Loading
Loading...
Menu BINUS

ISSB atau GRI: Panduan Strategis Pelaporan Keberlanjutan bagi Perusahaan Indonesia

Di tengah menguatnya tuntutan global akan transparansi tata kelola lingkungan, sosial, dan perusahaan (ESG), dunia usaha di Indonesia dihadapkan pada dua kerangka pelaporan utama: Global Reporting Initiative (GRI) dan International Sustainability Standards Board (ISSB). Pertanyaan strategis yang kerap muncul di tingkat manajemen adalah kerangka mana yang paling relevan untuk diadopsi. Keputusan ini sejatinya tidak dapat didekati dengan logika memilih salah satu, melainkan harus dilandasi oleh pemahaman bahwa kedua standar ini dirancang dengan tujuan yang berbeda. Akar perbedaannya terletak pada konsep materialitas; GRI berfokus pada dampak materialitas (impact materiality) yang menilai efek operasi perusahaan terhadap lingkungan dan manusia, sementara ISSB menitikberatkan pada materialitas finansial (financial materiality) yang menyoroti bagaimana isu keberlanjutan memengaruhi nilai dan kinerja keuangan perusahaan.

Perbedaan filosofis tersebut secara langsung berimplikasi pada target audiens yang dituju. Dikelola di bawah naungan IFRS Foundation, standar ISSB (seperti IFRS S1 dan S2) menyediakan kerangka materialitas tunggal yang secara khusus didesain untuk memenuhi kebutuhan informasi para investor dan pelaku pasar modal. Sebaliknya, GRI yang merupakan pelopor sejak 1997 mengambil pendekatan materialitas ganda (double materiality). Pendekatan holistik ini melayani spektrum pemangku kepentingan yang jauh lebih luas—mulai dari masyarakat sipil, regulator, konsumen, hingga karyawan—dengan menjawab pertanyaan fundamental mengenai jejak dan kontribusi nyata perusahaan terhadap dunia.

Meski kerap dinarasikan bersaing, ISSB dan GRI sesungguhnya adalah instrumen yang saling melengkapi. Kedua institusi ini terus berupaya menyelaraskan standar pelaporan mereka, ditandai dengan kesepakatan formal pada tahun 2022 untuk menghindari tumpang tindih. Titik konvergensi yang paling nyata terlihat pada pelaporan emisi gas rumah kaca. Baik standar GRI maupun ISSB sama-sama mengacu pada GHG Protocol untuk pengukuran emisi Cakupan 1, 2, dan 3. Interoperabilitas ini memberikan keuntungan taktis; perusahaan yang telah mendata emisinya menggunakan kerangka GRI akan memiliki kesiapan yang sangat baik untuk memenuhi tuntutan IFRS S2, meskipun ruang lingkup pengungkapan sosial dalam ISSB saat ini dinilai belum sekomprehensif GRI.

Bagi entitas bisnis di Indonesia, penentuan kerangka yang relevan sangat bergantung pada profil dan sasaran strategis organisasi. ISSB menjadi pilihan esensial apabila perusahaan memprioritaskan akses ke pasar modal global, ingin menarik minat investor institusional, atau memiliki orientasi ekspor yang menuntut kepatuhan tinggi. Di sisi lain, GRI tetap menjadi fondasi yang krusial bagi perusahaan di sektor dengan jejak sosio-ekologis yang masif—seperti pertambangan, minyak dan gas, serta agrikultur—serta bagi mereka yang ingin menunjukkan akuntabilitas publik kepada regulator dan masyarakat lokal.

Pada akhirnya, pertanyaan yang tepat bukanlah tentang kerangka mana yang lebih superior, melainkan kepada siapa pelaporan tersebut ditujukan. GRI dan ISSB ibarat dua lensa berbeda yang memotret satu objek keberlanjutan yang sama. Bagi mayoritas perusahaan Indonesia berskala besar, mengombinasikan kedua kerangka ini merupakan langkah paling strategis. Dengan menjadikan GRI sebagai basis pelaporan dampak sosial-lingkungan dan mengadopsi ISSB untuk

komunikasi finansial, perusahaan dapat memenuhi ekspektasi beragam pemangku kepentingan secara efisien sekaligus siap menghadapi lanskap kepatuhan global yang semakin terstandarisasi.

Refrence :

  • Council Fire. (2026). GRI vs ISSB: Key differences explained. https://resources.councilfire.org/compare/gri-vs-issb
  • ESG Dive. (2024). IFRS, GRI seek full interoperability as global jurisdictions align with ISSB. https://www.esgdive.com/news/ifrs-gri-seek-full-interoperability-as-global-jurisdictions-align-with-iss/717818/
  • Greenscope. (n.d.). Interoperability of ESG standards: Understanding the issues and developments. https://www.greenscope.io/en/interoperability-esg-reporting-standards
  • IrisRegTech. (2024). ISSB and GRI alignment for greenhouse gas (GHG) reporting: A comprehensive guide. https://irisregtech.com/issb-and-gri-alignment-for-greenhouse-gas-ghg-reporting-a-comprehensive-guide/
  • Nexio Projects. (2025). How to navigate the latest GRI Standards in 2025. https://nexioprojects.com/how-to-navigate-the-latest-gri-standards-in-2025/
Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.