Pemimpin Bisnis Menilai AI sebagai Solusi Tantangan Iklim, Bukan Ancaman
Artificial Intelligence (AI) semakin dipandang sebagai bagian dari solusi perubahan iklim, bukan sebagai penghambatnya. Temuan ini terungkap dalam laporan terbaru KPMG International berjudul AI’s Dual Promise: Enabling Positive Climate Outcomes and Powering the Energy Transition, yang dirilis bertepatan dengan hari pertama COP30 di Brasil. Survei terhadap lebih dari 1.200 eksekutif senior dari berbagai industri di 20 negara menunjukkan optimisme kuat bahwa AI dapat mempercepat transisi energi dan pencapaian target net zero global.
Mayoritas responden menyatakan keyakinan bahwa energi bersih mampu memenuhi kebutuhan energi AI di masa depan. Sebanyak 96% eksekutif percaya bahwa sumber energi terbarukan dapat menopang permintaan AI yang terus meningkat, sementara 87% menilai AI sebagai elemen sentral dalam strategi pencapaian net zero organisasi mereka. Bahkan, 97% responden menyebut AI sebagai kekuatan bersih yang berdampak positif terhadap percepatan dekarbonisasi. Namun demikian, hanya sebagian kecil perusahaan yang menjadikan penggunaan energi bersih sebagai syarat mutlak, meskipun hal tersebut berpotensi memperlambat proyek atau meningkatkan biaya.
Di sisi lain, laporan KPMG juga menyoroti kesenjangan antara ambisi dan implementasi. Meskipun keyakinan terhadap AI sangat tinggi, kemajuan masih terhambat oleh keterbatasan infrastruktur, kebijakan, dan pendanaan. Sekitar sepertiga responden mengidentifikasi keterbatasan jaringan listrik sebagai risiko utama, sementara banyak proyek energi bersih terhambat oleh proses perizinan dan pembangunan yang lambat. Selain itu, mayoritas eksekutif menilai bahwa kebijakan publik belum cukup cepat mengikuti laju inovasi AI, sehingga menciptakan ketidakpastian dan menunda investasi strategis di sektor energi berkelanjutan.
Permintaan energi dari pusat data juga menjadi tantangan signifikan. Proporsi konsumsi energi terkait AI di pusat data diperkirakan meningkat tajam dari 8% saat ini menjadi 36% dalam tiga tahun ke depan. Kondisi ini mempertegas kebutuhan akan transformasi sistem energi yang lebih cerdas dan berkelanjutan. Para pemimpin bisnis melihat peluang besar di balik tantangan tersebut, terutama dalam pemanfaatan AI untuk meningkatkan peramalan energi, efisiensi jaringan, serta perencanaan infrastruktur yang lebih adaptif terhadap transisi energi bersih.
Secara keseluruhan, laporan ini menunjukkan bahwa dunia usaha tidak melihat AI sebagai penghalang bagi agenda iklim, melainkan sebagai katalis penting. Tantangan utama ke depan bukanlah memperlambat perkembangan AI, melainkan memastikan bahwa kebijakan, inovasi, dan investasi bergerak seiring untuk mengarahkan pertumbuhan AI secara bijak. Dengan
pendekatan yang tepat, AI berpotensi menjadi salah satu sekutu terkuat dalam membangun sistem energi yang lebih bersih, efisien, dan berkelanjutan secara global.
Referensi:
- KPMG. (2025). Business leaders say AI is the climate challenge solution, not the problem. https://kpmg.com/xx/en/media/press-releases/2025/11/business-leaders-say-ai-is-the-climate-challenge-solution-not-the-problem.html
Comments :