Loading
Loading...
Menu BINUS

Mengulik Skandal WorldCom Melalui Perspektif The Perfect Storm (2/2)

3. Misplaced Incentives

Sistem insentif yang berorientasi pada pencapaian target laba dan harga saham juga berkontribusi terhadap terjadinya fraud. Keberhasilan manajemen sering diukur berdasarkan kinerja keuangan perusahaan sehingga terdapat dorongan untuk mempertahankan citra perusahaan di mata pasar. Ketika target tidak dapat dicapai secara normal, manipulasi laporan keuangan dianggap sebagai jalan pintas untuk memenuhi ekspektasi tersebut.

4. Greed

Selain tekanan bisnis, dapat dilihat juga bahwa ada faktor keserakahan (greed) yang terlihat dalam kasus WorldCom, dimana Manajemen berusaha mempertahankan posisi, bonus, serta keuntungan finansial yang bergantung pada performa perusahaan. Yang mana ini menunjukkan bahwa, kepentingan pribadi lebih diutamakan dibandingkan penyajian laporan keuangan yang jujur dan transparan kepada para pemangku kepentingan.

5. Focus on Accounting Rules Rather Than Principles

Dalam melakukan manipulasi, WorldCom memanfaatkan perlakuan akuntansi dengan mengklasifikasikan line costs yang seharusnya diakui sebagai beban operasional menjadi aset (capital expenditure). Perlakuan tersebut membuat laba perusahaan tampak lebih tinggi dari kondisi sebenarnya. Kasus ini menunjukkan bagaimana fokus pada aturan akuntansi secara teknis tanpa memperhatikan substansi ekonomi transaksi dapat membuka peluang terjadinya financial statement fraud.

6. Lack of Auditor Independence

Manipulasi laporan keuangan WorldCom juga berlangsung cukup lama sebelum akhirnya terungkap, ini menunjukkan bahwa mekanisme pengawasan, baik dari auditor maupun tata kelola perusahaan, belum berjalan secara efektif. Kurangnya independensi dan skeptisisme profesional auditor menjadi salah satu faktor yang memungkinkan kecurangan tersebut tidak segera terdeteksi.

 

Dari perspektif The Perfect Storm ini, kita dapat lihat bahwa skandal WorldCom tidak hanya disebabkan oleh satu faktor. Tekanan, utang, sistem, keserakahan, hingga lemahnya pengawasan menjadi kombinasi faktor yang akhirnya mendorong terjadinya fraud hingga menyebabkan skandal keuangan yang besar. Kasus ini menjadi pengingat bahwa pencegahan fraud juga memerlukan penerapan tata kelola perusahaan yang baik, pengendalian internal yang efektif, dan budaya etika yang kuat.

 

  • International Banker. (2021, September 29). The WorldCom Scandal (2002). https://internationalbanker.com/history-of-financial-crises/the-worldcom-scandal-2002/
  • Faktor penyebab berkembangnya kecurangan laporan keuangan. (2022, November 21). https://accounting.binus.ac.id/2022/11/21/faktor-penyebab-berkembangnya-kecurangan-laporan-keuangan/
  • Brennan, N. M., & McGRATH, M. (2007). Financial Statement Fraud: Some Lessons from US and European Case Studies. Australian Accounting Review, 17(42), 49–61. https://doi.org/10.1111/j.1835-2561.2007.tb00443.x
Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.