Persediaan merupakan aset yang rentan terhadap berbagai risiko, termasuk kehilangan, kerusakan, dan pencurian. Dalam praktik bisnis, kasus selisih persediaan (inventory shrinkage) sering terjadi, baik akibat kelemahan pengendalian internal maupun faktor eksternal. Oleh karena itu, penting bagi entitas untuk menentukan perlakuan akuntansi yang tepat atas kerugian tersebut agar laporan keuangan tetap mencerminkan kondisi yang wajar.
Dalam PSAK 14, persediaan diatur untuk diukur berdasarkan biaya perolehan dan diakui sebagai beban ketika dijual. Namun, standar juga memberikan pedoman terkait perlakuan atas kerugian persediaan, termasuk yang disebabkan oleh kehilangan atau pencurian.
Secara umum, PSAK 14 menyatakan bahwa persediaan diakui sebagai beban pada saat pendapatan terkait diakui (matching principle). Namun, standar juga mengatur bahwa kerugian persediaan harus diakui sebagai beban pada periode terjadinya.
Dalam praktik, terdapat dua pendekatan yang umum digunakan:
- Diakui sebagai Bagian dari HPP (Cost of Goods Sold)
Dalam beberapa kasus, khususnya jika selisih persediaan bersifat kecil dan dianggap sebagai bagian dari risiko operasional normal, kerugian tersebut dapat dimasukkan ke dalam HPP.
Hal ini biasanya terjadi pada:
- Retail dengan shrinkage kecil
- Perbedaan hasil stock opname yang tidak material
- Industri dengan tingkat kehilangan yang “expected”
Namun, pendekatan ini hanya dapat diterima jika tidak mengaburkan informasi material dalam laporan keuangan.
- Diakui sebagai Beban Kerugian Persediaan
Jika kehilangan atau pencurian bersifat material dan tidak normal, maka kerugian tersebut lebih tepat diakui sebagai beban terpisah, misalnya “kerugian persediaan” atau “loss due to inventory shrinkage”.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip penyajian yang wajar, karena:
- Tidak mencerminkan biaya untuk menghasilkan pendapatan
- Bersifat insidental atau akibat kelemahan pengendalian
- Perlu diungkapkan secara terpisah untuk transparansi
Penentuan apakah kerugian persediaan dicatat sebagai HPP atau beban terpisah sangat bergantung pada materialitas dan sifat kejadian.
Menurut penelitian Schipper dan Katherine (2007), penyajian informasi akuntansi yang tepat sangat bergantung pada kemampuan manajemen dalam membedakan antara aktivitas normal dan kejadian tidak biasa.
Implikasi terhadap Laporan Keuangan
Perlakuan akuntansi atas kehilangan persediaan memiliki dampak terhadap:
- Laba kotor → jika dimasukkan ke HPP, laba kotor menurun
- Laba operasional → jika dicatat sebagai beban lain, dampaknya muncul di bawah laba kotor
Berdasarkan PSAK 14, kerugian persediaan akibat kehilangan atau pencurian harus diakui sebagai beban pada periode terjadinya. Namun, perlakuan apakah dicatat sebagai HPP atau beban kerugian persediaan bergantung pada sifat dan materialitasnya. Jika kerugian bersifat abnormal dan signifikan, maka lebih tepat disajikan sebagai beban terpisah untuk menjaga transparansi. Sebaliknya, jika bersifat kecil dan normal, dapat dimasukkan ke dalam HPP. Oleh karena itu, diperlukan pertimbangan profesional yang memadai agar penyajian laporan keuangan tetap relevan dan andal.
Referensi:
- PSAK 14. (2020). Persediaan. DSAK IAI.
- Schipper, Katherine. (2007). Required disclosures in financial reports. The Accounting Review.
