Loading
Loading...
Menu BINUS

Audit di Era Digital: Kenapa Auditor Kini Harus Paham Cybersecurity (part 1/2)

Selama puluhan tahun, pekerjaan auditor identik dengan satu hal: memeriksa angka. Laporan keuangan, buku besar, rekonsiliasi bank, semuanya berputar di sekitar dokumen dan spreadsheet. Namun dunia sudah berubah. Kini, sebagian besar data keuangan perusahaan tersimpan dalam sistem cloud, diproses oleh software ERP, dan dipertukarkan melalui jaringan digital yang rentan terhadap ancaman siber. Di sinilah muncul sebuah pertanyaan penting: apakah auditor yang tidak memahami cybersecurity masih relevan di era ini?

 

Ketika Audit Bertemu Ancaman Siber

Pemahaman akuntansi tradisional saja tidak lagi membekali para profesional audit untuk menghadapi tantangan digital. Saat ini, tim audit dituntut memiliki kemampuan lintas fungsi, mulai dari pemahaman basis data, kemampuan membaca arsitektur sistem, hingga pengetahuan praktis tentang keamanan IT.

Hal ini bukan sekadar tuntutan ideal. Serangan siber membawa risiko operasional, finansial, dan reputasi yang sangat serius. Organisasi kini harus memprioritaskan kerangka keamanan yang kuat untuk menghadapi ancaman yang terus berkembang, sementara kesenjangan keahlian di bidang cybersecurity tetap menjadi tantangan besar.

Angkanya pun berbicara. Menurut IBM, rata-rata biaya global dari satu insiden kebocoran data pada tahun 2024 mencapai USD 4,9 juta, meningkat 10% dibanding tahun sebelumnya dan menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah. Ketika satu serangan siber bisa menelan biaya sebesar itu, auditor yang tidak mampu mengevaluasi pertahanan keamanan sistem sebuah perusahaan adalah auditor yang bekerja dengan titik buta yang sangat besar.

 

Cybersecurity Audit: Lebih dari Sekadar IT

Banyak yang mengira bahwa urusan cybersecurity adalah ranah eksklusif divisi IT. Padahal, audit siber adalah pemeriksaan sistematis terhadap infrastruktur teknologi informasi sebuah organisasi yang bertujuan mengidentifikasi dan pada akhirnya memitigasi risiko keamanan. Cakupannya mencakup kebijakan keamanan informasi, kontrol akses, enkripsi data, hingga prosedur respons insiden.

Artinya, seorang auditor kini harus mampu memahami dan mengevaluasi hal-hal seperti apakah kontrol akses ke sistem keuangan sudah memadai, apakah data sensitif dienkripsi dengan standar yang benar, dan apakah perusahaan memiliki rencana pemulihan yang teruji jika terjadi serangan ransomware. Pengujian atas celah dalam perlindungan siber kini sudah

menjadi prioritas utama dalam audit, bukan lagi tugas tambahan. Auditor bahkan perlu memeriksa kepatuhan terhadap kerangka standar seperti NIST, ISO 27001, atau SOC 2.

 

Referensi:

  • Deloitte. (2025). Global internal audit hot topics 2025: Risks and opportunities. https://www.deloitte.com/us/en/services/audit-assurance/articles/internal-audit-hot-topics-2025-risks-and-opportunities.html
  • Hammel, J. (2025, April 28). Auditing in the digital age: Challenges and opportunities. https://jeffreyhammel.com/auditing-in-the-digital-age-challenges-and-opportunities/
  • Hyperproof. (2025, April 18). The future of auditing: What to look for in 2025. https://hyperproof.io/resource/the-future-of-auditing-2025/ ISACA. (2024). Six benefits of a cybersecurity audit. https://www.isaca.org/resources/news-and-trends/industry-news/2024/six-benefits-of-a-cybersecurity-audit
  • Becker Professional Education. (2025, October 22). Auditing trends you should know for 2026. https://www.becker.com/blog/cia/auditing-trends-2026
  • ACI Learning. (2025). 5 skills every internal auditor should focus on in 2025. https://www.acilearning.com/blog/5-skills-every-internal-auditor-should-focus-on-in-2025/
  • Cybersecurity Education. (2026, January 13). How to become a cyber security auditor. https://www.cybersecurityeducation.org/careers/security-auditor/
  • IBM Security. (2024). Cost of a data breach report 2024. IBM Corporation.
Tinggalkan Komentar

Komentar Anda akan ditampilkan setelah melalui proses moderasi.