Akuntansi tidak hanya berkaitan dengan menghitung dan mencatat transaksi. Informasi akuntansi digunakan untuk menggambarkan kondisi keuangan suatu organisasi dan menjadi dasar bagi berbagai keputusan. Ketika terjadi tindakan yang tidak etis atau melanggar aturan dalam proses akuntansi, dampaknya tidak selalu berhenti pada satu transaksi atau satu laporan.
Whistleblowing merupakan tindakan mengungkapkan perilaku ilegal, tidak bermoral, atau melanggar aturan kepada pihak yang memiliki kemampuan untuk mengambil tindakan. Dalam lingkungan akuntansi, orang-orang yang bekerja di dalam organisasi dapat menjadi pihak yang mengetahui adanya pelanggaran karena kedekatan mereka dengan aktivitas dan informasi perusahaan.
Menemukan kejanggalan bagi akuntan tidak otomatis membuatnya menjadi whistleblower. Seorang akuntan mungkin memiliki pengetahuan dan bukti mengenai suatu pelanggaran, tetapi tetap mempertimbangkan berbagai hal sebelum melapor.
Apakah laporan saya akan ditindaklanjuti?
Kepada siapa saya harus melapor?
Bagaimana jika yang saya laporkan adalah atasan saya?
Apakah pekerjaan saya akan terpengaruh?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat keputusan untuk melakukan whistleblowing menjadi kompleks.
Dalam profesi yang sangat dekat dengan informasi keuangan, seorang akuntan tentu memiliki tanggung jawab untuk menjaga integritas. Namun, ketika integritas tersebut menuntut seseorang untuk mengungkapkan pelanggaran, muncul risiko personal. Menjadi whistleblower dapat membawa konsekuensi terhadap karier, reputasi, kehidupan sosial, bahkan masa depan pelapor.
Risikonya bisa semakin besar apabila pihak yang dilaporkan memiliki jabatan atau pengaruh yang lebih kuat dalam organisasi. Karena itu, keberanian untuk melapor tidak bisa hanya dilihat sebagai persoalan moral.
Dalam hal ini, perusahaan juga harus turut berperan. Whistleblowing system seharusnya bukan sekadar menyediakan tombol untuk melaporkan pelanggaran. Sistem tersebut harus membuat karyawan percaya bahwa laporan mereka akan ditangani dengan serius. Salah satu hal penting adalah perlindungan terhadap identitas pelapor. Kerahasiaan dan anonimitas dapat membantu mengurangi kekhawatiran seseorang ketika hendak melaporkan pelanggaran.
Whistleblowing dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga integritas organisasi. Manajemen juga memiliki peran penting dalam menciptakan budaya tersebut melalui keteladanan, pelatihan, dan pemberian pemahaman mengenai bagaimana laporan akan ditangani.
Referensi:
- Admin. (2026, May 22). Whistleblowing System: Pengertian, Manfaat, dan Cara Implementasinya di Perusahaan. CRMS. https://crmsindonesia.org/publications/whistleblowing-system-pengertian-manfaat-dan-cara-implementasinya-di-perusahaan/
- Widyadhana, K. A., & Dp, R. T. K. (2025). Efektivitas whistleblowing dalam Fraud Detection: pilar transparansi atau risiko retaliasi? Jurnal Ekonomi Bisnis Dan Manajemen, 4(2), 78–93. https://doi.org/10.58192/ebismen.v4i2.3344
- Zulfikri, A. (2022). Whistleblowing system dalam akuntansi: Tinjauan studi tentang penentu whistleblowing di Indonesia. Jurnal Akuntansi dan Keuangan West Science, 1(1), 49–56
