Loading
Loading...
Menu BINUS

Mengenal Akuntansi Positif

Perusahaan perlu membuat berbagai keputusan akuntansi, mulai dari memilih metode pencatatan hingga menyusun laporan keuangan. Dengan mengenal Teori Akuntansi Positif (Positive Accounting Theory), kita dapat memahami alasan di balik keputusan akuntansi yang diambil oleh manajemen perusahaan.

Pengertian Akuntansi Positif:

Akuntansi positif adalah pendekatan yang digunakan untuk menjelaskan dan memprediksi praktik akuntansi yang terjadi dalam dunia nyata. Teori ini menjelaskan mengapa manajemen memilih metode akuntansi tertentu dan bagaimana keputusan tersebut dipengaruhi oleh kondisi perusahaan maupun kepentingan pihak-pihak yang terlibat.

 

Tiga Hipotesis dalam Akuntansi Positif:

1. Bonus Plan Hypothesis (Hipotesis Rencana Bonus)

Hipotesis ini menjelaskan bahwa manajer yang menerima bonus berdasarkan laba perusahaan cenderung memiliki dorongan untuk memilih metode akuntansi yang dapat meningkatkan laba yang dilaporkan.

Contohnya, seorang manajer mendapatkan bonus jika laba perusahaan mencapai target tertentu. Kondisi ini dapat mendorong manajer memilih kebijakan akuntansi yang membuat laba yang dilaporkan lebih tinggi, selama pilihan tersebut diperbolehkan oleh standar yang berlaku.

2. Debt Covenant Hypothesis (Hipotesis Perjanjian Utang)

Hipotesis ini berkaitan dengan perjanjian antara perusahaan dan pemberi pinjaman, seperti bank. Perjanjian tersebut biasanya mencakup persyaratan keuangan yang harus dipenuhi perusahaan.

Contoh, sebuah perusahaan harus menjaga rasio utangnya agar tidak melewati batas yang ditentukan bank. Ketika rasio tersebut mendekati batas, manajemen mungkin terdorong memilih kebijakan akuntansi yang membuat kondisi keuangan perusahaan terlihat lebih baik agar tidak melanggar perjanjian.

3. Political Cost Hypothesis (Hipotesis Biaya Politik)

Hipotesis ini menjelaskan bahwa perusahaan yang mendapat perhatian besar dari masyarakat atau pemerintah dapat memiliki dorongan untuk mengurangi laba yang dilaporkan guna menghindari tekanan politik atau biaya tertentu.

Contoh, perusahaan besar dengan laba yang sangat tinggi mungkin menghadapi sorotan publik ketika harga produknya meningkat. Dalam kondisi tersebut, manajemen dapat memiliki dorongan untuk memilih kebijakan akuntansi yang menghasilkan laba lebih rendah. Namun, pilihan tersebut tetap harus mengikuti standar akuntansi yang berlaku.

Mengapa Akuntansi Positif Penting?

Akuntansi positif membantu perusahaan memahami bahwa angka dalam laporan keuangan tidak hanya berkaitan dengan transaksi bisnis, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh keputusan dan kepentingan manajemen. Bagi perusahaan, teori ini dapat membantu menjelaskan faktor-faktor yang memengaruhi pemilihan kebijakan akuntansi. Untuk investor, kreditur, dan pengguna laporan keuangan lainnya, pemahaman ini dapat menjadi pertimbangan dalam menilai informasi keuangan dan memahami keputusan manajemen.

Meskipun teori akuntansi positif tidak selalu dapat memastikan alasan di balik setiap Keputusan, teori akuntansi positif digunakan untuk menjelaskan dan memprediksi perilaku manajemen berdasarkan pola dan kondisi yang diamati.

 

Beberapa cara penerapan Akuntansi Positif dapat terjadi di dalam sebuah perusahaan:

1. Penyesuaian Kebijakan Akuntansi

Perusahaan dapat menyesuaikan kebijakan akuntansi berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan terhadap perilaku pasar atau industri. Penyesuaian ini dilakukan dengan mempertimbangkan bagaimana kebijakan akuntansi tertentu memengaruhi keputusan pihak-pihak terkait serta kondisi keuangan perusahaan.

2. Analisis Kebijakan Akuntansi Persaingan

Perusahaan dapat menerapkan Akuntansi Positif dengan mempelajari kebijakan akuntansi yang digunakan oleh pesaing. Melalui analisis ini, perusahaan dapat memahami strategi akuntansi yang diterapkan oleh pesaing dan mempertimbangkan penyesuaian kebijakan yang sesuai dengan kondisi serta kebutuhan perusahaan.

3. Pengungkapan Informasi yang Lengkap

Penerapan Akuntansi Positif dapat mendorong perusahaan untuk menyajikan informasi yang lengkap dan transparan dalam laporan keuangan. Dengan demikian, investor, kreditur, dan pihak-pihak terkait lainnya dapat memahami kinerja serta kondisi keuangan perusahaan dengan lebih baik.

4. Partisipasi dalam Penelitian Akuntansi

Perusahaan dapat berpartisipasi dalam penelitian akuntansi atau bekerja sama dengan institusi akademis untuk memahami perilaku dan praktik akuntansi yang berkembang di industri. Hasil penelitian tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan bagi perusahaan dalam mengevaluasi dan meningkatkan kebijakan akuntansinya.

5. Penggunaan Informasi Keuangan dalam Pengambilan Keputusan

Manajemen dapat menggunakan informasi keuangan sebagai dasar dalam mengambil keputusan dengan mempertimbangkan pengaruh kebijakan

akuntansi terhadap nilai perusahaan dan keputusan investasi. Dengan cara ini, perusahaan dapat membuat keputusan yang lebih tepat berdasarkan informasi keuangan yang tersedia.

6. Reaksi Terhadap Perubahan Peraturan Akuntansi

Ketika terjadi perubahan peraturan akuntansi, perusahaan perlu menyesuaikan kebijakan dan mengevaluasi dampaknya terhadap laporan keuangan. Melalui pendekatan Akuntansi Positif, perusahaan dapat memahami bagaimana perubahan tersebut memengaruhi perilaku manajemen, kondisi keuangan, serta keputusan bisnis yang diambil.

7. Keterlibatan Pihak-Pihak Terkait

Perusahaan perlu membangun komunikasi yang baik dengan pihak-pihak terkait, seperti investor, kreditur, dan regulator, untuk memahami pandangan mereka terhadap praktik akuntansi yang diterapkan. Masukan dari pihak-pihak tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan bagi perusahaan dalam mengevaluasi dan menyesuaikan kebijakan akuntansi agar sesuai dengan kebutuhan serta harapan pihak-pihak terkait.

 

Referensi:

  • https://kledo.com/blog/akuntansi-normatif-dan-positif/
  • https://www.jurnal.id/id/blog/penerapan-akuntansi-positif-di-perusahaan/
Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.