Di era digital, data analytics telah menjadi salah satu alat paling penting dalam membantu organisasi mengambil keputusan yang cepat dan berbasis data. Berbagai teknik seperti data mining, artificial intelligence (AI), machine learning, dan predictive analytics memungkinkan perusahaan mengolah jutaan transaksi dalam waktu singkat untuk menghasilkan informasi yang dianggap relevan dan akurat. Dalam bidang akuntansi dan audit, penggunaan analitik data juga semakin luas untuk mendeteksi anomali transaksi, mengidentifikasi risiko fraud, serta mendukung proses pengambilan keputusan keuangan. Namun, besarnya kemampuan teknologi tidak berarti bahwa setiap hasil analisis dapat diterima begitu saja.
Salah satu prinsip penting yang sering terlupakan adalah skeptisisme (skepticism) terhadap hasil analisis data. Meskipun sebuah model analitik menghasilkan temuan yang terlihat logis atau memiliki tingkat akurasi yang tinggi, hasil tersebut tetap harus diverifikasi sebelum digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Dalam konteks akuntansi, sikap skeptis menjadi semakin penting karena kesalahan interpretasi data dapat berdampak pada laporan keuangan, penilaian risiko, hingga keputusan bisnis yang bernilai strategis.
Skeptisisme dalam data analytics adalah sikap kritis yang mendorong analis, auditor, dan praktisi akuntansi untuk tidak langsung menerima hasil analisis sebagai kebenaran mutlak. Hasil yang diberikan oleh algoritma data mining atau machine learning bisa saja tampak meyakinkan, tetapi tetap memiliki kemungkinan mengandung kesalahan akibat kualitas data yang buruk, asumsi model yang kurang tepat, bias algoritma, atau kesalahan dalam proses pengolahan data.
Oleh karena itu, hasil analisis tidak boleh dianggap sebagai jawaban akhir, melainkan sebagai indikasi yang perlu diuji dan dievaluasi lebih lanjut. Pendekatan ini sejalan dengan konsep professional skepticism dalam auditing, yaitu memiliki pola pikir yang selalu mempertanyakan, waspada terhadap kemungkinan salah saji, serta melakukan penilaian kritis terhadap bukti yang diperoleh. IAASB (International Auditing and Assurance Standards Board) menegaskan bahwa skeptisisme profesional merupakan elemen fundamental dalam memastikan kualitas audit dan evaluasi bukti yang memadai
Referensi:
