Perkembangan artificial intelligence, machine learning, dan data analytics telah membawa perubahan besar dalam pekerjaan akuntansi. Berbagai aktivitas yang sebelumnya dilakukan secara manual contohnya seperti mengklasifikasikan transaksi, merekonsiliasi akun, memeriksa jurnal, membaca kontrak, menganalisis perubahan saldo, dan memprediksi arus kas di masa kini dapat dibantu oleh algoritma. Dalam audit, teknologi juga digunakan untuk menemukan anomali, menilai risiko, memproses dokumen pendukung, dan menganalisis populasi transaksi dalam jumlah besar. Sebuah tinjauan sistematis terhadap 100 artikel akademik yang diterbitkan pada 2015–2025 menemukan bahwa teknologi berbasis AI mulai digunakan dalam perencanaan audit, penilaian risiko, pengujian pengendalian, prosedur substantif, dan pelaporan.
Kemampuan tersebut dapat membuat algoritma terlihat lebih unggul daripada intuisi manusia. Algoritma mampu memproses data dalam jumlah besar secara cepat dan konsisten, sedangkan manusia dapat mengalami kelelahan, keterbatasan perhatian, atau bias kognitif. Namun, pekerjaan akuntansi tidak hanya berhubungan dengan kecepatan perhitungan dan kemampuan menemukan pola. Akuntan juga harus memahami substansi ekonomi transaksi, menerapkan standar akuntansi, mempertimbangkan ketidakpastian, mengevaluasi bukti, dan memastikan bahwa keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan. Penelitian mengenai pertimbangan profesional dalam akuntansi menunjukkan bahwa proses pengakuan, pengukuran, penilaian, dan penyajian informasi keuangan tetap memerlukan interpretasi manusia, terutama ketika terdapat ketidakpastian atau beberapa alternatif perlakuan akuntansi.
Pertanyaan pentingnya bukanlah apakah intuisi akuntan harus digantikan oleh algoritma atau apakah akuntan sebaiknya menolak penggunaan teknologi. Tantangan yang sebenarnya adalah bagaimana menggabungkan kemampuan analitik algoritma dengan penilaian profesional manusia. Algoritma dapat membantu menunjukkan pola, kemungkinan risiko, dan transaksi tidak biasa, tetapi akuntan tetap harus menentukan apakah hasil tersebut relevan, masuk akal, dan sesuai dengan kondisi ekonomi yang sebenarnya. Dengan demikian, masa depan profesi akuntansi lebih tepat dipahami sebagai kolaborasi manusia dan teknologi, bukan persaingan antara keduanya.
Referensi:
