Keunggulan Akuntan Dibandingkan dengan Teknologi dalam Pencegahan Kecurangan
Fraud (kecurangan) menyebabkan kerugian senilai miliaran dolar bagi dunia usaha setiap tahun dan berdampak luas terhadap perekonomian global. Meskipun kemajuan teknologi telah membantu dalam pengelolaan risiko, akar permasalahan terkait kerentanan sistem masih belum sepenuhnya terselesaikan. Berdasarkan laporan Report to the Nations 2024 dari Association of Certified Fraud Examiners (ACFE), tercatat bahwa 29% kasus fraud disebabkan oleh lemahnya pengendalian internal. Tanpa sistem yang efektif, perusahaan tetap berada dalam posisi yang rentan terhadap potensi risiko besar.
Usaha kecil dan menengah (UKM) memiliki peran penting dalam pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja, namun lebih rentan terhadap fraud. Keterbatasan sumber daya sering kali berakhir pada kepatuhan struktur yang lemah. Terlebih lagi, satu kasus kecurangan di lingkungan kerja (occupational Fraud) dapat menyebabkan kerugian finansial yang sulit ditanggung oleh sebagian besar UKM.
Meskipun otomatisasi, kecerdasan buatan (AI), dan data analitik mampu mendeteksi anomali, alat-alat tersebut tidak dapat membentuk budaya etika dalam organisasi. Perilaku manusia tetap menjadi faktor utama dalam terjadinya maupun pencegahan kecelakaan. Laporan ACFE menunjukkan bahwa 42% kasus kecurangan terungkap melalui pelaporan karyawan bukan melalui sistem, yang menunjukkan pentingnya budaya organisasi yang kuat dan mendorong karyawan untuk melaporkan adanya kecurangan.
Akuntan berperan penting dalam menjembatani kesenjangan ini. Mereka merancang dan menerapkan pengendalian internal, membangun hubungan pelaporan yang aman, serta merancang praktik etis dalam operasional bisnis sehari-hari. Keahlian akuntan memastikan bahwa teknologi digunakan sebagai pendukung, bukan sebagai pengganti, dalam pencegahan kecelakaan yang cermat. Tanpa keterlibatan akuntan aktif, organisasi berisiko terlalu bergantung pada pemeliharaan teknologi yang pasif.
Pencegahan kecurangan menuntut lebih dari sekadar analisis data; juga membutuhkan kepemimpinan, pengembangan budaya, dan wawasan strategi jangka panjang. Ilmu ekonomi perilaku menunjukkan bahwa bias kognitif seperti omission bias (kecenderungan mengabaikan tindakan yang tidak dilakukan) dan loss aversion (ketakutan akan merugikan) sering kali menghambat pengambilan keputusan. Banyak perusahaan yang menjamin pemenuhannya bukan karena ketidaktahuan, melainkan karena hambatan psikologis yang membuat pengakuan atas kerentanan menjadi hal yang sulit. Akuntan yang memahami dinamika perilaku ini lebih siap untuk memimpin organisasi dalam menghadapi tantangan emosional dan operasional guna membangun perlindungan yang lebih kuat.
Akuntan modern harus mampu menggabungkan ketelitian teknis dengan pemahaman terhadap perilaku manusia. Peran akuntan tidak lagi terbatas pada penyusunan laporan keuangan, tetapi juga mencakup mengarahkan perilaku organisasi, mendorong transparansi, dan membentuk lingkungan kerja di mana integritas dan etika menjadi standar.
Akuntan bukan hanya sekedar teknisi keuangan; akuntan adalah penjaga integritas ekonomi. Kepemimpinan akuntan sangat penting untuk membangun organisasi yang tangguh dalam menghadapi kompleksitas dunia keuangan saat ini. Dengan menggabungkan alat teknologi, wawasan manusia, dan pemahaman terhadap tantangan perilaku, akuntan memastikan bahwa upaya pencegahan penipuan menjadi kuat, adaptif, dan berkelanjutan.
Referensi:
- Accounting Today. 2025. AT Think The accountant’s advantage over technology in fraud prevention. https://www.accountingtoday.com/opinion/the-accountants-advantage-why-fraud-prevention-needs-more-than-technology
Comments :