Perubahan lanskap kejahatan finansial kini berlangsung lebih cepat dari sebelumnya. Teknologi kecerdasan buatan (AI) yang awalnya dirancang untuk meningkatkan efisiensi dan keamanan, kini justru dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk menembus pertahanan perbankan. Serangan menjadi semakin canggih, realistis, dan sulit dideteksi. Namun di sisi lain, banyak lembaga keuangan masih bertumpu pada sistem keamanan lama dengan pembagian tanggung jawab yang belum jelas serta sumber daya yang terbatas.

Menurut laporan terbaru Grant Thornton, solusi yang mulai diterapkan untuk menghadapi ancaman ini adalah fraud resiliency assessment, yaitu proses evaluasi yang membantu bank menilai kemampuan mereka dalam mendeteksi dan merespons risiko penipuan secara cepat. Penilaian ini tidak berfokus pada pencapaian kesempurnaan, melainkan pada peningkatan tingkat kematangan organisasi dalam mengelola risiko. Seperti dikemukakan oleh Zachary S. Snickles, Partner Risk Advisory Services di Grant Thornton Advisors LLC, “Mengalami insiden bukanlah kegagalan, tetapi kegagalan yang sesungguhnya adalah tidak belajar dari insiden tersebut.”

Tantangan utama bank saat ini bukan hanya pada meningkatnya frekuensi serangan, tetapi juga kompleksitas sistem internal mereka sendiri. Banyak lembaga masih memiliki pendekatan yang terfragmentasi terhadap risiko penipuan, di mana setiap divisi bekerja secara terpisah tanpa koordinasi lintas fungsi. Hal ini menyebabkan komunikasi ancaman menjadi lambat dan respons menjadi tidak efektif.

Paul Avinger, Senior Manager di Grant Thornton, menegaskan bahwa semua lini organisasi harus terlibat dalam pertahanan terhadap fraud. “Setiap unit yang berinteraksi dengan pelanggan memiliki tanggung jawab dalam melindungi institusi dari penipuan,” ujarnya. Dalam era digitalisasi dan layanan berbasis cloud, seluruh titik kontak dengan pelanggan kini menjadi bagian dari attack surface—area yang dapat dieksploitasi oleh pelaku kejahatan. Karena itu, pendekatan kolaboratif lintas departemen antara keamanan siber, kepatuhan, manajemen risiko, dan tim operasional menjadi kunci untuk menciptakan sistem pertahanan yang berkelanjutan.

Referensi:

  • Grant Thornton (2025, October 13). Fraud is changing. Are banks ready? https://www.grantthornton.com/insights/articles/banking/2025/fraud-is-changing-are-banks-ready