Materialitas tidak ditentukan hanya berdasarkan besarnya nominal. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan untuk menilai apakah suatu informasi atau kesalahan memiliki dampak yang signifikan.
- Nilai atau jumlah salah saji. Semakin besar nilai kesalahan dibandingkan dengan ukuran atau kondisi keuangan perusahaan, semakin besar kemungkinan kesalahan tersebut menjadi material. Namun, tidak ada satu persentase yang berlaku untuk seluruh perusahaan dan seluruh situasi.
- Sifat kesalahan. Kesalahan dengan nilai yang relatif kecil tetap dapat menjadi material jika berkaitan dengan kecurangan, pelanggaran hukum, transaksi pihak berelasi, atau informasi penting lainnya.
- Kondisi perusahaan. Ukuran perusahaan, kestabilan laba, karakteristik industri, dan risiko yang dihadapi dapat memengaruhi penentuan materialitas. Karena itu, auditor perlu memahami kondisi perusahaan sebelum menentukan tingkat materialitas yang sesuai.
- Kebutuhan pengguna laporan keuangan. Informasi yang berpotensi memengaruhi keputusan investor, kreditor, atau pihak berkepentingan lainnya perlu mendapatkan perhatian yang memadai.
Dari berbagai faktor tersebut, dapat dipahami bahwa materialitas juga memerlukan pertimbangan profesional. Penilaian tidak berhenti dengan menghitung nominal kesalahan, tetapi juga perlu melihat konteks dan dampaknya.
Standar yang Mengatur Materialitas
Penerapan materialitas dalam akuntansi dan audit tidak terlepas dari standar yang berlaku. Dalam pelaporan keuangan, IAS 1 (Presentation of Financial Statements) membahas penyajian laporan keuangan dan pertimbangan materialitas informasi. Konsep ini membantu memastikan bahwa informasi yang relevan bagi pengguna tidak dihilangkan, disajikan secara keliru, atau dikaburkan.
Sementara itu, dalam audit, ISA 320 membahas materialitas dalam perencanaan dan pelaksanaan audit, sedangkan ISA 450 membahas evaluasi atas salah saji yang ditemukan selama audit.
Di Indonesia, auditor perlu mengacu pada Standar Audit yang berlaku, termasuk SA 320 dan SA 450, serta ketentuan profesi yang relevan. Perusahaan juga perlu mengikuti Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku dalam menyusun laporan keuangannya.
Referensi
- IFRS Foundation. IAS 1—Presentation of Financial Statements. https://www.ifrs.org/issued-standards/list-of-standards/ias-1-presentation-of-financial-statements/
- International Auditing and Assurance Standards Board (IAASB). International Standards on Auditing, ISA 320 dan ISA 450. https://www.iaasb.org/ Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI). Standar Audit yang berlaku. https://iapi.or.id/
- Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku. https://web.iaiglobal.or.id/
