Loading
Loading...
Menu BINUS

Green Accounting: Cara Perusahaan Menghitung Biaya yang Selama Ini Diabaikan (part 1/2)

Apa yang Tidak Masuk dalam Laporan Keuangan Tradisional?

Selama puluhan tahun, laporan keuangan perusahaan hanya mencerminkan satu sisi realitas: pendapatan, beban operasional, dan laba bersih. Namun ada satu kategori biaya yang nyaris tidak pernah muncul di neraca, yaitu biaya lingkungan. Polusi udara dari pabrik, limbah cair yang dibuang ke sungai, atau deforestasi akibat ekspansi lahan tidak tercatat sebagai beban keuangan, padahal dampaknya sangat nyata bagi masyarakat dan ekosistem.

Di sinilah green accounting atau akuntansi lingkungan hadir sebagai jawaban. Konsep ini mendorong perusahaan untuk mengakui, mengukur, dan melaporkan biaya-biaya lingkungan yang selama ini tersembunyi di balik model bisnis mereka.

 

Apa Itu Green Accounting?

Green accounting adalah praktik akuntansi yang mengintegrasikan informasi lingkungan ke dalam sistem pelaporan keuangan perusahaan. Sistem akuntansi konvensional selama ini hanya mengadopsi pendekatan murni finansial, tanpa memasukkan informasi lingkungan seperti biaya dampak dan pengeluaran terkait lingkungan perusahaan.

Dalam kerangka green accounting, perusahaan tidak hanya mencatat berapa biaya produksi, tetapi juga berapa biaya yang ditanggung lingkungan, mulai dari konsumsi sumber daya alam, emisi karbon, hingga biaya pemulihan ekosistem yang rusak akibat operasional bisnis.

 

Mengapa Ini Penting Sekarang?

Tekanan dari investor, regulator, dan konsumen membuat green accounting bukan lagi pilihan, melainkan keharusan strategis. Menurut survei Morgan Stanley tahun 2023, sebesar 85% investor institusional mempertimbangkan faktor ESG (Environmental, Social, and Governance) dalam memilih investasi mereka.

Tidak hanya itu, perusahaan yang memprioritaskan keberlanjutan terbukti mengungguli pesaingnya hingga 12% dalam pertumbuhan nilai saham, sementara transparansi pengungkapan lingkungan berkorelasi dengan peningkatan kepercayaan merek dan loyalitas pelanggan.

Di Indonesia sendiri, relevansi topik ini semakin meningkat. Riset terkini mengenai perusahaan publik di Indonesia menunjukkan bahwa adopsi praktik green accounting menjadi

semakin relevan di tengah meningkatnya tekanan lingkungan global dan tuntutan tata kelola perusahaan yang baik.

 

Referensi:

  • Acosta-Prado, J. C., Romero-Severiche, A. K., & Leal-Rodríguez, A. L. (2022). A framework for a green accounting system — exploratory study in a developing country context, Colombia. Environment, Development and Sustainability, 25, 6081–6106. https://doi.org/10.1007/s10668-022-02445-w
  • Dalwai, T., & Devi, S. (2024). Environmental accounting and sustainability: A meta-synthesis. Sustainability, 16(21), 9341. https://doi.org/10.3390/su16219341
  • Kusuma, W. E., Santoso, P., & Dewi, C. (2025). Green accounting implementation and its influence on corporate environmental responsibility disclosure in Indonesian public companies. Endless: International Journal of Future Studies, 8(1). https://endless-journal.com/index.php/endless/article/view/346
  • KMK Ventures. (2025). Green accounting: The future of sustainability. https://kmkventures.com/green-accounting-sustainable-financial-reportings-future/
  • Rounaghi, M. M. (2019). Economic analysis of using green accounting and environmental accounting to identify environmental costs and sustainability indicators. International Journal of Ethics and Systems, 35(4), 504–512. https://doi.org/10.1108/ijoes-03-2019-0056
  • Sari, M., et al. (2024). Management accounting strategies for environmental cost control and performance optimization in green manufacturing companies. Jurnal Ilmiah Manajemen Kesatuan. https://jurnal.ibik.ac.id/index.php/jimkes/article/view/4416
Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.