Sebuah perusahaan bisa membangun sekolah, menanam ribuan pohon, atau membiayai layanan kesehatan masyarakat, lalu tetap menghadapi pertanyaan keras dari investor, kreditur, pekerja, dan komunitas. Apakah keselamatan kerja membaik? Seberapa besar risiko iklim terhadap operasi? Dari mana data emisi berasal? Siapa yang bertanggung jawab ketika target tidak tercapai? Untuk menjawabnya, kita perlu memahami dulu perbedaan antara CSR, TJSL, dan ESG.
CSR dan TJSL umumnya membahas tanggung jawab sosial perusahaan dan program kontribusinya kepada masyarakat maupun lingkungan. Kegiatannya bisa sangat bernilai: pemberdayaan usaha lokal, pendidikan, rehabilitasi lingkungan, atau penguatan layanan kesehatan. Namun, kegiatan sosial yang baik belum menjawab apakah perusahaan sudah mengelola risiko lingkungan, sosial, dan tata kelola yang melekat pada model bisnisnya.
ESG berangkat dari pertanyaan yang lain. Aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola dipakai untuk memahami dampak, risiko, peluang, serta kualitas pengambilan keputusan perusahaan. Pada perusahaan manufaktur, contohnya bisa mencakup penggunaan energi, emisi, air, keselamatan kerja, hubungan dengan pemasok, limbah, kepatuhan, dan pengawasan dewan. Pada bank, fokusnya bisa bergeser ke risiko pembiayaan, portofolio sektor intensif karbon, perlindungan nasabah, keamanan data, dan tata kelola kredit. CSR tetap relevan sebagai salah satu bagian dari cerita perusahaan. Bedanya, dalam kerangka ESG cerita itu harus tersambung dengan strategi, data, risiko, dan akuntabilitas.
Kekeliruan lain yang sering muncul adalah menganggap ESG sebagai satu skor universal. Rating ESG memang berguna sebagai bahan awal, tetapi dua penyedia rating bisa memberi hasil berbeda untuk perusahaan yang sama. Perbedaannya dapat bersumber dari metodologi, bobot indikator, sumber data, perlakuan atas kontroversi, hingga cara menilai eksposur sektoral. IOSCO menekankan pentingnya transparansi metodologi, sumber data, konflik kepentingan, dan penanganan informasi rahasia dalam produk rating serta data ESG. Konsekuensinya, perusahaan yang mengejar skor tanpa memahami metodologinya sering kali menetapkan prioritas yang keliru.
Kerancuan juga kerap terjadi antara GRI dan ISSB. GRI berfokus pada dampak organisasi terhadap ekonomi, lingkungan, dan manusia, termasuk hak asasi manusia. Pendekatan ini membantu pembaca memahami siapa saja yang terkena dampak aktivitas dan hubungan bisnis perusahaan. Sebaliknya, IFRS S1 dari ISSB berfokus pada informasi
tentang risiko dan peluang keberlanjutan yang secara wajar dapat memengaruhi arus kas, akses pembiayaan, biaya modal, dan prospek entitas bagi investor, pemberi pinjaman, serta kreditur lain.
Perbedaan ini tidak berarti perusahaan harus memilih salah satu lalu mengabaikan yang lain. GRI dan ISSB menjawab pertanyaan yang berbeda, tetapi dalam banyak kasus keduanya saling menguatkan. Dampak besar pada pekerja, masyarakat, atau lingkungan bisa berkembang menjadi risiko hukum, operasional, reputasi, atau keuangan. Sebaliknya, isu yang dianggap material bagi investor dapat membantu manajemen menentukan area dampak yang perlu dipahami lebih dalam.
Untuk menilai kualitas ESG, pembaca bisa mulai dengan beberapa pertanyaan sederhana: isu apa yang diukur, siapa yang terdampak, bagaimana kaitannya dengan model bisnis, dan siapa yang mengambil keputusan? Setelah itu, lihat apakah target ESG juga muncul dalam anggaran, belanja modal, remunerasi manajemen, dan pengendalian internal. Kalau sebuah program CSR ramai dikomunikasikan tetapi perusahaan tidak bisa menjelaskan metrik, batas data, risiko, atau tindak lanjutnya, program itu mungkin bermanfaat, tetapi belum cukup menjadi bukti tata kelola ESG yang matang.
Referensi 1. GRI
1: Foundation 2021
2. GRI 3: Material Topics 2021
3. IFRS Foundation, IFRS S1 General Requirements
4. IOSCO, Environmental, Social and Governance Ratings and Data Products Providers
5. ISO 26000, Guidance on Social Responsibility
