Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas pengertian Akuntansi Positif dan Akuntansi Normatif, termasuk tujuan dan manfaatnya. Kali ini, kita akan membahas perbedaan kedua pendekatan tersebut serta mengetahui pendekatan mana yang lebih tepat digunakan oleh perusahaan.
| Aspek | Akuntansi Normatif | Akuntansi Positif |
| Fokus utama | Apa yang seharusnya dilakukan (what should be) | Apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa (what is and why) |
| Pertanyaan Inti | Metode mana yang terbaik untuk pengguna? | Mengapa manajer memilih metode ini? |
| Sifat pendekatan | Preskriptif (merekomendasikan) | Deskriptif dan prediktif (menjelaskan) |
| Pertanyaan kunci | “Bagaimana akuntansi seharusnya dilakukan?” | “Mengapa perusahaan memilih metode tertentu?” |
| Basis argumentasi | Nilai, tujuan, dan asumsi ideal | Data empiris dan pengamatan nyata |
| Metode pengujian | Argumentasi logis dan konsistensi internal | Pengujian hipotesis dengan data |
| Hubungan dengan nilai | Mengandung nilai secara eksplisit | Berusaha objektif, tetapi tidak sepenuhnya bebas nilai |
| Produk yang dihasilkan | Pedoman, standar, kerangka konseptual | Penjelasan dan prediksi perilaku pelaporan |
| Contoh dalam akuntansi | Perumusan PSAK, kerangka konseptual IFRS | Penelitian tentang hubungan struktur utang dengan pilihan metode akuntansi |
Dari tabel di atas terlihat perbedaan utama kedua pendekatan tersebut terletak pada pertanyaan yang ingin dijawab. Akuntansi Positif berusaha menjelaskan apa yang terjadi dan mengapa hal tersebut terjadi, sedangkan Akuntansi Normatif membahas apa yang seharusnya dilakukan. Dengan demikian, Akuntansi Positif membantu memahami kenyataan di lapangan, sementara Akuntansi Normatif memberikan arahan mengenai praktik akuntansi yang sebaiknya diterapkan.
Manakah yang Lebih Baik, Akuntansi Positif atau Normatif?
Akuntansi Positif dan Akuntansi Normatif sama-sama memiliki keunggulan masing-masing sehingga tidak tepat jika salah satunya dianggap selalu lebih baik. Akuntansi Positif membantu perusahaan memahami alasan di balik keputusan akuntansi dan faktor-faktor yang memengaruhinya. Di sisi lain, Akuntansi Normatif memberikan dasar untuk menentukan praktik yang sesuai dengan tujuan pelaporan keuangan dan prinsip yang berlaku.
Jika perusahaan menggabungkan kedua pendekatan tersebut akan menjadi pilihan yang lebih baik. Perusahaan dapat menggunakan Akuntansi Positif untuk memahami kondisi nyata dan alasan di balik suatu keputusan, kemudian menggunakan Akuntansi Normatif untuk menilai apakah keputusan tersebut sudah sesuai dengan prinsip dan tujuan pelaporan keuangan. Dengan menggabungkan keduanya, perusahaan tidak hanya memahami alasan suatu kebijakan diterapkan, tetapi juga dapat mempertimbangkan apakah kebijakan tersebut sudah tepat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Referensi:
https://www.jurnal.id/id/blog/perbedaan-akuntansi-normatif-dan-akuntansi-positif/
Apa Itu Akuntansi Normatif dan Positif? Mana yang Lebih Baik?
