Loading
Loading...
Menu BINUS

Moral Hazard Sebagai Bagian Dari Perilaku Internal (Tulisan Pertama)

Kita sering mendengar istilah moral hazard. Istilah ini timbul Ketika para individu dalam organisasi memutuskan untuk mengambil Tindakan yang akan memberikan keuntungan bagi mereka sendiri dan juga akan berdampak pada resiko ataupun biaya dari Tindakan tersebut= kepada orang lain dan juga bisa berdampak pada organisasi itu sendiri. Hal ini bisa terjadi dalam kondisi yang dikatakan berada di dalam asimetri informasi. Moral hazard sendiri bisa terjadi karena berbagai situasi diantaranya adalah :

  1. Karyawan mengendalikan asset yang bukan menjadi milik mereka sendiri
  2. Pihak manajer mengambil Keputusan untuk menggunakan uang yang bukan uang mereka sendiri serta
  3. Adanya harapan dari indvidu yang berharap agar kantor dan juga bukan mereka yang akan menanggung biaya dari kegagalan yang mereka kerjakan

Moral hazard tidak selalu dimulai dari niat jahat akan tetapi seringkali dimulai dari respon para individu terhadap insentif , tekanan kerja dan juga  persepsi dari pihak individu Dimana dilihat adanya peluang untuk melakukannya. Ini biasa terjadi ketika para karyawan bisa merasakan bahwa pengawasan terhadap mereka menjadi lemah yang juga diikuti dengan tidak jelasnya jalur pertanggungjawaban yang bisa menjadi pintu masuk perubahan pada perilaku yang tidak positif. Karena itu bisa dikatakan bahwa moral hazard merupakan faktor yang merepresentasikan resiko laten yang bisa terdapat dalam satu perilaku organisasi yang terjadi sehari-hari Dimana resiko akan terlihat semakin mengalami peningkatan Ketika aturan yang ada dan sudah berlaku tidak diberlakukan.

Apa dampaknya dari moral hazard bagi perusahaan ? Moral hazard menciptakan kondisi yang pada akhirnya kecurangan bisa menjadi mudah terjadi. Transisi dari moral hazard  yang berakhir pada fraud atau kecurangan biasanya terjadi secara perlahan dan juga bertahap. Bahkan bukan secara langsung. Misal diawali dengan penyimpangan dalam skala kecil yang dalam sekian lama berubah menjadi besar serta berakhir dengan kecurangan yang massif. Selain itu juga adanya tekanan yang didapatkan dari perusahaan seperti adanya target kinerja yang bersifat agresif ataupun juga dengan struktur yang intensif bisa mempercepat proses transisi ini. Ketika individu merasakan bahwa cara yang halal tidak akan cukup untuk bisa memenuhi tuntutan ataupun target mereka maka kecurangan bisa menjadi jalan mereka untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dengan begitu fraud atau kecurangan pada dasarnya merupakan satu puncak dari Kumpulan berbagai kompromi yang kecil yang akan didorong oleh konteks tenpat bekerja Dimana individu tersebut berada.

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.