Bagian kedua dari Tulisan ini akan mengulas tentang bagian dari teori-teori di dalam Akuntansi baik yang ada kaitannya dengan perilaku maupun juga yang ada kaitannya dengan teori-teori di dalam akuntansi itu sendiri. Adapun bebrerapa teori ini diantaranya adalah :
- Teori Goal Setting
Merupakan teori yang dikembangkan oleh Edwin Locke dan juga Gary Latham di tahun 1990. Dalam teori ini ditekankan tentang pentingnya tujuan yang spesifik dan juga menantang sebagai satu faktor yang mermberikan motivasi bagi pihak individu agar dapat bekerja secara lebih efektif. Dalam teori ini terdapat tujuan yang jelas dengan tujuan untuk membantu para individu memusatkan perhatian, meningkatkan jumlah Upaya yang telah mereka lakukan serta juga memastikan dari kalangan individu untuk tetap gigih dalam Upaya yang mereka lakukan untuk mengejar hasil dan juga mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Teori goal setting memiliki peranan dalam konteks Akuntansi dan juga manajenen, Dimana teori ini akan sangat terasa berpengaruh di suasana Ketika perusahaan memutuskan untuk menetapkan anggaran serta juga melakukan evaluasi akan kinerja dan juga memutuskan untuk menjalankan satu proses perencanaan yang bersifat operasional. Dari teori ini diketahui bahwa para pelaku dari Akuntansi sering bekerja dalam berbagai sistem yang telah menetapkan berbagai target keuangan yang bersifat spesifik dimana terdapat tenggat waktu yang sangat ketat serta juga memiliki satu standar dari kinerja yang cukup jelas.
Meskipun begitu terdapat satu potensi resiko yang ada dalam teori goal setting ini, yaitu terutama jika tujuan pekerjaan yang kita lakukan tidak memiliki rancangan denga baik. Adanya target yang dirancang dengan sangat agresif tidak akan meningkatkan motivasi karyawan akan tetapi justru bisa membuat para karyawan terlibat dalam beberapa perilaku yang tidak diharapkan seperti adanya praktik manajemen laba dan juga melakukan manipulasi atas berbagai data Akuntansi.
Teori berkaitan dengan psikologi sosial dan perilaku dalam Akuntansi
Berkaitan dengan konsep psikologi sosial serta perilaku dalam Akuntansi maka haruslah dilihat dahulu dalam tatanan professional terutama dalam dunia dan lingkungan pekerjaan individu biasanya akan mampu untuk menyesuaikan perilaku yang mereka lakukan agar selalu selaras denga harapan dari tim dan juga organisasi tempat para karyawan tersebut bekerja. Berkaitan dengan ini maka dalam konteks Akuntansi para akuntan biasanya memiliki standar interpretasi dan juga menginformasikan informasi keuangan dan juga menjalankan pertimbangan yang bersifat professional terutama bukan semata -mata karena adanya faktor individual akan tetapi juga karena juga didapatkan karena sikap dan juga perilaku dari orang yang ada di sekitar mereka. Berikut adalah beberapa yang ada di antaranya :
- Konsep conformity dan Group Pressure
Biasa disebut juga dengan konformitas, yaitu merupakan tendensi yang dimiliki oleh seseorang untuk bisa menyesuaikan opini dan juga sikap atau perilaku agar bisa sesuai denga harapan ataupun norma yang berlaku di dalam kelompok. Konformitas juga terjadi di dalam lingkungan Akuntansi dmana dapat berpengaruh pada ketepatan dalam penilaian yang dilakukan secara professional serta juga dalam proses pengambilan keputusan. Seperti diketahui bahwa akuntan dan juga audtor merupakan profesi yang seringkali dijalankan dalam satu tim kerja Dimana sering kali ditemukan fakta bahwa anggota tim yang junior dapat merasakan tekanan untuk harus memiliki pandangan yang sama dengan para koleganya meskipun faktanya bisa memiliki opini profesonal yang juga berbeda. Mengapa conformity atau konformitas penting untuk dipahami karena akan dapat dilihat dari dampak potensialnya terhadap keandalan dari laporan keuangan dan juga hasil audit. Jika dalam hal ini penerimaan sosial menjadi lebih penting maka akan bisa muncul resiko yang dapat terjadi seperti error karena kelalaaian dan juga misstatement serta kemungkina juga muncul praktik-praktik yang tidak etis.
2. Konsep Groupthink dan Collective Decision Making
Merupakan konsep yang diperkenalkan oleh Irving Janis di tahun 1972, Dimana dalam konsep ini juga digambarkan satu situasi adanya keinginan untuk mencapai consensus yang ada adalam kelompok serta juga melebihi perlunya melakukan evaluasi kritis terhadap berbagai ide atau gagasan alternatif. Hal ini bisa terjadi sebagai contoh misalkan adanya kelompok yang beroperasi di bawah kepemimpina yang kuat serta menghadap tenggat waktu yang sangat ketat dan dalam tekanan yang sangat tinggi Hal ini juga bisa terjadi dalam Akuntansi Dimana = banyak Keputusan seperti hasil audit dan juga penganggaran dan pengambilan kebijakan berkaitan dengan laporan keuangan diambil dan diputuskan secara kolektif dan pada akhirnya bahkan cenderung secara terburu-buru ( Mohamad Heykal )
