CPA Days 2026, Day 3, Sabtu, 10 Oktober 2026
Adanya perkembangan dalam dunia Artificial Intelligence (AI) diketahui ternyata membawa perubahan besar dalam dunia kerja, terutama dalam bidang akuntansi dan auditing. Dengan adanya Artificial Intellegence sangat dimungkinkan untuk bisa menyelesaikan berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan banyak waktu dan tenaga untuk diselesaikan dengan lebih cepat dan efisien. AI diketahui juga dapat digunakan untuk menganalisis data dalam jumlah besar, mengidentifikasi transaksi yang tidak biasa, dan juga mendeteksi potensi kecurangan yang terjadi serta juga membantu pihak auditor dalam melakukan menilai risiko. Dengan kemampuan tersebut,maka AI juga dapat meningkatkan efisiensi kerja sekaligus membantu para profesional menghasilkan analisis yang lebih mendalam.
Namun, penggunaan AI juga menimbulkan tantangan dan juga risiko yang perlu diperhatikan. AI tidak selalu menghasilkan informasi yang benar atau akurat. Adanya Kesalahan data, keterbatasan algoritma, dan juga kurangnya konteks dapat menyebabkan AI memberikan hasil yang keliru. Selain itu, AI juga dapat disalahgunakan untuk membuat dokumen keuangan palsu, memanipulasi informasi, serta juga menghasilkan bukti audit yang tidak autentik, atau menyebarkan informasi yang menyesatkan. Penggunaan AI tanpa pengawasan yang memadai juga dapat meningkatkan risiko kebocoran data dan pelanggaran kerahasiaan informasi perusahaan. Oleh karena itu, meskipun AI bisa menawarkan banyak manfaat, penerapannya harus disertai pengendalian, pengawasan, dan standar etika yang jelas.
Hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa AI hadir untuk membantu manusia, bukan sepenuhnya menggantikan peran manusia dalam pekerjaan profesional. AI memamg dapat memproses data dan juga bisa memberikan rekomendasi berdasarkan informasi yang tersedia, akan tetapi AI tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar dalam pengambilan keputusan. Dalam profesi akuntan dan auditor, terdapat aspek-aspek yang membutuhkan pemahaman terhadap situasi, pertimbangan etis, pengalaman profesional, dan kemampuan berpikir kritis yang tidak dapat begitu saja diserahkan kepada teknologi. Sebagai contoh, ketika AI diketahui juga mengidentifikasi transaksi sebagai indikasi kecurangan, auditor juga tetap perlu memeriksa bukti pendukung, memahami latar belakang transaksi, melakukan prosedur audit tambahan, dan menentukan apakah terdapat indikasi pelanggaran yang sebenarnya.
Prinsip professional judgment atau pertimbangan profesional menjadi sangat penting dalam menghadapi perkembangan teknologi ini. Akuntan dan pihak auditor dalam menjalankan pekerjaannua tidak boleh menerima hasil AI secara langsung tanpa melakukan verifikasi. Mereka harus tetap juga menerapkan skeptisisme profesional, yaitu bisa untuk bersikap kritis dalam mengevaluasi informasi dan mempertanyakan apakah bukti yang diperoleh cukup dan dapat dipercaya. Selain itu, tanggung jawab atas keputusan profesional tetap harus dijalankan oleh manusia yang berwenang. AI dapat menjadi alat pendukung dalam proses analisis, tetapi tidak menghilangkan kewajiban akuntan dan auditor untuk menjaga integritas, independensi, objektivitas, dan akuntabilitas.
Dengan demikian, para profesional di bidang akuntansi dan auditing juga perlu beradaptasi dengan perkembangan AI melalui peningkatan literasi teknologi, kemampuan analisis data, serta pemahaman mengenai risiko dan etika penggunaannya. Perusahaan juga perlu menetapkan kebijakan penggunaan AI yang jelas, melindungi data rahasia, memverifikasi hasil yang dihasilkan AI, dan memastikan adanya pengawasan manusia dalam proses pengambilan keputusan penting. Kolaborasi antara manusia dan AI akan memberikan manfaat yang optimal apabila teknologi digunakan secara bertanggung jawab dan tepat ( mheykal )
