Pasar keuangan yang semakin volatil, didorong oleh arus informasi yang masif dan kemudahan akses melalui platform digital, membuat pemahaman atas psikologi investor menjadi sama pentingnya dengan analisis fundamental dan teknikal. Behavioral finance menjelaskan bahwa investor tidak sepenuhnya rasional; keputusan mereka dipengaruhi oleh serangkaian bias kognitif yang sistematis, antara lain anchoring, availability, confirmation bias, overconfidence, herding, loss aversion, dan recency bias (Kahneman, 2011; Pompian, 2017). Anchoring muncul ketika investor terlalu terpaku pada harga acuan tertentu (misalnya harga beli awal) sehingga enggan menjual meski prospek sudah berubah, sedangkan availability membuat peristiwa yang baru terjadi atau sangat menonjol—seperti lonjakan tajam harga suatu saham—terasa lebih mungkin terulang sehingga mendorong keputusan berlebihan (Kahneman, 2011). Confirmation bias menuntun investor hanya mencari informasi yang mendukung pandangannya, overconfidence menumbuhkan keyakinan berlebih terhadap kemampuan memilih saham, loss aversion menyebabkan kerugian terasa lebih menyakitkan daripada keuntungan yang setara, sementara recency bias membuat kinerja jangka pendek dibesar‑besarkan dalam ekspektasi masa depan (Barberis, 2018; Pompian, 2017).

Fenomena ini tampak jelas dalam pasar kripto dan meme stocks. Survei perilaku investor ritel menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga keputusan investasi dalam aset kripto didorong oleh fear of missing out (FOMO), yaitu ketakutan tertinggal ketika harga terus naik, sehingga banyak investor masuk di puncak harga tanpa analisis yang memadai terhadap risiko dan utilitas jangka panjang (Boston Institute of Analytics, 2025). Di sisi lain, herding behavior terlihat ketika investor mengikuti arus kolektif dalam membeli saham atau token yang sedang populer di media sosial, seperti kasus meme stocks, meskipun volatilitasnya sangat tinggi dan fundamentalnya lemah (Meegle, 2025; Sun, 2025). Dalam ranah investasi ESG, penelitian menunjukkan bahwa motivasi investor tidak hanya terkait ekspektasi imbal hasil, tetapi juga nilai moral, keinginan untuk selaras dengan identitas diri, dan kadang unsur virtue signaling, yaitu menunjukkan “kepedulian sosial” melalui pilihan portofolio (Rakesh & Kumar, 2024). Hal ini menegaskan bahwa fungsi utilitas investor mencakup dimensi psikologis dan sosial, sehingga preferensi mereka tidak bisa dijelaskan hanya oleh model rasional tradisional.

Bagi penasihat keuangan, pemahaman atas behavioral finance membuka ruang untuk merancang intervensi praktis yang membantu klien mengelola emosi dan bias ketika pasar bergejolak. Behavioral nudges dapat berupa pengaturan default kontribusi investasi berkala, pengingat otomatis ketika portofolio menyimpang jauh dari alokasi target, atau penyajian informasi risiko dalam format visual yang menekankan distribusi hasil jangka panjang sehingga mengurangi fokus berlebihan pada fluktuasi harian (Thaler & Sunstein, 2021; Pompian, 2017). Penasihat juga dapat berperan sebagai behavioral coach dengan mengedukasi klien tentang FOMO, herding, dan bias lain, sekaligus

menegakkan disiplin melalui aturan sederhana seperti cooling‑off period sebelum melakukan transaksi besar, jadwal rebalancing berkala, serta penetapan terlebih dahulu batas kerugian yang dapat ditoleransi (Boston Institute of Analytics, 2025; Meegle, 2025). Dengan demikian, penerapan prinsip behavioral finance tidak hanya meningkatkan kualitas keputusan investasi, tetapi juga membantu investor mempertahankan strategi jangka panjang yang selaras dengan tujuan keuangan dan toleransi risiko mereka, meskipun di tengah volatilitas pasar yang ekstrem.

Referensi:

  • Barberis, N. (2018). Psychology-based models of asset prices and trading volume. In B. D. Bernheim, S. DellaVigna, & D. Laibson (Eds.), Handbook of behavioral economics (Vol. 1, pp. 79–175). Elsevier.
  • Boston Institute of Analytics. (2025). Behavioral finance in 2025: How psychology is driving market trends. Boston Institute of Analytics.
  • Kahneman, D. (2011). Thinking, fast and slow. Farrar, Straus and Giroux.
  • Meegle. (2025). Behavioral finance and future trends. Meegle Research.
  • Pompian, M. M. (2017). Behavioral finance and investor types: Managing behavior to make better investment decisions. John Wiley & Sons.
  • Rakesh, S., & Kumar, A. (2024). Values, virtue signalling and ESG investing: A behavioral perspective. Journal of Sustainable Finance & Investment, 14(3), 215–233.
  • Sun, G. (2025). Artificial intelligence and financial fraud. Journal of Financial Crime, 32(1), 1–19.
  • Thaler, R. H., & Sunstein, C. R. (2021). Nudge: The final edition. Yale University Press.