Pada hari rabu yang lalu tanggal 6 Mei 2026 Bidang Komunikasi Strategis dan Kerjasama Internasional – Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) bekerka sama dengan  bersama Direktorat Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan dan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI)  menyelenggarakan satu kegiatan dengan tema Webinar EKSYAR Diaspora-PPI yang  bertajuk “Peran Strategis Diaspora dalam Mendorong Transformasi Ekonomi Syariah melalui Optimalisasi Investasi ST016 pada Tingkat Global dan Nasional,” pada Rabu (6/5) di Auditorium DJPPR Kementerian Keuangan. Atau biasa dikenal di dalam kompleks kementerian keuangan yaitu dalam gedung Frans Seda. Dalam acara tersebut ditegaskan bahwa pada dasarnya  diaspora Indonesia memiliki peran strategis sebagai global investment connector dalam mempercepat transformasi ekonomi syariah nasional. Acara ini dilakukan dalam rangka usaha untuk memertukan para  pemangku kepentingan dari pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas global. Seperti diketahui bahwa  Indonesia saat ini menempati peringkat ketiga dunia dalam State of the Global Islamic Economy Report akan tetapi dalan diskusi terlihat bahwa posisi tersebut dinilai belum mencerminkan kekuatan riil sebagai big player di tingkat global. Salah satunya karena belum ada pemain yang benar-benar memiliki skala besar di tingkat nasional untuk bisa bermain di level global. Acara ini  dimoderatori oleh Dr. Mohamad Heykal, SCC dari Accounting Program School Of Accounting BINUS UNIVERSITY

Dalam acara tersebut  Para narasumber sepakat bahwa Indonesia perlu berani “bermain besar”  diantaranya adalah dengan menciptakan satu pemain besar dalam bidang instrumen keuangan syariah melalui strategi yang lebih agresif dan terintegrasi. Dalam hal ini termasuk usaha untuk memperkuat instrumen investasi syariah seperti Sukuk Tabungan ST016 yang akan ditawarkan dalam bulam Mei ini, tepatnya tanggal 8 Mei hingga awal Juni 2025. Instrumen ini sendiri merupakan instrumen yang dinilai kompetitif dengan imbal hasil sekitar 6–7%, pajak lebih rendah, serta jaminan negara, sehingga berpotensi besar menarik minat diaspora Indonesia. Seperti diketahui bahwa diaspora Indonesia memiliki potensi global dengan potensi remitansi senilai USD 850 miiar per tahun.  Dengan kekuatan jejaring global dan potensi remitansi diaspora yang mencapai USD 850 miliar per tahun, komunitas diaspora dipandang sebagai katalis penting untuk memperluas basis investor sekali. Adapun para pemateri dalam acara tersebut adalah :

  1. Bapak Deni Ridwan: Direktur Pembiayaan Syariah Kementerian Keuangan/Wakil Ketua Bidang SDM Ekonomi dan Keuangan Syariah IAEI dimana beliau menerangkan bahwa Indonesia saat ini menghadapi tantangan dimana tingkat inklusi keuangan lebih tinggi yang ada di kalangan masyarakat saat ini berada pada posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan literasi, dfimana artinya  masyarakat sudah memiliki akses terhadap instrumen keuangan namun belum sepenuhnya memahami cara memanfaatkannya secara optimal. Untuk itu, pemerintah tidak hanya mendorong edukasi, tetapi juga menghadirkan instrumen yang aman, mudah diakses, dan menguntungkan seperti Sukuk Tabungan ST016, yang menawarkan imbal hasil kompetitif, pajak lebih rendah, serta dijamin negara. Dengan adanya instrumen ini maka diharapkan akan semakin meningkatkan nilai dari pangsa pasar instrument investasi syariah
  2. Bapak Wempi Saputra dimana beliau merupakan  Executive Director of the World Bank Group/Ketua Komite Kerjasama Internasional IAEI, menyampaikan bahwa Indonesia telah menempati peringkat ketiga dalam State of the Global Islamic Economy Report dan telah menjadi salah satu global key player. “Diaspora memiliki peran strategis melalui tiga aspek utama yaitu knowledge, networking, dan capital. Knowledge perlu dibagikan dan diperkuat dengan dukungan endorsement, networking diperoleh dari pengalaman diaspora di perusahaan internasional, serta capital menjadi penggerak utama investasi. Selain itu juga menurut beliau diaspora yang bersifat lintas keahlian memiliki keunggulan dimana diantaranya adalah keunggulan dalam bidang jaringan dan networking. Apalagi instrumen keuangan syariah merupakan instrumen yang bersifat inklusif dan dapat dinikmati oleh siapa saja. Selain itu juga pengembangan sektor halal dimana merupakan hal yan penting karena bila Indonesia bisa menjadi negara yang leading dalam sektor halal maka akan membantu perkembangan industri keuangan syariah.
  3. Bapak Muhammad Iman Sastra Mihajat, dimana beliau merupakan CEO Bank Syariah Matahari yang juga menjadi Pengurus Komite Kerjasama Internasional IAEI. Dalam kesempatan tersebut beliau juga menyampaikan menyampaikan bahwa Indonesia saat ini sangat  perlu untuk  memperkuat eksistensinya di tingkat global melalui kehadiran institusi keuangan syariah yang besar dan kompetitif. Bahkan beliau kembali menyampaikan bahwa perlu dipertimbangkan adanya konversi satu bank  BUMN untuk menjadi satu lembaga keuangan syariah yang besar.  “Saat ini, visibilitas Indonesia masih belum optimal karena belum adanya big player yang dominan di sektor keuangan syariah.. masih banyak yang berjalan sendiri-sendiri. Sukuk menjadi salah satu instrumen yang paling potensial dalam mendukung pembiayaan pembangunan. Penguatan modal menjadi faktor penting agar inovasi dalam industri keuangan syariah dapat terus berkembang” pendapat Iman.
  4. Harri Gemilang dan Andika Ibrahim Nasution. Keduanua merupakan pemateri yang juga mewakili kalangan diaspora Indonesia dalam seminar ini. Harrri merupakan diaspora Indonesia yang juga menjabat sebagai Head of Financial Controlling Airbus Helicopters Arabia, dan merupakan perwakilan salah seorang pemateri yang juga diaspora Indonesia dimana beliau menyampaikan bahwa investor global pada dasarnya juga  melihat berbagai aspek dalam keputusan investasi, tidak hanya imbal hasil akan tetapi  tetapi juga tata kelola syariah, likuiditas pasar, dan kredibilitas yang ada dalam   Faktor kepercyaan atau Trust juga menjadi faktor utama yang menentukan minat investor. “Dalam hal penawaran ST016, sukuk seri ini memiliki positioning yang baik, namun masih terdapat diaspora yang belum familiar dengan instrumen keuangan syariah seperti sukuk. Harri juga menjelaskan tentang Sah Savings Product yang mirip dengan Sukuk Tabungan dikeluarkan oleh pemerintah Saudi Arabia.diantara karaktertik dari Sah Saving Product adalah merupakan instrumen personal saving yang dalam penyebarannya dilakukan distribusi secara digital melalui beberapa lembaga yaitu SNB Capital dan juga AlJazira capital serta juga memiliki masa tenor satu tahun dan dengan nilai minimal investasi adalah 1000 riyal. Sementara pemateri diaspora lainnya yaitu Andika Nasution menyoroti tentang bahwa konsep Ekonomi syariah masih sering dipersepsikan sebagai produk domestik dan kadang bersifat ekslusif padahal ini merupakan ekonomi yang inklusif dan juga  perlu diposisikan sebagai peluang global. Komunitas PP penting untuk dimanfaatkan  tidak hanya sebagai forum, tetapi sebagai medium untuk memperkuat storytelling dan juga sebagai sarana dari  promosi ekonomi syariah Indonesia di tingkat global ( mhy )