Berdasarkan kondisi yang ada saat ini, maka terdapat Empat guncangan utama dalam perekonomian global yang juga perlu menjadi perhatian, yaitu adanya empat sumber guncangan utama yang memengaruhi stabilitas pasar keuangan global.
- Geopolitik. Ketegangan geopolitik dapat memicu guncangan energi, meningkatkan inflasi, dan memengaruhi suku bunga. Diantaranya saat ini adalah perang Rusia dan UKraina serta ketegangan di selat Hormuz antara Amerika Serikat dengan Iran plus saat ini konflik antara Saudi dengan kelompok Houthi yang menguasai Yaman.
- Tekanan fiskal. Kondisi Ddefisit anggaran dan kebutuhan pembiayaan kembali utang dalam rangka meningkatkan pasokan surat utang pemerintah, premi jangka waktu (term premium), serta imbal hasil obligasi.
- Disrupsi AI. Perkembangan kecerdasan buatan yang bisa menghadirkan risiko terkait valuasi aset, konsentrasi pasar, dan keamanan siber.
- Perubahan iklim. Risiko fisik akibat perubahan iklim dan kebutuhan pembiayaan transisi menuju ekonomi rendah karbon menjadi tantangan bagi sistem keuangan.
Keempat faktor tersebut menunjukkan bahwa industri keuangan syariah perlu mempersiapkan instrumen dan mekanisme pengelolaan likuiditas yang mampu menghadapi perubahan kondisi pasar.
- Krisis utang Eropa dan perubahan perilaku investor
Kemungkinan krisis utang Eropa sebagai skenario yang perlu diantisipasi. Defisit fiskal dan kebutuhan pembiayaan kembali utang dapat meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah, kemudian menciptakan hubungan timbal balik antara risiko pemerintah dan sektor perbankan (bank-sovereign feedback loops). Kondisi krisis yang kini terjadi di Perancis juga bisa menjadi contoh yang nyata.
Dalam kondisi tersebut,maka pihak investor cenderung lebih memperhatikan tiga aspek, yaitu sensitivitas harga terhadap jangka waktu investasi (duration), ketersediaan likuiditas, dan kualitas kredit yang lebih tahan terhadap tekanan pasar.
Hal ini juga memunculkan pertanyaan yang cukup penting mengenai apakah utang pemerintah yang selama ini dianggap bebas risiko tetap aman dari kerugian akibat perubahan harga pasar. Dengan demikian, instrumen yang secara historis dianggap aman tetap perlu dievaluasi berdasarkan risiko pasar dan juga adanya kebutuhan likuiditas.
- Keuangan syariah sebagai alternatif likuiditas global
Industri keuangan syariah kini berada pada titik penting untuk memperluas perannya dalam sistem keuangan global. Tantangannya bukan hanya meningkatkan jumlah penerbitan sukuk, tetapi juga memastikan sukuk dapat digunakan secara efektif sebagai instrumen likuiditas.
Terdapat tiga aspek utama yang perlu diperhatikan:
- Opportunity: Perubahan kondisi global meningkatkan kebutuhan terhadap aset jangka pendek yang relatif aman dan dapat digunakan dalam pengelolaan kas.
- Liquidity: Nilai suatu instrumen terletak pada kemampuannya untuk dikonversi menjadi dana ketika pasar sedang mengalami tekanan.
- Market Infrastructure: Penerbitan sukuk perlu didukung oleh aktivitas perdagangan, fasilitas pendanaan, dan perlakuan regulasi yang sesuai.
Dengan demikian, perkembangan pasar sukuk tidak cukup dinilai berdasarkan jumlah penerbitan atau nilai sukuk yang beredar. Kemampuan investor untuk memperdagangkan dan menggunakan sukuk saat dibutuhkan juga menjadi ukuran penting.
- Pentingnya industri sukuk jangka pendek saat ini.
Sukuk jangka pendek kini dinilai memiliki potensi yang sangat besar untuk mendukung pengelolaan likuiditas karena karakteristiknya yang relatif sesuai untuk kebutuhan investasi dan pengelolaan kas.
Tiga manfaat potensial yang kini dibahas adalah:
- Lower duration. Sukuk jangka pendek umumnya memiliki sensitivitas harga yang lebih rendah terhadap perubahan suku bunga dibandingkan instrumen berdurasi panjang.
- Liquidity Buffers. Instrumen tersebut berpotensi digunakan sebagai bagian dari pengelolaan kas dan penyangga likuiditas.
- Cross-border access. Sukuk dapat menjadi penghubung antara investor keuangan syariah dan investor global lainnya.
Namun, jatuh tempo pendek tidak otomatis menjamin likuiditas tinggi, risiko kredit rendah, atau kelayakan sebagai aset yang dapat digunakan untuk memenuhi ketentuan regulasi. Faktor-faktor tersebut tetap bergantung pada kualitas penerbit, kondisi pasar, dan aturan yang berlaku.
- Model kelembagaan dalam pengembangan pasar sukuk
Presentasi mengidentifikasi beberapa institusi yang memiliki fungsi berbeda dalam ekosistem pasar keuangan syariah.
| Institusi | Peran utama |
| Bank sentral dan otoritas pasar | Menyediakan fasilitas likuiditas bank sentral dan membangun ekosistem pasar uang syariah yang memadai. |
| International Islamic Liquidity Management Corporation (IILM) | Menyediakan sukuk jangka pendek berdenominasi dolar AS dengan peringkat tinggi dan dapat diperdagangkan lintas yurisdiksi. |
| Islamic Development Bank (IsDB) | Mendukung pembiayaan pembangunan dan mobilisasi dana sukuk untuk infrastruktur serta ketahanan ekonomi. |
Perbandingan Instrumen jangka pendek dengan instrumen yang berjangka lebih panjang, baik dari IILM dan IsDB maupun dari pasar Indonesia dan Malaysia.
Contoh instrumen yang ditampilkan meliputi SukBI, MITB, SUVBI, SPNS, SBSN, Sukuk Ritel, MGII, BNMN-i, dan IMTN. Pengelompokan tersebut menggambarkan bahwa pengelolaan likuiditas dapat didukung oleh berbagai instrumen dengan karakteristik dan jangka waktu berbeda.
- Contoh nyata: lelang sukuk IILM Oktober 2026
Lelang IILM tanggal 8 Oktober 2026 sebagai contoh permintaan pasar terhadap sukuk jangka pendek.
Hasil lelang IILM — 8 Oktober 2026
Sukuk diterbitkan
US$1,312 miliar
Total permintaan
US$2,33 miliar
Rasio permintaan terhadap penerbitan
1,78×
Jatuh tempo dominan
1–4 bulan
Rincian penerbitan berdasarkan jatuh tempo yang ditampilkan adalah sebagai berikut.
| Jatuh tempo | Penerbitan (US$ juta) |
| 1 bulan | 426 |
| 2 bulan | 466 |
| 4 bulan | 273 |
| 6 bulan | 84 |
| 12 bulan | 63 |
| Total | 1.312 |
Sebagian besar penerbitan terkonsentrasi pada tenor 1–4 bulan. Hal ini menjadi sinyal bahwa instrumen sukuk jangka pendek memiliki peran dalam memenuhi kebutuhan investor terhadap penempatan dana jangka pendek. Total permintaan yang lebih besar daripada penerbitan juga menunjukkan adanya permintaan yang melampaui jumlah sukuk yang ditawarkan dalam lelang tersebut.
- Enam Langkah yang diperlukan untuk bisa untuk memperluas basis investor sukuk
Dalam seminar tersebut pemateri bapak Rahmatullah dari Bank Indonesia juga mengusulkan enam Langkah yang diperlukan untuk meningkatkan daya tarik sukuk bagi investor domestik maupun internasional.
- Improve secondary-market liquidity. Mengembangkan pelaku pasar yang aktif memberikan kuotasi beli dan jual, transparansi harga, penerbitan acuan secara berkala, serta pengaturan peminjaman efek yang sesuai dengan prinsip syariah.
- Build a functional rep and collateral ecosystem. Memungkinkan investor memperoleh pendanaan atas kepemilikan sukuk melalui fasilitas likuiditas yang disetujui dan sesuai prinsip syariah.
- Standardize legal and Sharia sttructures. Mengurangi ketidakpastian mengenai hak atas aset, mekanisme penyelesaian, keberlakuan hukum, perlakuan saat gagal bayar, dan perbedaan aturan antarnegara.
- Make Sukuk easier to benchmark and evaluate. Menyediakan kurva imbal hasil, indeks pembanding, data transaksi, rekam jejak kinerja, serta pengungkapan risiko yang terstandardisasi.
- Improve international market access. Mengatasi hambatan kustodian, penyelesaian transaksi, perpajakan, dokumentasi, ukuran minimum transaksi, dan lindung nilai mata uang.
- Target conventional institutional investors directly. Melibatkan manajer pendapatan tetap global, pengelola cadangan devisa, unit treasury bank, dan perusahaan asuransi melalui analisis nilai relatif (relative-value analysis), bukan hanya mengandalkan alasan agama atau etika.
Keenam langkah tersebut menekankan bahwa perluasan pasar sukuk memerlukan perbaikan infrastruktur, transparansi, aksesibilitas, dan keterlibatan investor. Pasar yang lebih mudah diakses dan memiliki likuiditas lebih baik berpotensi memperluas permintaan sukuk di luar investor yang secara khusus berfokus pada keuangan syariah. ( mheykal & daffa )
