Big data memberikan kesempatan bagi fungsi akuntansi untuk melakukan analisis yang sebelumnya sulit dikerjakan menggunakan metode tradisional. Akuntan dapat menggabungkan data penjualan, biaya produksi, persediaan, pembayaran pelanggan, aktivitas pemasok, dan informasi operasional untuk menilai profitabilitas secara lebih terperinci. Dalam akuntansi manajemen, analitik dapat digunakan untuk menyusun anggaran, memprediksi arus kas, menghitung profitabilitas produk, mengevaluasi efisiensi biaya, dan mengidentifikasi penyimpangan antara realisasi dan rencana. Dalam pelaporan keuangan, analitik dapat membantu pelaksanaan rekonsiliasi, penelaahan jurnal, pengujian estimasi, dan pemantauan transaksi menjelang akhir periode. ACCA mencatat bahwa 62% perusahaan dalam survei ACCA dan IMA menilai big data sangat penting bagi masa depan bisnis, terutama karena kemampuannya membantu organisasi meningkatkan efisiensi, mengevaluasi risiko, dan menghasilkan wawasan strategis.
Dalam audit, penerapan data analytics memungkinkan pemeriksaan dilakukan terhadap populasi transaksi yang lebih luas, bukan hanya sampel yang relatif terbatas. AICPA mendefinisikan audit data analytics sebagai ilmu dan seni untuk menemukan serta menganalisis pola, mengidentifikasi anomali, dan memperoleh informasi berguna dari data yang berkaitan dengan objek audit melalui analisis, pemodelan, dan visualisasi. Dengan pendekatan ini, auditor dapat memeriksa jurnal dengan nilai tidak biasa, transaksi yang dilakukan di luar jam kerja, pembayaran ganda, penggunaan akun tertentu secara tidak konsisten, atau hubungan yang tidak wajar antara data keuangan dan data operasional.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan akuntan secara bertahap bergerak dari pengolahan transaksi menuju interpretasi dan pemberian wawasan. Namun, kemampuan menggunakan perangkat lunak belum cukup untuk menjadikan seseorang sebagai akuntan yang kompeten di era big data. Kajian tentang big data dalam fungsi akuntansi mengidentifikasi sejumlah kompetensi yang saling melengkapi, antara lain keterampilan analitik dan statistik, pemahaman bisnis, pengelolaan risiko teknologi, pengetahuan akuntansi, kemampuan membaca hasil analisis, kemampuan menguji kualitas dan integritas data, serta keterampilan komunikasi. Artinya, akuntan tetap memerlukan pengetahuan akuntansi yang kuat agar pola statistik dapat diterjemahkan menjadi informasi yang relevan bagi pelaporan dan keputusan ekonomi.
Referensi:
