Dampak Ekonomi Perang Timur Tengah Bagi Indonesia
Tidak ada hujan tidak ada angin akan tetapi tahun 2026 ini sudah berkali-kali memberikan kejutan bagi dunia internasional. Kejutan pertama Adalah dalam bidang politik internasional yang menimbulkan ketegangan di benua Amerika, yaitu Ketika Di awal tahun pasukan keamanan negara Amerika Serikat menumbangkan dan menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dari istanananya langsung dengan tuduhan terlibat perdangan narkotika. Dan berikutnya pada bulan Februari 2026 dengan adanya perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Sebuah perang yang diawali dengan serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 1 Maret 2026 langsung ke pusat kota Teheran, ibu kota negara tersebut dan menewaskan pemimpin tertinggi negara tersebut bahkan Dimana diakui oleh Presiden Trump memamg bertujuan untuk membunuh pemimpin tertinggi negara tersebut. Dari segi ekonomi hingga kini perang sudah berlangsung hampir selama 2 pekan dengan total biaya yang telah dikeluarkan Amerika Serikat hampir mencapai RP 190 triliun hanya untuk biaya yang dikeluarkan selama 6 hari saja.Dan yang paling menegangkan dalam perang ini adalah dampak ekonominya bagi Indonesia dan dunia karena konflik ini sangat mengena pada titk yang sangat sensitive dalam sistem ekonomi internasional saat ini yaitu energi, dimana pihak Angakatan Laut Iran melakukan blokade pada selat Hormuz. Sebuah jalur sempit selebar 39 kilometer yang menjadi titik yang sangat krusial dalam peredaran minyak bumi. Sebagai akibat dari blockade Iran maka banyak negara yang harus menggunakan jalur memutar untuk membawa minyak bumi yang mereka beli yang pada akhirnya berimbas pada peningkatan biaya transportasi.
Berdasarkan data diketahui bahwa hampir 18- 20 juta barel minyak selalu melewati tempat ini dimana jumlahnya hampir sekitar 20 persen komnsumsi minyak dunia. Hal in tentunya bukan merupakan kabar baik bagi Indonesia, negara yang sudah berubah dari eksportir minyak di tahun 1970an dan 1980an dan kini menjadi net importir minyak bumi. Perang berkepanjangan di Kawasan yang selama puluhan tahun selalu menjadi hot news media internasional tersebut tentu bukan kabar baik bagi Indonesia. Perang berkepanjangan di Kawasan Teluk akan berdampak pada naiknya harga minyak nasional yang akan berdampak pada APBN Nasional negara kita. Berdasarkan data jumlah konsumsi minyak bumi kita berjumlah sekitar 1,6 juta barrel per hari, sementara jumlah produksi nasional berjumlah 700 ribu barrel per hari. Hal ini bisa memberikan dampak berkepanjangan. Kita bisa sebut dua diantaranya, yaitu resiko pada pasar keuangan dan juga resiko sistematik lainnya.
Resiko pertama adalah pada pasar keuangan. Perang yang berkepanjangan di Kawasan Teluk akan berdampak pada tekanan di mata uang rupiah Dimana rupiah akan semakin terdepresiasi seriring dengan meningkatnya biaya impor yang harus ditanggung oleh negara. Terdepresiasinya mata uang rupiah akan memberikan tekanan di sektor fiscal dan moneter Dimana tentunya hal ini akan sangat memberatkan bagi Indonesia terutama pada rancangan APBN nasional. Yang kedua adalah resiko yang berkaitan dengan sistemik. Ini merupakan resiko yang dapat dilihat dari teori tentang systematic risk yang menegaskan bahwa bila terdapat kejutan besar yang terjadi secara bersamaan dari berbagai hal, baik konflik geopolitik dan juga kondisi gangguan logistic akan dapat menciptakan dampak yang bersifat nonlinier. Konflik geopolitik Iran versus Amerika Serikat dan Israel ternyata kini juga berdampak secara logistic dengan adanya penutupan dan selat Hormuz yang sangat krusial oleh Angjatan Laut Iran dan Karena itulah bila konflik di kawawan Teluk ini berkepanjangan maka akan berdampak pada perekonomian nasional secara keseluruhan. Karena itulah bisa dibilang bahwa perang ini bisa berdampak pada kesejahteraan rakyat Indonesia bila terjadi secara berkepanjangan, sementara ironisnya Indonesia berada pada jarak hampir 7500 km dari wilayah konflik. ( Mohamad Heykal )
Comments :