Adanya kehadiran teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di dalam sektor keuangan tekah menimbulkan pertanyaan besar di kalangan profesi akuntan yaitu apakah AI akan menggantikan peran di para auditor secara keseluruhan? Hal inilah yang diulas dalam Seminar yang diseleggarakan fdalam kegiatan CPA days 2026 di BINUS alam sutra dimana dalam hal ini juga diupas tuntas realitas adanya adopsi AI, serta bagaimana dampaknya terhadap tenaga kerja dan juga bagaimana peranan audirtor manusia akan tetap menjadi fondasi utama dalam menjaga kepercayaan di kalangan publik dan Masyarakat.
Adapun terdapat beberapa hal yang menjadi poin-poin penting dari seminar tersebut adalah :
Apakah AI akan menggantikan auditor ?
Meskipun adanya otomatisasi dapat mengambil alih beberapa tugas administratif dan mengurangi kebutuhan staf tingkat junior, terdapat bukti empiris yang menunjukkan bahwa penggantian total terhadap auditor manusia hingga saat ini belum menjadi keniscayaan. Dari riset yang ada dikatakan bahwa berdasarkan studi dari Fedyk et al. (2022) dikatakan bahwa pada 38 firma audit di AS, terjadi penurunan sebesar 7,1\% pada staf akuntansi junior empat tahun setelah peningkatan adanya investasi pada AI, namun tidak ada signifikansi penurunan pada level manajerial maupun pada level eksekutif senior.
Maka yang menjadi pertantyaaannya adalah adalah mengapa peranan auditor dari kalangan manusia tetap diperlukan ?
Terdapat beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan, yaitu :
- Adanya Pertimbangan dan Akuntabilitas (Judgment and Accountability) Dimana pihalk Auditor bertanggung jawab untuk mengevaluasi bukti yang saling bertentangan dan mengambil kesimpulan dari hasil audit. Di sini dillihat dari segi Waktu, Biaya, dan Sumber Daya Terbatas: auditor professional juga dituntut untuk melakukan evaluasi di tengah keterbatasan anggaran dan waktu yang ada dalam menggunakan penilaian secara professional. Dengan adanya peranan manusia dalam hal penilaian secara professional tersebut maka dapat dilihat adanya kecurangan dan juga kolusi yang tersembunyi yang mana untuk membongkarnya memerlukan teknik investigasi dari manusia.
- adanya Pemanfaatan AI Tools dalam Penugasan Audit (Audit Engagements). Dapat diketahui bahwa kantor jasa akuntabilitas publik global diketahui kini telah memanfaatkan berbagai perangkat berbasis AI untuk memperkuat proses audit yang ada di dalam berbagai tahapan. Diantaranya adalah yaitu kegiatan penilaian Risiko (Risk Assessment yang bertujuan juga untuk membantu dalam mengidentifikasi transaksi tidak biasa dan juga area yang berisiko tinggi melalui machine learning (contoh: adanya MindBridge di KPMG). Selain itu Langkah lain yang juga perlu dilakukan adalah dengan mekakukan analisis dokumen (Document Analysis dengan tujuan untuk Mengekstrak dan juga membandingkan informasi dari dokumen teks yang bersifat tidak terstruktur yang panjang dan juga tersebar. Dan juga langkah lainnya adalah melakukan Pengujian Audit (Audit Testing) Dimana dilakukan deteksi anomali dan menilai asumsi estimasi seperti penghapusan persediaan (inventory write-off) berdasarkan riwayat penjualan dan usia produk.
- Paradoks Perilaku: Ketika Kepercayaan Melampaui Verifikasi (Behavioral Paradox). Meskipun AI juga telah menawarkan kecepatan, konsistensi, dan kemampuan memindai pola yang terlewat oleh manusia akibat adanya kelelahan, studi dari perilak yang ada juga memperingatkan adanya berbagai jebakan yang bersifat psikologis, dmana dapat terjadi kondisi yang bersifat Automation Bias, yaitu adanya kecenderungan untuk terlalu percaya (over-reliance) pada hasil keluaran system. Sebagai contoh adalah adamya Algorithm Aversion: Menolak hasil keluaran yang benar hanya karena melihat kesalahan kecil sebelumnya dan juga Anchoring: Skor atau risiko awal dari algoritma membentuk penilaian subjektif selanjutnya. Adapun pesan Utama yang didapatkan dari paradoks ini adalah semakin canggih perangkat yang digunakan maka akan semakin disiplin pula auditor manusia yang mengendalikannya ( mheykal )
