Integrated reporting berkembang sebagai respons terhadap kebutuhan investor dan pemangku kepentingan untuk melihat gambaran utuh bagaimana sebuah organisasi menciptakan nilai, tidak hanya melalui kinerja keuangan, tetapi juga melalui dimensi lingkungan, sosial, dan tata kelola. Kerangka International <IR> Framework yang awalnya dikembangkan oleh International Integrated Reporting Council dan kini berada di bawah IFRS Foundation, memperkenalkan konsep enam modal (six capitals): finansial, manufaktur, intelektual, manusia, sosial dan relasional, serta alam (Capitals Coalition, 2016; IFRS Foundation, 2025). Keenam modal ini menggambarkan sumber daya dan hubungan yang digunakan dan dipengaruhi organisasi dalam proses penciptaan nilai jangka pendek, menengah, dan panjang, sehingga laporan terintegrasi berupaya menjelaskan bagaimana strategi, model bisnis, dan kinerja memengaruhi posisi dan prospek organisasi di sepanjang dimensi tersebut (IFRS Foundation, 2025; Capitals Coalition, 2016).

Secara praktis, laporan terintegrasi menyatukan informasi keuangan dengan pengungkapan ESG dan narasi penciptaan nilai dalam satu dokumen yang koheren, bukan lagi memisahkan laporan keuangan dari laporan keberlanjutan atau CSR (KPMG, 2013; ACCA, 2022). Struktur konten yang umum mengacu pada delapan elemen, yakni: gambaran organisasi dan lingkungan eksternal, tata kelola, model bisnis, risiko dan peluang, strategi dan alokasi sumber daya, kinerja, prospek, serta dasar penyajian (ACCA, 2022; IFRS Foundation, 2025). Di dalam kerangka ini, organisasi didorong untuk menunjukkan konektivitas informasi—misalnya menjelaskan bagaimana investasi dalam efisiensi energi atau program pengembangan SDM memengaruhi biaya operasional, produktivitas, loyalitas pelanggan, hingga pada akhirnya memengaruhi pendapatan dan profitabilitas (KPMG, 2013; Conquest Creatives, 2024). Dengan demikian, pengungkapan ESG tidak berdiri sendiri, tetapi dikaitkan langsung dengan indikator keuangan utama seperti pertumbuhan penjualan, margin laba, atau return on capital employed.

Bagi perusahaan Indonesia, pendekatan terintegrasi ini dapat menjadi alat strategis untuk mengomunikasikan bagaimana inisiatif keberlanjutan benar‑benar menciptakan dan melindungi nilai. Laporan dapat diurutkan secara logis mulai dari strategi, model bisnis, enam modal sebagai input, risiko dan peluang utama, hingga kinerja dan prospek, sehingga pembaca dapat mengikuti alur “Strategy → Business model → Capitals → Risk → Performance” secara jelas (ACCA, 2022; IFRS Foundation, 2025). Contohnya, perusahaan dapat memaparkan data konkret tentang penghematan biaya energi akibat investasi teknologi rendah karbon, peningkatan pendapatan dari produk hijau, atau penurunan turnover karyawan setelah program keterlibatan karyawan, lalu menghubungkannya dengan perubahan pada modal finansial, manusia, dan alam. Dengan cara ini, laporan terintegrasi bukan hanya compliance document, melainkan

narasi strategis yang menunjukkan bagaimana keputusan bisnis hari ini memengaruhi daya saing dan ketahanan perusahaan di masa depan, sekaligus merespons tuntutan investor global terhadap transparansi dan akuntabilitas keberlanjutan.

Referensi:

  • ACCA. (2022). The integrated report framework. Association of Chartered Certified Accountants.
  • Capitals Coalition. (2016). *International <IR> framework: The capitals background paper