Survei Global Economic Conditions Survey (GECS) yang dilakukan oleh ACCA dan Institute of Management Accountants (IMA) menunjukkan bahwa para profesional keuangan memasuki tahun 2026 dengan sentimen yang cenderung pesimistis terhadap prospek ekonomi global. Survei yang melibatkan hampir 1.200 akuntan dan profesional keuangan ini mencatat bahwa tingkat kepercayaan global sepanjang 2025 berada pada level yang lemah dan relatif stagnan, meskipun sedikit membaik dibandingkan titik terendah pada kuartal pertama 2025. Kondisi ini mencerminkan kehati-hatian yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Salah satu indikator utama, Global New Orders Index, mengalami penurunan untuk kuartal ketiga berturut-turut dan mencapai level terendah sejak masa pascapandemi. Penurunan ini meningkatkan risiko moderasi pertumbuhan ekonomi global, meskipun indeks tersebut masih berada di atas level terendah yang tercatat selama pandemi. Sementara itu, kepercayaan di kalangan Chief Financial Officers (CFO) menunjukkan sedikit perbaikan, namun tetap berada di bawah rata-rata historis, menandakan bahwa perusahaan masih mengambil sikap defensif dalam pengambilan keputusan bisnis.

Jonathan Ashworth, Chief Economist ACCA, menyatakan bahwa sikap hati-hati ini muncul di tengah lingkungan global yang sangat tidak pasti. Meskipun perekonomian global menunjukkan kinerja yang lebih baik dari perkiraan pada 2025 dan diperkirakan tetap relatif tangguh pada 2026—didukung oleh pelonggaran kebijakan moneter, penguatan pasar saham, stimulus fiskal di sejumlah negara, serta pesatnya perkembangan kecerdasan buatan—berbagai risiko tetap membayangi, terutama yang bersumber dari ketegangan geopolitik global yang cenderung berdampak negatif.

Survei juga mengungkap perbedaan sentimen antarwilayah. Kepercayaan meningkat di kawasan Asia Pasifik, sementara Amerika Utara justru mengalami penurunan. Menurut Alain Mulder dari IMA, sentimen negatif di Amerika Utara dipengaruhi oleh tingginya tarif impor, ketidakpastian kebijakan, dan suku bunga yang masih tinggi. Hal ini tercermin dalam Indeks Ketenagakerjaan dan Belanja Modal yang berada pada level sangat rendah, bahkan Indeks Ketenagakerjaan di Amerika Utara mencapai rekor terendah pada kuartal keempat 2025, melampaui level terburuk saat pandemi.

Selain risiko ekonomi, para akuntan juga mengidentifikasi tekanan ekonomi, gangguan siber, dan ketidakpastian geopolitik sebagai prioritas risiko utama. Namun demikian, tingkat kesiapan organisasi dalam menghadapi guncangan non-keuangan seperti serangan siber, fraud, dan pelanggaran etika dinilai masih moderat. Temuan ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kesadaran risiko dan kesiapan institusional. Ashworth menegaskan bahwa meskipun indikator saat ini belum mengarah pada perlambatan besar, rendahnya kepercayaan dan tingginya kehati-hatian korporasi dapat memperbesar dampak negatif apabila terjadi

guncangan global baru, yang berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global secara lebih signifikan.

 

Referensi:

  • ACCA (2026, Janury 15). Accountants enter 2026 downbeat on global economic prospects. https://www.accaglobal.com/gb/en/news/2026/January/GECS_Q42025.html