang
mereka dan itulah sebabnya angsuran kecil bukan hutang. Oleh karena itu pembayaran nanti harus
dianggap sebagai pinjaman bukan sebagai alat pembayaran.

Para peneliti mengidentifikasi beberapa bahaya:

  • Ini murah tetapi tetap saja ini adalah hutang. Pembayaran angsuran tanpa bunga membuat
    produk menjadi lebih murah, menyebabkan pengeluaran berlebihan, hutang yang semakin
    bertambah dan gagal bayar.
  • Pelanggan lebih rentan secara keuangan. Pengguna layanan pembayaran nanti memiliki
    tingkat kerentanan keuangan yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak
    menggunakannya, selain itu pembayaran tertunda dikaitkan dengan tekanan keuangan.
  • Hutang menyebabkan hutang yang lain. Di Inggris data kartu kredit menunjukkan bahwa
    angsuran BNPL bisa dilunasi dengan menggunakan kartu kredit dengan suku bunga 20%,
    membuat kemampuan pelanggan untuk melunasi menjadi tidak pasti.
  • Tingkah laku konsumsi bertentangan dengan rencana keuangan. Di Australia para pemuda
    dewasa mengkonsumsi dan menggunakan BNPL bertentangan dengan tujuan keuangan
    jangka Panjang.

Oleh karena itu gaya hidup “beli sekarang bayar nanti” tidak berhubungan dengan apakah angsuran
gratis atau tidak tetapi lebih kepada pelacakan dan pengelolaan kewajiban seseorang. Dalam
praktiknya seseorang perlu mencatat semua angsuran sebagai hutang, menghitung total kewajiban
bulanan sebelum melakukan pembelian dan menjauhi melunasi satu hutang dengan hutang yang
lain. Pemeliharaan catatan sederhana dalam bentuk daftar angsuran bulanan akan membantu
melacak beban hutang yang sebenarnya. Selain itu literasi keuangan harus mencakup psikologi
pengeluaran berlebihan bukan hanya perhitungan pendapatan dan pengeluaran seseorang.

Sumber

  • Blue, L., Coglan, L., Pham, T., Lammer, I., Menner, R., & Lee, C. (2024). Spend and repeat! Young adult’s experiences with buy now pay later services. Financial Planning Research Journal. https://doi.org/10.2478/fprj-2023-0002
  • Guttman-Kenney, B., Firth, C., & Gathergood, J. (2023). Buy now, pay later (BNPL)
    …on your credit card. Journal of Behavioral and Experimental Finance. https://doi.org/10.1016/j.jbef.2023.100788
  • Hayashi, F., & Routh, A. (2025). Financial constraints among buy now, pay later users.
    Economic Review, 110(4). Federal Reserve Bank of Kansas City. https://doi.org/10.18651/ER/v110n4HayashiRouth
  • Thaler, R. H. (1999). Mental accounting matters. Journal of Behavioral Decision Making, 12(3), 183-206.
Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.