Loading
Loading...
Menu BINUS

Independensi dan Objektifitas

Dalam konteks pekerjaan yang dilakukan oleh auditor maka independensi yang dimilikinya merupakan satu hal yang menjadi fondasi utama dari kredibiltas tugas  audit yang dijalankan. Akan tetapi faktanya adalah bahwa independensi juga berada dalam dua kondisi, yaitu antara realita dan juga independensi dalam segi penampilan. Yang dimaksudkan dengan independens dalam kondisi  yang nyata adalah suatu kondisi internal yang berakar dari komitmen yang etis serta juga disiplin dalam kognitif auditor. Bagaimana dengan konsep independensi yang ada dalam segi penampilan ?

Adapun yang dimaksudkan dengan independensi dari segi penampilan maka akan berhubungan dengan bagaimana para pemangku kepentingan eksternal dalam memandang obyektifitas dari pihak auditor. Hal ini karena auditor yang seharusnya dipandang  benar-benar independen juga masih dipandang sebagai pihak yang kurang independen karena masih memiliki hubungan dengan pihak tenor audit yang cukup panjang. Atas dasar itulah maka menjadi sangat penting untuk memahami beberapa hal berkaitan dengan independensi auditor ini, yaitu :

Memahami Locus Of Control Dalam Hal Independensi Auditor

Yang dimaksudkan dengan locus of control adalah satu hal yang mengacu pada apa yang diyakini oleh pihak individu tentang apakah satu output juga merupakan hasil dari tindakan yang mereka ambil atau bisa jadi merupakan dampak dari hal yang terjadi di luar dari diri mereka. Dalam konteks audit Locus Of Control memainkan peran dan perilaku yang penting dalam rangka untuk membentuk independensi dari auditor. Diketahui bahwa auditor dengan internal locus of control yang kuat cenderung  dalam rangka menjaga independensi mereka, Mereka sangat yakin bahwa apa yang mereka ambil akan sangat mempengaruhi output yang juga mereka hasilkan. Sementara auditor dengan external locus of control yang dominan akan   juga  lebih mudah untuk mendapatkan pengaruh dari pihak luar. Output yang mereka hasilkan akan sangat tergantung dengan hasil yang diharapkan dari pihak klien.

Problenatika Dilema Etika Dalam Audit. Antara Kepentingan Publik dan Kepentingan Klien :

Untuk memahami tentang hal ini, ada beberapa hal yang tidak bisa dipisahkan dalam proses audit dimana auditor berada dalam posisi antara kepentinngan publik dan juga kepentingan klien. Beberapa hal tersebut diantaranya adalah :

  1. Adanya faktor keterikatan ekonomis dan juga tekanan dari pihak klien. Yang dimaksudkan dengan keterikatan ekonomis adalah mengacu pada ketergantungan yang ada dari pihak auditor dari segi keuangan terhadap kliennya, Dimana hal ini bisa terjadi bila tarif dalam proses audit menjadi hal yang signfikan dari total pendapatan kantor akuntan publik tersebut. Pihak auditor dalam perjalannnya bisa mendapatkan tekanan dari pihak  klien diataranya adalah adanya permintaan dari pihak klien yang disampaikan secara eksplisit untuk bisa menerima satu perlakuan akuntansi tertentu serta adanya harapan agar pihak auditor bisa lebih bersikap fleksibel dalam proses audit.
  2. Adanya kondisi yang dinamakan dengan presentation of self. Konsep ini disampaikan oleh Erving Goodman yang biasa dikenal dengan teori Presentation Of Self. Dalam konteks audit dikatakan bahwa baik auditor maupun klien dalam kegiatannnnya diketahui sama-sama melakukan beberapa hal, diantaranya adalah :
  3. Manajemen akan berusaha untuk selalu menunjukkan citra dirinya Ketika berada di panggung sebagai pihak yang kompeten, transparan dan taat . Langkah yang dilakukan diantaranya adalah dengan membimgkai informasi keuangan dengan baik sehingga perusahaan akan selalu dianggap bersih. Dengan begitu adanya ketidaksepakatan internal yang terjadi di dalam perusahaan biasanya akan selalu tidak dtampillkan di hadapan para auditor
  4. Sementara itu hal lainnya juga ditunjukkan oleh para auditor Ketika mereka berada di depan panggung atau ketika mereka harus menyampaikan hasil auditnya kepada pihak publik. Dimana mereka akan menampilkan citra yang sangat positif serta kompeten dan juga professional serta juga menunjukkan citra yang sangat independent.

Memahami Konsep Bias Kognitif Dalam Dunia Audit

Pekerjaaan sebagai auditor hyang dalam tugasnya melaksanakan audit diketahui sangat rentan dengan kondisi terjadinya bias yang kognitif Dimana hal ini terjadi karena adanya sifat dasar dari lingkungan kerja yang dijalankan di dalam proses audit itu sendiri. Diketahui bahwa proses audit pada dasarnya juga membutuhkan penilaian dari manusia yang dalam situasi dan kondisi yang tidak selalu sempurna. Pertanyaanya adalah mengapa audit bisa mengalami bias rawan kognitif ? Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan audit bisa mengalami kondisi bias rawan kognitif, diantaranya adalah :

  1. Adanya ketidakpastian. Biasanya bukti audit sangat jarang lengkap sehingga tidak bisa 100% dapat diandalkan. Dalam hal ini pihak auditor harus sangat berhati-hati dalam= melakukan evaluasi dan juga estimasi proyeksi dari pihak manajemen Perusahaan yang diaudit yang kadangkala bersifat penuh ambiguitas yang cukup signifikan.
  2. Adanya kompleksitas. Lingkungan bisnis yang modern biasanya mengandung berbagai hal yang kompleks Dimana terdapat transaksi yang rumit dan juga melibatkan berbagai hal baik teknologi digital dan juga instrument keuangan yang canggih serta juga standar Akuntansi yang terus mengalami perubahan.
  3. Adanya kondisi tekanan. Auditor merupakan posisi yang biasa bekerja di bawah tekanan yang berat. Adanya keterbatasan waktu yang dimiliki dengan adanya tenggat waktu yang sangat ketat dan juga anggaran yang terbatas bisa memberikan tekanan yang sangat besar kepada pihak auditor untuk bisa dan terus melakukan efisiensi yang akan menbuat auditor mengurangi kecenderungan yang mereka miliki untuk bisa berpikir secara mendalam.
  4. Adanya dampak dari efek Halo. Merupakan hal yang jarang terdengar akan tetapi ternyata Sangat biasa di dalam dunia audit. Mengapa ? karena dapat menciptkan Kesan atau dampak yang negatif dan secara keseluruhan dapat mempengaruhi proses evaluasi yang dilakukan olreh para auditor pada aspek yang sangat spesifik terhadap kondisi keuangan dari klien. Sebagai contoh adalah bila Perusahaan yang diaudit diketahui memiliki reputasi yang cukup kuat dengan posisi manajmen yang kompeten maka audiror kadangkala berada pada posisi yang juga menyatakan bahwa laporan keuangan yang diterbitkan oleh Perusahaan tersebut dapat juga diandalkan. Dalam konsep audit efek Halo dapat terwujud dalam beberapa bentuk, yaitu dengan berkurangnya keketatan pada pemeriksaan beberapa transaksi yang biasanya terjadi pada perusahaan yang dianggap memiliki kinerja yang baik serta jug sangat mengandalkan penjelasaan manajemen dan juga bukan dari hasil pemeriksaan serta juga terdapat resiko berkaitan dengan persepsi akan salah saji yang dianggap lebih rendah dari kondisi yang biasa yang terjadi ( mheykal )
Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.