Dalam menjalankan bisnis, perusahaan harus memahami berbagai risiko yang dapat menghambat pencapaian tujuan perusahaan. Selain pengetahuan berbagai macam risiko, perusahaan juga perlu menilai apakah pengelolaan risiko yang dilakukan sudah berjalan dengan baik. Untuk mengetahuinya, perusahaan dapat menggunakan pengukuran maturitas manajemen risiko. Pada artikel ini, kita akan membahas satu dari tiga jenis pengukuran maturitas manajemen risiko. Yang pertama: Risk Maturity Model (RMM), yaitu salah satu model yang digunakan untuk melihat sejauh mana pengelolaan risiko telah diterapkan dalam suatu organisasi.
Apa itu Risk Maturity Model (RMM):
Risk Maturity Model (RMM), adalah sebuah kerangka pemetaan yang menggambarkan bagaimana kemampuan manajemen risiko dalam suatu organisasi berkembang seiring waktu. Menurut kemenkeu, RMM merupakan alat ukur yang digunakan untuk mengetahui apakah ada bagian yang perlu ditingkatkan, guna membentuk manajemen risiko yang kompeten dalam organisasi, dan menekankan bahwa kunci sukses manajemen risiko bergantung pada tingkat maturitas organisasi dalam mendemonstrasikan tujuh atribut.
Salah satu pendekatan RMM yang dikembangkan oleh Risk and Insurance Management Society (RIMS) menggunakan tujuh atribut untuk menilai kematangan manajemen risiko, yaitu:
1. ERM-based approach (pendekatan berbasis ERM): menilai sejauh mana Enterprise Risk Management (ERM) diterapkan dan didukung oleh pimpinan.
2. ERM process management (manajemen proses ERM): melihat bagaimana perusahaan mengidentifikasi, menganalisis, mengevaluasi, dan menangani risiko.
3. Risk appetite management (manajemen selera Risiko: menilai bagaimana perusahaan menentukan tingkat risiko yang bersedia diterima dalam mencapai tujuannya.
4. Root cause discipline (keahlian mencari akar masalah): melihat kemampuan perusahaan dalam mencari penyebab utama suatu risiko atau masalah.
5. Uncovering risk (pengungkapan risiko): menilai kemampuan perusahaan dalam mengenali berbagai risiko dan peluang yang mungkin muncul.
6. Performance management (manajemen kinerja): melihat hubungan antara pengelolaan risiko dan pencapaian tujuan perusahaan.
7. Business resilience and sustainability (ketahanan dan keberlangsungan bisnis): menilai kesiapan perusahaan dalam menghadapi gangguan dan menjaga kelangsungan operasionalnya.
Risk Maturity Model (RMM) membantu perusahaan memahami sejauh mana manajemen risiko telah diterapkan dan bagian mana yang masih perlu ditingkatkan. Akan tetapi RMM bukan sekadar alat evaluasi saja, RMM adalah kompas strategis untuk membantu organisasi naik kelas dalam tata kelola risiko, memastikan kesiapan menghadapi ketidakpastian, dan membangun fondasi yang kuat untuk pertumbuhan jangka panjang.
Referensi:
- https://djpb.kemenkeu.go.id/kanwil/sumsel/id/data-publikasi/lainnya/artikel/3092-manajemen-risiko-sebagai-usaha-peningkatan-kinerja.html
Mengukur Efektivitas Manajemen Risiko dengan Risk Maturity Level
