Beberapa tahun lalu, pertanyaan “bisakah AI menggantikan akuntan?” masih terasa spekulatif. Kini, jawabannya jauh lebih nyata dan lebih kompleks dari sekadar ya atau tidak.
Teknologi kecerdasan buatan telah mampu mengotomatisasi sejumlah pekerjaan inti akuntansi: mulai dari entri data, rekonsiliasi akun, pemrosesan invoice, hingga menyusun laporan keuangan awal. Tugas-tugas berulang yang selama ini menyita waktu seperti ekstraksi data dari bukti transaksi, pencocokan pembayaran, dan penyusunan trial balance kini dapat dikerjakan oleh perangkat lunak AI. Ini bukan sekadar efisiensi, melainkan pergeseran struktural dalam profesi.
Perubahan Peran, Bukan Penghapusan Peran
Narasi bahwa “AI akan menggantikan akuntan” perlu diluruskan. Menurut Mark Koziel, Presiden dan CEO AICPA, AI tidak akan mengganggu profesi akuntansi secara fundamental, tetapi akan mengubah apa yang dilakukan seorang akuntan.
Data mendukung pandangan ini. Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (U.S. Bureau of Labor Statistics) memproyeksikan pertumbuhan lapangan kerja di bidang akuntansi dan audit sebesar hampir 6% dalam satu dekade ke depan — lebih cepat dari rata-rata pertumbuhan seluruh sektor pekerjaan — dengan sekitar 91.000 pekerjaan baru yang akan ditambahkan pada 2033. Angka ini mencerminkan bahwa kebutuhan akan akuntan tidak menyusut; yang berubah adalah nature pekerjaannya.
Dari Operator Angka ke Penasihat Strategis
AI secara fundamental mengubah bentuk profesi akuntansi, mempercepat pergeseran menuju layanan advisory yang lebih strategis. Akuntan yang sebelumnya menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memasukkan dan memverifikasi data kini memiliki kapasitas lebih untuk melakukan hal-hal yang tidak bisa dilakukan AI: menginterpretasi konteks bisnis, membangun kepercayaan dengan klien, memberikan saran berbasis judgment, dan mengelola risiko yang bersifat kualitatif.
AI mampu membantu akuntan dalam tugas-tugas non-repetitif yang secara tradisional membutuhkan banyak usaha, seperti memproses dokumen panjang dan kumpulan data yang ekstensif. Namun pada akhirnya, AI membutuhkan arahan manusia untuk mencapai tujuan yang bermakna — terutama dalam situasi yang memerlukan pertimbangan etis, negosiasi, dan pemahaman mendalam terhadap regulasi lokal.
Referensi:
- Asgeirsson, E., & Koziel, M. (2025, June 10). CPA.com issues 2025 AI in accounting report. CPA.com. https://www.cpa.com/news/cpacom-issues-2025-ai-accounting-report
- Karbon. (2024). The state of AI in accounting report 2024. Karbon HQ. https://karbonhq.com/resources/state-of-ai-accounting-report-2024/
- LoBianco, A., Sun, K. J., & Zhao, X. (2025, September 8). How artificial intelligence may impact the accounting profession. The CPA Journal. https://www.cpajournal.com/2025/09/08/how-artificial-intelligence-may-impact-the-accounting-profession/
- McGraw-Hill Education. (2025, November 5). Artificial intelligence and the future of accounting. McGraw-Hill Higher Education Blog. https://www.mheducation.com/highered/blog/2025/11/artificial-intelligence-and-the-future-of-accounting.html
- Texas Society of CPAs. (2025, November). Automation and AI and its impact on the future of accounting. Today’s CPA Magazine. https://www.tx.cpa/news-publications/todays-cpa-magazine/issues/article/november-december-2025/2025/11/05/automation-and-ai-and-its-impact-on-the-future-of-accounting
