Dalam audit, bukti audit harus memiliki kualitas yang memadai. Kualitas bukti tidak hanya ditentukan oleh jumlah dokumen atau banyaknya data, tetapi juga oleh keandalan dan relevansinya. Di sinilah veracity berperan sebagai dasar untuk menilai apakah data dapat dijadikan bukti audit yang kuat.
Misalnya, auditor menerima daftar pembayaran vendor dari sistem keuangan. Untuk memastikan veracity data tersebut, auditor dapat membandingkannya dengan purchase order, invoice, goods receipt, bukti transfer bank, dan master data vendor. Jika semua data saling mendukung, maka tingkat kepercayaan terhadap transaksi tersebut meningkat. Namun, jika terdapat perbedaan nama vendor, nomor rekening, tanggal pembayaran, atau nominal transaksi, maka auditor perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Veracity juga berkaitan dengan audit trail. Data yang baik seharusnya dapat ditelusuri dari awal hingga akhir. Auditor perlu mengetahui siapa yang membuat transaksi, kapan transaksi dibuat, siapa yang menyetujui, apakah ada perubahan data, dan apakah perubahan tersebut memiliki otorisasi. Tanpa audit trail yang jelas, data menjadi lebih sulit dipercaya.
Dalam dunia auditing modern, Big Data Analytics dan artificial intelligence semakin digunakan untuk meningkatkan akurasi, reliability, dan kualitas audit. Namun, teknologi tersebut tetap membutuhkan data yang berkualitas agar hasilnya dapat dipercaya.
Salah satu contoh masalah veracity adalah data transaksi yang duplikat. Dalam sistem pembayaran, bisa saja satu invoice tercatat dua kali karena kesalahan input atau integrasi sistem. Jika auditor tidak memeriksa duplikasi ini, laporan beban atau utang dapat menjadi tidak akurat.
Contoh lain adalah data master vendor yang tidak konsisten. Misalnya, satu vendor memiliki beberapa nama berbeda dalam sistem, tetapi menggunakan rekening bank yang sama. Kondisi ini dapat terjadi karena lemahnya pengendalian master data. Dalam beberapa kasus, hal ini juga dapat menjadi indikasi risiko fraud.
Masalah veracity juga dapat muncul pada jurnal manual. Jurnal manual yang dibuat menjelang akhir periode, memiliki nilai signifikan, dan tidak memiliki dokumen pendukung memadai dapat menimbulkan risiko salah saji. Auditor perlu memeriksa apakah jurnal tersebut memiliki dasar yang benar, disetujui oleh pihak berwenang, dan sesuai dengan kebijakan akuntansi perusahaan.
Dalam audit payroll, veracity dapat diuji dengan membandingkan data karyawan aktif, data absensi, slip gaji, nomor rekening, dan pembayaran bank. Jika terdapat pembayaran kepada karyawan yang sudah tidak aktif atau nomor rekening yang digunakan oleh lebih dari satu karyawan, maka auditor perlu menelusuri lebih lanjut.
