Loading
Loading...
Menu BINUS

Aspek Perilaku Dalam Proses Audit (Tulisan Pertama)

Dalam rangka untuk melihat dan memahami aspek perilaku yang perlu diperhatikan dalam proses audit, maka ada beberapa hal yang perlu untuk diperhatikan. Tulisan ini mencoba untuk mengangkat dan menulis berbagai aspek yang perlu untuk diperhatikan dalam kaitannya dengan perilaku dalam proses audit. Diantaranya adalah :

Memperhatikan faktor hubungan antara pihak auditor dan juga auditan dengan Trust yang berlaku : Dalam konteks perlu dilihat bahwa hubungan antara auditor dengan kliennya merupakan satu hubungan yang sangat kompleks . Di satu sisi pihak auditor akan sangat tergantung pada pihak manajemen atau auditan karena hanya dari pihak manajemenlah pihak auditor dapat menerima penjelasan dan juga berbagai dokumen pendukung yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas yang diperlukannya. Akan tetapi di sisi lain pihak auditor juga dituntut untuk bisa menjaga independensi dan juga obyektifitas dalam rangka melakukan evaluasi terhadap informasi yang diberikan oleh pihak manajemen. Dan dari sini terlihat bahwa interaksi antara auditor dan pihak manajemen atau klien tidak berupa interaksi yang sangat teknis akan tetapi lebih ke arah interaksi yang bersifat sosial. Dari sini terlihat bahwa interaksi yang dijalankan ini dapat terjadi persuasi, manajemen impresi dan juga dinamika kekuatan yang kadangkala tidak terlihat secara jelas.

Seperti diketahui daam kegiatan audit terdapat beberapa kegiatan yang biasanya ditemukan dalam satu proses audit , yaitu :

  1. Melakukan evaluasi atas kredibilitas dari pihak manajemen
  2. Melakukan penilaian resiko berdsarkan atas informasi yang ada
  3. Melakukan penetapan atas berbagai bukti yang sudah dikumpulkan apakah dianggap sudah mencukupi arau tidak
  4. Melakukan penetapan opini tentang berbagai masalah yang ada yang seringkali bisa bersifat ambigu

Adapun bagaimana melihat secara keseluruhan aspek yang ada dalam perilaku dan audit maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :

  1. Melihat interaksi antara auditor dan klien. Dalam hal ini pada dasarnya hubungan yang terjadi antara auditor dan klien merupakan satu aspek yang sangat kompleks. Dalam hal ini hubungan yang ada merupakan peran yang ganda yang mana mengkombinasikan antara kerja sama serta adanya jarak yang perlu dijaga yang bersfat professional. Secara umum interaksi yang terjadi antara pihak auditor dan pihak klien bukanlah interaks yang murni bersifat teknis akan tetapi lebih merupakan interaksi yang bersifat sosial dmana antara pihak auditor dengan pihak klien terlibat komunikasi yang Sangat intens selama proses audit ini berlangsung.
  2. Adanya faktor kepercayaan, yang merupakan elemen yang bermata dua. Pada dasarnya merupakan komponen yang harus ada dalam proses audit. Dalam menjalankan pekerjaannya pihak auditor membutuhkan kepercayaan pada Tingkat yang sangat mendasar. Meskipun demikian kepercayaan juga merupakan satu elemen pisau yang bermata dua, Dimana dengana adanya trust dapat juga mendorong proses efisiensi dari audit itu sendiri. Akan tetapi trust juga merupakan hal yang sangat rawan terhadap adanya bias serta juga bisa menciptakan adanya kelalalaian dalam satu proses audit. Dalam riset yang berkaitan dengan perilaku dikatakan bahwa trust atau kepercayaan dapat menghasilkan satu konfirmasi yang berupa bias Dimana auditor akan selektif untuk mencari berbagai bukti yang ada yang dapat mendukung akan hal disampaikan oleh pihak manajemen saja serta bisa membuat mereka ( auditor ) tidak memperhatikan resiko yang dapat dihasilkan dari peristiwa salah saji secara material.
  3. Adanya potensi ancamam keakraban dan juga ikatan sosial. Ini bisa terjadi bila antara auditor dan juga auditan terdapat hubungan yang intens serta juga berlangsung dalam waktu yang juga cukup lama, terutama bila melalui proses audit yang dilakukan yang berulang, Dimana di dalamnya adalah adanya hubungan pertemanan dan juga empati serta adanya sikap yang harus saling menghormati antara kedua belah pihak. Dalam hal ini adanya ikatan yang bersifat kekeluargaan dan juga perkawanan dapat memberikan manfaat bagi komunikasi dan juga kerja sama yang ada, akan tetapi hubungan ini juga memiliki resiko terhadap independensi yang dilakukan oleh auditor. Atas dasar itulah maka dalam hal ini sangat diperlukan respon yang jelas dari pihak regulator untuk bisa mengatasi ancaman yang bisa muncul dari masalah ini. Diantaranya adalah dengan melakukan rotasi pada partner yang dilakukan secara berkala.
  4. Permasalahan faith syndrome. Merupakan suatu kondisi yang mengacu pada posisi pihak auditor benar-benar memiliki rasa percaya diri yang sangat berlebihan terhadap integritas dan juga kompetensi dari klien mereka. Sindrom ini dapat terjadi karenan adanya pengalaman yang positif dari pihak klien yang seringkali terjadi secara berulang, Dimana pihak auditor selalu berhadapan dengan pihak manajemen yang selalu kooperatif sehingga tidak pernah ada masalah yang muncul. Hal ini bisa berbahaya karena berakibat bahwa pihak auditor tidak akan menjalankan tugasnya secara professional karena meyakini adanya perasaan aman dan nyaman akibat dari Kerjasama yang terjadi di masa sebelumnya ( mheykal )

Referensi : Anies Lastiati, The Human Side Of Accounting

Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.