Loading
Loading...
Menu BINUS

Menjaga Keseimbangan antara Teknologi dan Pertimbangan Profesional Akuntan Masa Kini

Organisasi perlu menghindari pandangan bahwa penerapan skeptisisme hanya menjadi tanggung jawab individu. Lingkungan kerja, pelatihan, supervisi, tekanan waktu, dan budaya organisasi dapat memengaruhi keberanian akuntan untuk mempertanyakan suatu hasil. Jika pegawai hanya dinilai berdasarkan kecepatan menyelesaikan pekerjaan, mereka mungkin tidak terdorong untuk menyelidiki anomali yang membutuhkan waktu tambahan. Sebaliknya, lingkungan yang menghargai pertanyaan kritis, dokumentasi yang baik, dan penundaan kesimpulan sampai bukti memadai tersedia akan membantu mempertahankan skeptisisme profesional. Penelitian juga menunjukkan bahwa supervisor yang menghargai perilaku skeptis secara tepat dapat mendorong staf untuk lebih mungkin mendeteksi dan menyampaikan indikator fraud kepada atasannya.  

Selain membangun budaya yang mendukung, organisasi perlu mengembangkan kompetensi akuntan secara seimbang. Pelatihan tidak seharusnya hanya berfokus pada penggunaan perangkat lunak, visualisasi data, atau bahasa pemrograman, tetapi juga mencakup pemahaman standar akuntansi, proses bisnis, pengendalian internal, etika, kualitas data, dan komunikasi hasil analisis. Akuntan yang hanya memahami teknologi mungkin mampu menemukan pola tetapi kesulitan menjelaskan implikasinya terhadap pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan. Sebaliknya, akuntan yang hanya memahami aturan akuntansi mungkin tidak mampu memanfaatkan data dalam jumlah besar secara efektif.  

Dokumentasi turut menjadi bagian penting dari skeptisisme dalam accounting data analytics. Akuntan perlu mencatat sumber data, prosedur pembersihan, asumsi model, parameter yang digunakan, anomali yang ditemukan, pemeriksaan lanjutan, serta alasan menerima atau menolak hasil analisis. Dokumentasi tersebut menciptakan jejak yang dapat ditinjau oleh atasan, auditor, komite audit, maupun regulator. Pendekatan ini sesuai dengan penekanan IAASB bahwa evaluasi informasi sebagai bukti harus mempertimbangkan relevansi dan keandalannya, serta bahwa prosedur tidak boleh dirancang atau dilaksanakan secara bias 

Dengan demikian, jawaban atas pertanyaan “masihkah akuntan membutuhkan skeptisisme profesional di era big data?” adalah ya, bahkan lebih dari sebelumnya. Teknologi dapat memperbesar kemampuan akuntan dalam mengolah dan menemukan informasi, sedangkan skeptisisme profesional memastikan bahwa informasi tersebut dinilai secara kritis sebelum digunakan. Masa depan profesi akuntansi bukanlah kompetisi antara manusia dan teknologi, melainkan kolaborasi antara kemampuan analitik mesin dengan pengetahuan akuntansi, pertimbangan profesional, etika, dan tanggung jawab manusia. Akuntan yang mampu memadukan seluruh unsur tersebut akan lebih siap menghasilkan informasi yang relevan, andal, dan dapat dipertanggungjawabkan 

 

Referensi: 

  1. Audit Staff Essentials – New Staff Core Concepts: Introduction to Professional Skepticism | Courses | AICPA & CIMA 
  1. Big data analytics role in shaping the work of accounting function and accounting professionals | Journal of Accounting & Organizational Change | Emerald Publishing 
Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.