Ketika kita membaca sebuah laporan keuangan suatu perusahaan, yang pertama kali kita lihat pasti adalah angka keuntungan/laba yang dihasilkan oleh Perusahaan tersebut. Para pemangku kepentingan juga sering kali melakukan hal yang sama. Investor membutuhkan nilai laba yaitu untuk menilai kinerja perusahaan, kreditur menggunakannya sebagai bahan pertimbangan sebagai penilaian terhadap perusahaan dalam memenuhi kewajibannya, sementara manajemen menggunakan pencapaian laba sebagai tolok ukur atau indikator keberhasilan perusahaan.
Namun, angka laba yang tercantum dalam laporan keuangan tidak sesederhana kelihatannya. Manajemen memiliki ruang untuk menggunakan berbagai pertimbangan dan estimasi dalam proses penyusunan laporan keuangan. Dalam kondisi tertentu, pilihan tersebut dapat memengaruhi angka laba yang dilaporkan. Praktik inilah yang sering dikaitkan dengan earnings management atau manajemen laba.
Jika membicarakan earnings management sering kali hal ini dianggap sama dengan manipulasi laporan keuangan atau bahkan sampai pada tahap fraud yang mana masuk kategori financial statement fraud. Padahal keduanya adalah hal yang tidak sama.
Earnings management (manajemen laba) merupakan perekayasaan laba yang dilakukan oleh manajemen dalam proses penyusunan laporan keuangan dalam menyusun transaksi tertentu hingga memengaruhi informasi dalam laporan keuangan. Salah satu definisi yang banyak digunakan berasal dari Healy dan Wahlen (1999), yang menjelaskan earnings management sebagai penggunaan judgment dalam pelaporan keuangan dan penyusunan transaksi untuk mengubah laporan keuangan, baik untuk memengaruhi persepsi stakeholder mengenai kinerja ekonomi perusahaan maupun untuk memengaruhi hasil kontraktual yang bergantung pada angka akuntansi.
Motivasi earnings management dapat beragam. Manajemen mungkin ingin mencapai target laba, memenuhi ekspektasi investor, memenuhi persyaratan tertentu dalam kontrak, mempertahankan reputasi perusahaan, atau menunjukkan kinerja yang lebih stabil.
Berbeda dengan earnings management, financial statement fraud merupakan tindakan yang secara sengaja menyebabkan laporan keuangan salah saji atau penghilangan informasi yang material sehingga dapat menyesatkan pengguna laporan keuangan. Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) menempatkan financial statement fraud sebagai salah satu dari tiga kategori utama occupational fraud, bersama dengan asset misappropriation dan corruption. Financial statement fraud berkaitan dengan intentional misstatement atau omission of material information dalam laporan keuangan.
Batas antara keduanya tidak selalu dapat dilihat hanya dari perubahan angka dalam laporan keuangan. Kita perlu melihat dasar keputusan, kepatuhan terhadap standar akuntansi, kewajaran judgment, serta adanya unsur kesengajaan untuk menghasilkan informasi yang menyesatkan.
Referensi:
- Healy, P. M., & Wahlen, J. M. (1999). A review of the earnings management literature and its implications for standard setting. Accounting Horizons, 13(4), 365–383. https://doi.org/10.2308/acch.1999.13.4.365
- Association of Certified Fraud Examiners. (n.d.). Report to the Nations Archive. https://www.acfe.com/fraud-resources/report-to-the-nations-archive
- Nasir, N. a. B. M., Ali, M. J., & Nawi, N. B. C. (2019). Studies on earnings management and financial statement fraud in corporate firms. Research in World Economy, 10(2), 15. https://doi.org/10.5430/rwe.v10n2p15
