Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) tidak lagi hanya dilihat sebagai alat pemroses angka dan data kuantitatif. Kini, AI telah berevolusi menjadi “editor” instan yang sangat andal dalam menyusun, meninjau, dan mengoreksi dokumen teks berskala besar. Dalam lanskap profesional seperti industri audit dan akuntansi, fungsi AI sebagai alat editorial telah membawa transformasi besar terhadap efisiensi dan kualitas pelaporan.

Di balik kemampuan AI untuk membaca teks layaknya manusia, terdapat teknologi yang disebut Natural Language Processing (NLP). Sebagai editor dokumen, algoritma NLP digunakan untuk menganalisis volume data tekstual yang sangat besar, seperti kontrak, notulen rapat dewan, dan surel (email). AI mampu bertindak seperti editor profesional dengan mengekstraksi klausul-klausul penting, mengidentifikasi istilah kunci, hingga menilai sentimen dan nada dari sebuah teks untuk mendeteksi potensi risiko.

Peran AI sebagai alat editorial juga mencakup aspek penyusunan dan penyuntingan draft dokumen. Program AI jenis Large Language Models (LLMs) yang menggunakan pembelajaran mendalam (seperti ChatGPT atau Bard) mampu menghasilkan berbagai konten teks secara otomatis. Lebih dari itu, AI dapat memberikan on-demand coaching atau panduan langsung yang memberikan saran bagi penulis untuk meningkatkan kejelasan (clarity) serta kelengkapan dari sebuah dokumentasi.

Platform AI modern juga membantu mengotomatisasi dan menstandardisasi alur kerja penulisan yang berulang, seperti menyusun memo, meninjau dokumen klien, dan merancang rancangan komunikasi. Beberapa perangkat lunak bahkan menyediakan template berbasis Microsoft Word yang telah diperkaya dengan panduan AI untuk memastikan kepatuhan dan konsistensi bahasa.

Sebagai seorang “proofreader”, AI bekerja dengan tingkat ketelitian yang jauh melampaui kemampuan manual manusia. Algoritma AI dapat secara otomatis meringkas dokumen yang panjang, membandingkan berbagai versi teks, dan memunculkan inkonsistensi yang membutuhkan koreksi lanjutan. Dalam skenario pelaporan, teknologi ini digunakan untuk

memastikan bahwa pengungkapan naratif di dalam laporan telah konsisten seutuhnya dengan dokumen sumber pendukung.

Meskipun AI terbukti dapat mengurangi waktu yang dihabiskan untuk meninjau dokumen secara manual hingga 50% dan secara drastis menekan kesalahan penulisan, AI tidak dirancang untuk menggantikan elemen manusia. Kekhawatiran akan ketergantungan pada AI justru menyoroti betapa pentingnya keseimbangan, di mana AI berfungsi sebagai alat peningkat kapasitas (augment) yang membebaskan profesional dari tugas editorial repetitif, sehingga mereka bisa lebih berfokus pada analisis kritis dan penilaian akhir.

 

Referensi

  • Barton, T. (2025). Auditors and AI in the New Era of Audit. The Center for Audit Quality (CAQ).
  • Faggella, D. (2018). AI in the Accounting Big Four – Comparing Deloitte, PwC, KPMG, and EY. Emerj Artificial Intelligence Research.
  • Gautam, A. (2024). How AI Is Helping in Audit Automation. HighRadius.
  • The Institute of Internal Auditors (IIA). (n.d.). The IIA’s Artificial Intelligence Auditing Framework.
  • Thomson Reuters Tax & Accounting. (2024). How is GenAI reshaping the auditor’s skill set?. Thomson Reuters.
  • Thomson Reuters Tax & Accounting. (2026). How to choose the best AI tool for auditors. Thomson Reuters.