Loading
Loading...
Menu BINUS

Materiality (Materialitas) dalam Audit dan Akuntansi (1/3)

Dalam proses menyusun sebuah laporan keuangan, sudah pasti akan ada banyak transaksi yang perlu dicatat dan dilaporkan oleh perusahaan. Tetapi, dalam prosesnya, jika terjadi kesalahan pencatatan, belum tentu memiliki dampak sama. Kesalahan dengan nilai yang kecil belum tentu tidak penting, dan kesalahan dengan nilai yang besar belum tentu langsung memengaruhi keputusan pengguna laporan keuangan. Dari sinilah konsep materiality atau materialitas berperan.

Secara sederhana, materialitas merupakan sebuah konsep untuk menentukan apakah suatu informasi cukup penting sehingga kesalahan, penghilangan, atau penyajiannya yang tidak tepat dapat memengaruhi keputusan pengguna laporan keuangan. Penilaiannya tidak hanya berdasarkan nominal, tetapi juga dengan mempertimbangkan sifat dan kondisi yang berkaitan dengan informasi tersebut.

Misalnya, kesalahan pencatatan sebesar Rp5 juta mungkin tidak terlalu signifikan bagi perusahaan besar. Namun, jika kesalahan tersebut berkaitan dengan transaksi yang mencurigakan atau menyebabkan perusahaan tidak memenuhi persyaratan pinjaman, dampaknya bisa menjadi lebih penting.

Dalam akuntansi, materialitas berkaitan dengan bagaimana perusahaan menyajikan informasi keuangan agar tetap relevan bagi penggunanya. Perusahaan perlu mempertimbangkan informasi apa yang harus disajikan secara terpisah, informasi apa yang dapat digabungkan, serta informasi apa yang perlu dijelaskan lebih lanjut dalam catatan atas laporan keuangan.

Sebagai contoh, perusahaan memiliki sejumlah pengeluaran operasional dengan nilai yang relatif kecil. Pengeluaran tersebut dapat disajikan dalam satu kelompok beban yang sesuai selama penggabungannya tidak menghilangkan informasi penting. Sebaliknya, transaksi tertentu yang memiliki dampak signifikan terhadap kondisi keuangan perusahaan mungkin perlu dijelaskan secara lebih terperinci. Artinya, materialitas bukan berarti perusahaan boleh mengabaikan setiap transaksi yang nilainya kecil. Perusahaan tetap harus mencatat transaksi sesuai ketentuan yang berlaku. Materialitas lebih berkaitan dengan penilaian atas kepentingan informasi dalam penyajian dan pelaporan keuangan.

Jika dalam akuntansi materialitas membantu perusahaan menyajikan informasi yang relevan, maka dalam audit, konsep ini dapat membantu auditor dalam menentukan fokus pemeriksaan dan mengevaluasi kesalahan yang ditemukan. Auditor tidak hanya memeriksa apakah angka dalam laporan keuangan sudah sesuai dengan catatan perusahaan. Auditor juga perlu menilai apakah terdapat salah saji yang dapat memengaruhi kewajaran laporan keuangan. Disinilah materialitas menjadi salah satu pertimbangan penting sejak tahap perencanaan hingga penyelesaian audit.

Referensi

  • IFRS Foundation. IAS 1—Presentation of Financial Statements. https://www.ifrs.org/issued-standards/list-of-standards/ias-1-presentation-of-financial-statements/
  • International Auditing and Assurance Standards Board (IAASB). International Standards on Auditing, khususnya ISA 320 dan ISA 450. https://www.iaasb.org/ Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI). Standar Audit yang berlaku. https://iapi.or.id/
  • Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku. https://web.iaiglobal.or.id/
Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.