Debt to Equity Ratio adalah rasio keuangan yang membandingkan total liabilitas (utang) perusahaan dengan total ekuitasnya. Secara sederhana, DER menunjukkan seberapa besar sebuah perusahaan didanai oleh utang dibandingkan dengan modal miliknya sendiri.

Suatu perusahaan dapat dikatakan sehat bukan hanya dari nilai penjualan atau kualitas SDM-nya, namun bisa juga diukur dari perspektif keuangan internal dengan menggunakan pengukuran rasio hutang terhadap modal (DER). Jenis rasio keuangan ini sangat penting karena digunakan untuk mengukur posisi keuangan suatu perusahaan. Ekuitas dan jumlah hutang piutang yang digunakan untuk operasional perusahaan harus berada dalam jumlah yang proposional.

Pada laporan keuangan, angka DER dapat langsung dihitung dari neraca (balance sheet) perusahaan. Perusahaan dengan DER yang tinggi menunjukkan perusahaan banyak didanai oleh utang daripada ekuitas sehingga dapat meningkatkan potensi pengembalian tetapi juga menambah risiko keuangan, terutama jika terjadi kenaikan suku bunga atau penurunan pendapatan. Sebaliknya, jika DER rendah mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki struktur modal yang lebih konservatif dan mungkin lebih stabil, tetapi mungkin juga lebih lambat dalam mengambil peluang pertumbuhan.

DER ini biasanya digunakan oleh para investor, kreditur, analis dan stakeholder untuk mengevaluasi tingkat kesehatan keuangan, risiko, dan kelayakan kredit. Nilai DER yang paling baik dan sehat yaitu di bawah 1 (di bawah 100%), tetapi DER yang ideal rata-rata berada di antara 1 hingga 1,5.

Para investor dan kreditor lebih memperhatikan DER untuk menilai risiko investasi dan kemampuan perusahaan membayar kewajibannya. Rasion ini dapat membantu para investor dan kreditor dalam memahami kesehatan kuangan suatu perusahaan dan untuk mempertimbangkan apakah tingkat leverage tersebut sejalan dengan industri dan situasi pasar yang ada.

Kelebihan DER

· Mudah dihitung hanya dari dua angka di neraca yang tersedia untuk publik.

· Memberikan gambaran cepat tentang risiko finansial dan struktur modal perusahaan.

· Berguna untuk perbandingan antar perusahaan dalam industri yang sama.

· Membantu mengidentifikasi perusahaan yang rentan terhadap kenaikan suku bunga.

Keterbatasan DER

· Tidak membedakan antara utang produktif (untuk ekspansi) dan utang konsumtif (menutup kerugian operasional).

· Tidak memperhitungkan kualitas atau jatuh tempo utang, utang jangka panjang berbunga rendah jauh berbeda risikonya dibanding utang jangka pendek berbunga tinggi.

· Perlu dikombinasikan dengan rasio lain seperti Interest Coverage Ratio (ICR) untuk gambaran lengkap kemampuan perusahaan membayar bunga utang.

· Nilai ekuitas di neraca bisa dipengaruhi kebijakan akuntansi, sehingga DER dari dua perusahaan tidak selalu apple-to-apple.

Kesimpulan:

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan indikator penting dalam menilai kesehatan keuangan perusahaan karena menunjukkan keseimbangan antara penggunaan utang dan modal sendiri dalam operasional perusahaan. Oleh karena itu, nilai DER membantu investor dan kreditor memahami tingkat risiko serta kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya, sehingga dapat menjadi dasar dalam pengambilan keputusan investasi maupun pemberian kredit.

 

Referensi:

  • https://www.sterling-team.com/news/debt-to-equity-ratio-der/#:~:text=Debt%20to%20Equity%20Ratio%20adalah%20rasio%20keuangan%20yang,didanai%20oleh%20utang%20dibandingkan%20dengan%20modal%20miliknya%20sendiri.
  • https://www.jurnal.id/id/blog/debt-equity-ratio-pengertian-rumus-dan-perhitungannya/ https://revalueacademy.id/kamus/debt-to-equity-ratio

Debt to Equity Ratio (DER): Rumus, Contoh Soal, & Analisis