Pasar karbon global telah berkembang pesat sebagai mekanisme penting untuk memitigasi perubahan iklim, didorong oleh komitmen Net-Zero dan regulasi yang semakin ketat. Dalam konteks ini, Teknologi Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (Carbon Capture and Storage – CCS) menjadi aset strategis. Bagi akuntan, investasi dalam fasilitas CCS menimbulkan pertanyaan kompleks mengenai pengakuan aset, depresiasi, dan biaya operasional. Akuntan harus menentukan apakah pengeluaran untuk CCS dikapitalisasi sebagai aset tetap jangka panjang (karena memberikan manfaat ekonomi di masa depan, seperti menghasilkan carbon credit) atau dibebankan sebagai biaya operasional saat ini, sesuai dengan standar PSAK/IFRS terkait aset tetap dan biaya penelitian/pengembangan.

Kompleksitas akuntansi memuncak ketika mempertimbangkan insentif dan perdagangan Carbon Credit. Carbon Credit yang dihasilkan dari CCS dapat berupa komoditas yang diperdagangkan, dan akuntan harus mengklasifikasikan kredit tersebut. Apakah kredit ini diakui sebagai Aset Tidak Berwujud (jika memenuhi kriteria kontrol dan manfaat ekonomi masa depan), Persediaan (jika tujuannya adalah untuk dijual dalam bisnis normal), atau Instrumen Keuangan (jika diperlakukan sebagai instrumen derivatif atau hedging)? Klasifikasi ini sangat memengaruhi pengukuran nilai wajar dan pengakuan pendapatan yang diperoleh dari penjualan kredit tersebut.

Peran akuntan menjadi krusial dalam menyusun metodologi akuntansi untuk dua skenario utama. Pertama, Akuntansi untuk Pembeli Kredit: Perusahaan yang membeli carbon credit untuk mengimbangi emisi mereka (offset) harus menentukan kapan biaya tersebut diakui. Biasanya, biaya ini dibebankan sebagai biaya operasi (misalnya, cost of compliance) segera setelah kredit tersebut digunakan (retired) untuk mengimbangi emisi. Kedua, Akuntansi untuk Penjual Kredit (Penyedia CCS): Akuntan harus memastikan bahwa pendapatan dari penjualan carbon credit diakui sesuai dengan PSAK/IFRS 15, yaitu ketika kinerja telah terpenuhi (penangkapan karbon diverifikasi) dan kendali atas kredit tersebut berpindah kepada pembeli.

Tantangan terbesar yang dihadapi akuntan dalam pasar ini adalah Valuasi dan Pengukuran. Nilai carbon credit seringkali sangat fluktuatif, dipengaruhi oleh permintaan pasar sukarela, regulasi pemerintah, dan skema harga karbon regional (seperti Carbon Tax atau Emissions Trading Schemes – ETS). Akuntan dituntut untuk menggunakan Pengukuran Nilai Wajar (PSAK 68) yang harus didukung oleh data pasar yang dapat diandalkan, meskipun likuiditas pasar seringkali tidak

stabil. Selain itu, akuntan harus melakukan pengujian penurunan nilai (impairment test) secara berkala terhadap aset CCS jika indikasi menunjukkan bahwa manfaat ekonominya telah berkurang (misalnya, jika harga karbon jatuh drastis).

Di sisi Akuntansi Manajemen, akuntan berperan dalam pengambilan keputusan investasi. Mereka harus menganalisis Capital Expenditure (CapEx) yang besar untuk teknologi CCS versus Operating Expenditure (OpEx) dan memperkirakan Internal Rate of Return (IRR) yang dipengaruhi oleh proyeksi harga carbon credit di masa depan. Akuntan manajemen menyediakan metrik kinerja dan biaya yang diperlukan untuk mendukung klaim keberlanjutan perusahaan, memastikan bahwa proyek CCS layak secara finansial dan strategis. Selain aspek keuangan, akuntan juga menjadi verifikator Pelaporan Keberlanjutan (ESG). Mereka memastikan bahwa data yang mendasari penerbitan dan penggunaan carbon credit (seperti volume karbon yang ditangkap, metode penangkapan, dan audit pihak ketiga) telah dicatat dan diungkapkan secara akurat, transparan, dan sesuai dengan standar pelaporan keberlanjutan yang berlaku (misalnya, ISSB). Akuntan berperan untuk menghindari praktik greenwashing dengan memberikan jaminan independen atas angka-angka karbon.

Kesimpulannya, akuntansi untuk Carbon Capture dan Carbon Credit berada di garis depan evolusi pelaporan. Akuntan tidak hanya bertindak sebagai pencatat, tetapi juga sebagai penafsir standar, penilai risiko, dan validator transparansi keuangan-lingkungan. Keberhasilan ekspansi pasar karbon global sangat bergantung pada kejelasan metodologi akuntansi yang akurat untuk mengelola aset, pendapatan, dan risiko yang terkait dengan investasi teknologi mitigasi iklim ini.

 

Referensi :

  • International Accounting Standards Board (IASB). (2023). IFRS Accounting for Emission Trading Schemes (ETS) and Carbon Credits. IASB Staff Paper.
  • PwC. (2024). Accounting for Carbon Capture and Storage (CCS) Investments: Capitalization vs. Expense. PwC Global Accounting Guide.
  • Trotman, K., & Gibbins, M. (2023). Carbon Credit Valuation, Impairment Testing, and the Role of Accountants in Emissions Markets. The Accounting Review, 98(4), 101-125.