Terdapat dua sumber keuntungan yang dapat diperoleh oleh investor dari instrumen utang ini
1. Pendapatan Kupon atau Imbal Hasil
Kupon merupakan pembayaran berkala yang diterima investor sesuai dengan tingkat yang telah ditentukan. Misalnya, seorang investor memiliki obligasi dengan nilai nominal Rp10 juta dan kupon 6% per tahun. Secara sederhana, investor memperoleh Rp600 ribu dalam satu tahun sebelum memperhitungkan pajak dan faktor lainnya. Besarnya dan frekuensi pembayaran kupon bergantung pada karakteristik masing-masing instrumen.
2. Capital Gain
Capital gain terjadi apabila investor menjual instrumen utang pada harga yang lebih tinggi dibandingkan harga belinya. Misalnya, investor membeli obligasi seharga Rp10 juta dan kemudian menjualnya seharga Rp10,3 juta. Secara sederhana, terdapat capital gain sebesar Rp300 ribu sebelum memperhitungkan biaya transaksi dan faktor lainnya. Namun, mekanisme ini hanya relevan untuk instrumen yang dapat diperdagangkan di pasar sekunder.
Risiko Investasi pada Instrumen Utang
Meskipun sering dipandang lebih stabil daripada saham, instrumen utang tetap memiliki risiko. Pemahaman terhadap risiko menjadi penting karena keuntungan investasi selalu berkaitan dengan tingkat risiko yang harus ditanggung.
1. Risiko Suku Bunga
Risiko suku bunga terjadi ketika perubahan suku bunga pasar memengaruhi harga obligasi. Saat suku bunga naik, harga obligasi cenderung turun, sedangkan saat suku bunga turun, harga obligasi cenderung naik. Risiko ini terutama penting bagi investor yang ingin menjual obligasi sebelum jatuh tempo. Penelitian Louhenapessy et al. menunjukkan bahwa suku bunga dan nilai tukar berkaitan dengan imbal hasil Surat Utang Negara di Indonesia.
2. Risiko Gagal Bayar
Risiko gagal bayar atau default risk terjadi ketika penerbit tidak mampu membayar kupon atau mengembalikan pokok investasi. Risiko ini lebih umum diperhatikan pada obligasi korporasi karena kondisi keuangan perusahaan dapat berubah. Pada SBN ritel, pembayaran pokok dan kupon dijamin pemerintah, tetapi investor tetap menghadapi risiko pasar dan likuiditas.
3. Risiko Inflasi
Inflasi dapat mengurangi daya beli dari return yang diperoleh investor. Oleh karena itu, investor perlu memperhatikan real return, yaitu return setelah memperhitungkan inflasi. Penelitian Sany et al. (2025) menunjukkan bahwa inflasi berpengaruh terhadap yield obligasi pemerintah Indonesia.
4. Risiko Likuiditas
Risiko likuiditas terjadi ketika investor kesulitan menjual investasi dengan cepat pada harga yang wajar. SBN ritel tradable dapat diperdagangkan di pasar sekunder, sedangkan instrumen non-tradable memiliki keterbatasan perdagangan dan biasanya menyediakan fasilitas seperti early redemption sesuai ketentuan.
5. Risiko Pasar
Risiko pasar muncul karena harga obligasi dapat berubah akibat suku bunga, kondisi ekonomi, kebijakan moneter, nilai tukar, kondisi politik, dan sentimen investor. Kondisi pasar global, seperti inflasi, yield obligasi Amerika Serikat, dan nilai tukar USD/IDR, berkaitan dengan yield obligasi pemerintah Indonesia.
- Obligasi Korporasi vs Obligasi Pemerintah: Mana yang Lebih Aman? (n.d.). Brids. https://www.brights.id/id/blog/obligasi-korporasi-vs-obligasi-pemerintah-mana-yang-lebih-aman
- BIONS. (2022, October 13). Obligasi korporasi: Investasi rendah risiko untung menjanjikan. https://www.bions.id/edukasi/fixedincome/kenali-obligasi-korporasi
- OCBC. (2022, December 29). Obligasi pemerintah adalah: Pengertian, jenis, dan keuntungannya. https://www.ocbc.id/id/article/2022/12/29/obligasi-pemerintah-adalah Otoritas Jasa Keuangan. (2023). Buku saku pasar modal. Otoritas Jasa Keuangan.
- Wulandari, H., Achsani, N. A., & Santoso, M. H. (2024). Determinants of Indonesian government bond yield. Jurnal Aplikasi Bisnis dan Manajemen, 10(3), 895. https://doi.org/10.17358/jabm.10.3.895
- Fatmawatie, N., Endri, E., & Husein, D. (2024). Macroeconomic factors and government bond yield in Indonesia. Investment Management and Financial Innovations, 13(1), 95–105. https://doi.org/10.21511/pmf.13(1).2024.08
