Meskipun ada prediksi yang terdengar mengkhawatirkan bahwa AI akan menggantikan forensic accountants, prediksi tersebut tidak tepat. AI memang mengubah jenis pekerjaan yang dilakukan oleh forensic accountants, tetapi tidak menggantikan peran tersebut. Oleh Frank Dery, CPA – Managing Director, BRG.

Ketika saya mulai sebagai intern di bidang forensic accounting hampir 25 tahun yang lalu, pekerjaan ini terlihat sangat berbeda dibandingkan sekarang. Pada investigasi pertama saya, saya menghabiskan satu musim panas penuh duduk di ruangan tanpa jendela sambil memeriksa kotak-kotak dokumen dan ribuan halaman (secara manual) untuk mencari red flags. Saat ini, proses yang sama dapat diselesaikan hanya dalam beberapa menit dengan menggunakan teknologi dan artificial intelligence (AI) untuk mengidentifikasi red flags dan indikasi fraud lainnya.

Namun, dalam upaya cepat untuk mengadopsi alat-alat baru ini, kita harus ingat bahwa AI bukanlah pengganti professional skepticism, judgment, dan wawasan manusia—terutama ketika alat tersebut justru bisa membuka kerentanan baru. Hal ini terlihat dari klaim terbaru Anthropic bahwa teknologinya telah disalahgunakan untuk cyberattacks dan fraud. Sementara itu, risiko dalam bidang akuntansi juga semakin meningkat akibat kurangnya pengawasan yang memadai. Bahkan pada musim panas lalu, Financial Reporting Council (FRC) di Inggris menemukan bahwa enam firma akuntansi terbesar di negara tersebut “tidak secara formal memantau bagaimana alat otomatis dan artificial intelligence memengaruhi kualitas audit mereka.”

 

Dengan kata lain, meskipun AI dan teknologi lainnya dapat memproses data dalam jumlah besar yang sebelumnya membutuhkan waktu berminggu-minggu dengan usaha manual, peran forensic accountants saat ini tetap sama pentingnya seperti sebelumnya.

Melihat kembali Sarbanes-Oxley

Fokus dan diskusi saat ini mengenai AI mengingatkan saya pada diberlakukannya Sarbanes-Oxley Act (SOX) pada tahun 2002. Undang-undang ini diberlakukan setelah berbagai skandal akuntansi besar, termasuk Enron dan WorldCom. Banyak yang menganggap SOX sebagai “solusi ajaib” dalam melawan fraud. Namun dalam praktiknya, terkadang justru memberikan dampak sebaliknya—membuat pendekatan dalam mendeteksi fraud menjadi lebih mudah diprediksi.

Saya ingat pernah mewawancarai seseorang beberapa tahun setelah SOX diberlakukan. Saat itu, SOX sudah berjalan beberapa tahun dan seharusnya mampu mengurangi perilaku fraud. Namun, ketika saya bertanya bagaimana ia bisa terus melakukan fraud

tanpa terdeteksi dalam waktu lama, jawabannya justru menyoroti SOX. Menurutnya, SOX itu “bagus” karena membantunya melakukan fraud lebih lama dari yang ia perkirakan. SOX membuat audit menjadi lebih dapat diprediksi, dan setelah ia memahami akun mana yang menjadi fokus audit, ia memindahkan aktivitasnya ke area yang kecil kemungkinannya untuk diperiksa.

Pengalaman tersebut menegaskan pelajaran penting: ketika pelaku fraud memahami aturan permainan, mereka akan beradaptasi dan memanfaatkannya. Kerangka kerja yang dirancang untuk mencegah pelanggaran justru bisa menjadi panduan bagi pelaku untuk menyembunyikan aktivitas ilegal mereka jika terlalu mudah diprediksi.

AI berisiko mengalami hal yang sama, di mana teknologi yang dirancang untuk mengurangi risiko justru menciptakan risiko baru—baik karena alat tersebut membuka peluang baru bagi pelaku fraud, maupun karena dapat menimbulkan ketidakakuratan dalam accounting yang sulit dijelaskan. Sebagai contoh, laporan tahun 2024 dari Center for Audit Quality menyebutkan bahwa sifat “black box” dari AI membuat sulit untuk memahami bagaimana dan mengapa alat tersebut menghasilkan kesimpulan tertentu. Selain itu, ada kekhawatiran bahwa AI yang dilatih berdasarkan kasus fraud di masa lalu mungkin tidak mampu mendeteksi pola baru yang dirancang untuk menembus sistem pengamanan yang ada.

AI sebagai Pedang Bermata Dua

Forensic accounting di era AI menghadirkan peluang sekaligus tantangan. AI memberikan banyak keunggulan bagi forensic accountants:

  • Kecepatan – data dalam jumlah besar dapat diproses dalam hitungan menit, bukan minggu.
  • Pengenalan pola – AI dapat mengidentifikasi pola dan anomali yang mungkin tidak terlihat oleh manusia.
  • Pemantauan berkelanjutan – jutaan transaksi di berbagai wilayah dapat dipantau dan diberi skor risiko (risk-scored) secara real time.
  • Pengujian hipotesis – forensic accountants dapat menguji hipotesis untuk menemukan titik lemah (blind spots).

Kemampuan ini membuat investigasi menjadi lebih cepat dan memungkinkan forensic accountants untuk lebih fokus pada strategi daripada pekerjaan yang berulang.

Namun, tantangan dan risiko penggunaan AI juga sama besarnya:

  • False positives – meskipun unggul dalam mendeteksi kejanggalan, tidak semua anomali adalah fraud; bisa saja hanya kesalahan. Tanpa peninjauan manusia, hal ini bisa mengganggu investigasi.
  • Manipulasi sistem – seperti pada SOX, ketika pelaku memahami cara kerja algoritma atau penilaian risiko, mereka dapat merancang skema untuk menghindari deteksi.
  • AI-assisted fraud – pelaku fraud sudah menggunakan AI untuk membuat transaksi palsu, memalsukan dokumen, bahkan membuat deepfake untuk menghambat investigasi.
  • Ketergantungan berlebihan pada otomatisasi – terlalu percaya pada hasil AI tanpa verifikasi dapat menyebabkan terlewatnya hal-hal penting yang hanya bisa dipahami melalui konteks dan professional skepticism. Hal ini menjadi lebih bermasalah jika perusahaan tidak memiliki ukuran kinerja atau indikator untuk menilai dampak AI terhadap audit.

Karakteristik yang membuat AI kuat dalam melawan fraud—kecepatan, konsistensi, dan skalabilitas—juga membuatnya berbahaya jika hasilnya diterima tanpa analisis lebih lanjut.

Mengapa AI Tidak Akan Menggantikan Forensic Accountants

Meskipun ada prediksi bahwa AI akan menggantikan forensic accountants, hal tersebut tidak tepat. AI mengubah jenis pekerjaan mereka, tetapi tidak menggantikan perannya.

AI dapat mengidentifikasi aktivitas yang tidak biasa, tetapi hanya profesional yang dapat menentukan apakah anomali tersebut benar-benar penting dan perlu diselidiki atau bisa dijelaskan. Forensic accountants memberikan konteks yang sangat penting:

  • Menafsirkan hasil sesuai dengan kondisi bisnis.
  • Menimbang bukti yang saling bertentangan dari berbagai sumber.
  • Menerapkan professional skepticism untuk membedakan pola yang benar-benar perlu diselidiki dengan “noise”.
  • Menjelaskan temuan secara jelas kepada pihak pengambil keputusan.

Meskipun pengadilan dan regulator tertarik pada algoritma dan metode yang digunakan oleh AI, pada akhirnya mereka tetap mengharapkan forensic accountant untuk menjelaskan hasilnya. AI tidak bisa bersumpah atau menghadapi pemeriksaan silang (cross-examination). Kesaksian membutuhkan kredibilitas, pertimbangan, dan kemampuan menjelaskan hal teknis menjadi mudah dipahami—semua ini tetap menjadi peran utama forensic accountants.

Elemen Manusia

Yang paling penting, AI tidak dapat menggantikan elemen manusia dalam investigasi. Seorang rekan kerja saya pernah mengatakan, “tidak mungkin mengajarkan seseorang untuk memiliki pengalaman 30 tahun,” dan itu benar. Fraud memiliki banyak bentuk dan

alasan di baliknya bisa sangat kompleks, tetapi pada akhirnya, fraud harus dihadapi oleh manusia, bukan mesin.

Hal ini paling terlihat saat melakukan wawancara. Forensic accountant menggunakan pengalaman bertahun-tahun untuk membaca tanda verbal dan non-verbal seperti bahasa tubuh, dialog, dan reaksi. Kemampuan untuk menyesuaikan pertanyaan secara langsung dapat membuka informasi yang tidak akan bisa dikenali oleh AI. Selain itu, banyak terobosan investigasi justru berasal dari hal-hal yang tidak diucapkan oleh narasumber, dan hanya profesional berpengalaman yang dapat memahami hal tersebut secara langsung.

AI dapat membantu menyusun daftar pertanyaan, tetapi tidak dapat menggantikan pengalaman forensic accountant dalam situasi nyata.

Melihat ke Depan

Seiring forensic accountants semakin memanfaatkan AI dalam investigasi, mereka juga akan menghadapi tanggung jawab baru:

  • Menghindari prediktabilitas – seperti SOX, AI juga bisa menjadi mudah diprediksi dan dimanfaatkan oleh pelaku fraud.
  • Mengembangkan keahlian – forensic accountant di masa depan perlu menggabungkan keahlian accounting, pemahaman hukum, dan kemampuan data science.
  • Menjaga transparansi – hasil AI harus dapat dijelaskan, terutama di pengadilan atau di hadapan regulator.
  • Mengantisipasi evolusi fraud – seiring investigator menggunakan AI, pelaku fraud juga akan melakukan hal yang sama.

Kesimpulan

AI telah mengubah cara kerja forensic accountants—kemampuan untuk menganalisis data dalam jumlah besar secara instan dan mengidentifikasi transaksi berisiko tinggi menjadi titik perubahan besar dalam industri ini. Hal ini memungkinkan mereka untuk lebih fokus pada strategi kasus dan layanan bernilai tambah lainnya.

Namun, bersama peluang tersebut, muncul juga risiko baru. Pelajaran dari SOX tidak boleh diabaikan—pelaku fraud tidak akan berhenti hanya karena ada AI. Mereka akan mempelajari algoritma, beradaptasi, dan mencari cara untuk memanfaatkan kelemahan

dalam sistem.

Pada akhirnya, AI tidak akan menggantikan forensic accountant, tetapi akan mengubah profesi tersebut. Profesional yang paling efektif adalah mereka yang mampu memanfaatkan AI sebagai alat, sambil tetap menjaga professional skepticism,

pertimbangan, dan pengalaman manusia yang tidak dapat digantikan oleh teknologi. Seperti halnya SOX yang mengubah lanskap kepatuhan tetapi tidak menghilangkan fraud, AI akan terus mengubah investigasi, tetapi tidak akan pernah sepenuhnya menghilangkan fraud. Peluang bagi forensic accountants adalah memanfaatkan kekuatan AI sambil tetap menempatkan wawasan manusia sebagai inti dalam mengungkap kebenaran.

Referensi:

  • CPA 2025. https://www.cpapracticeadvisor.com/2025/10/15/forensic-accounting-in-the-age-of-ai-opportunities-and-risks-2/170853/