Setelah kita memahami bagaimana siklus pergerakan dari stock market cycle, terdapat beberapa kebiasaan-kebiasaan dari investor yang seringkali kita temukan yang disebut dengan “Behavioral Finance”. Terdapat 4 Behavioral Finance:

1. Prospect Theory

Investor menilai untung rugi berdasarkan titik referensi (misal: harga beli), bukan kekayaan absolut. Hal tersebut berkaitan erat dengan Loss Aversion (rasa sakit karena rugi lebih besar daripada rasa senang karena untung). Misalnya, harga saham yang diambil adalah 5.000 lalu harga saham naik ke 7.000 tapi rasanya kayak biasa aja (tidak senang) namun ketika harga saham turun ke 3.000, dia akan merasakan rasa sakit yang besar dibanding rasa senang ketika dia untung meskipun selisih harganya sama, yaitu 2.000.

2. Anchoring (Jangkar)

Investor “terpaku” pada informasi awal (misal: harga beli pertama) saat mengambil keputusan. Jadi misalnya si A membeli pada harga 5.000 (si A menganggap 5.000 merupakan harga yang sudah murah) lalu ketika harga turun ke 3.000, investor tetap terpaku pada harga awal yang sudah dia beli (yang dia anggap murah) jadi dia tidak berniat untuk melakukan average-down ataupun ketika harga naik ke 7.000, si A tetap masih terpaku dengan harga 5.000 nya sehingga dia juga tidak berniat untuk melakukan average-up.

3. Overconfidence (Confirmation Bias)

Investor terlalu percaya diri dan cenderung mencari informasi yang mendukung opini mereka sebelumnya. Misalnya, ketika investor (si B) sudah sangat yakin dengan prospek kerja dari Perusahaan C dan meng-invest di saham Perusahaan C maka si B akan selalu berusaha mencari berbagai informasi untuk mendukung peluang prospek kerja si C walaupun sedang ada sentimen negatif dari saham Perusahaan C, si B akan tetap mencari cara agar Perusahaan C terlihat bagus.

4. Escalation Bias

Investor yang tidak mau untuk cut-loss dan terus menambah uang meskipun rugi karena berharap saham tersebut akan naik lagi suatu saat nanti. Jadi, walaupun sedang banyak sentimen negatif terkait saham yang diinvestasikan bahkan mengalami penurunan yang tajam, investor terus melakukan average-down dari saham tersebut karena yakin suatu saat akan membuahkan hasil atau akan kembali ke titik awal dia beli.

 

Intinya adalah ketika saham sudah mulai memiliki banyak sentimen negatif jangan ragu untuk cut-loss dan yakinlah masih banyak saham lain yang mempunyai peluang bagus juga jadi jangan hanya terpaku oleh saham yang sudah diambil tetapi carilah peluang secara terus-menerus pada saham yang lainnya. Selanjutnya, adapun Investor Life Cycle yang biasanya terjadi dalam kehidupan investor.

Referensi:

  • Hayes, A. (2025). Behavioral finance: Biases, emotions and financial behavior. Investopedia. https://www.investopedia.com/terms/b/behavioralfinance.asp
  • Mason, R. A. (2025, May 28). What is behavioral finance?. William & Mary Mason. https://online.mason.wm.edu/blog/what-is-behavioral-finance
  • Stanley, M. (2023). Key takeaways 1 behavioral finance is the field of psychology that studies how. Behavioral Finance. https://www.morganstanley.com/cs/pdf/619598-3174306-MSVA-Behavioral-Guide-r7.pdf
  • Vipond, T. (2025, May 13). Behavioral finance. Corporate Finance Institute. https://corporatefinanceinstitute.com/resources/career-map/sell-side/capital-markets/behavioral-finance/