Mengenal Cash Inflow dan Cash Outflow Dari Capital Budgeting
Setelah kita memahami ”mengapa” (tujuan) dan ”bagaimana memilih” (tipe keputusan), sekarang kita masuk ke jantung perhitungannya. Agar sebuah keputusan investasi bisa dinilai, kita tidak bisa hanya menebak-nebak atau melihat laba akuntansi di atas kertas saja; kita perlu melacak pergerakan uang tunai yang nyata. Dalam Capital Budgeting, ‘nyawa’ dari sebuah proyek ditentukan oleh dua arus yang berlawanan: Cash Outflow (uang yang harus kita relakan pergi di awal) dan Cash Inflow (uang yang kita harapkan datang kembali di masa depan). Memahami keseimbangan dan waktu terjadinya kedua arus inilah yang menjadi kunci untuk menjawab pertanyaan besar: ”Apakah modal yang keluar akan sebanding dengan uang yang masuk?” maka dari itu konsep cash inflow dan cash outflow ada dalam pengambilan keputusan.
- Cash Outflow (Arus Kas Keluar): Ini adalah “Pengorbanan”. Berupa uang tunai yang harus dikeluarkan perusahaan saat ini atau di awal proyek untuk memulai investasi. Contoh: Harga beli mesin, biaya pemasangan, biaya pelatihan karyawan, dan modal kerja tambahan.
- Cash Inflow (Arus Kas Masuk): Ini adalah “Imbalan”. berupa uang tunai tambahan yang diterima perusahaan di masa depan sebagai hasil dari investasi tersebut. Contoh: Peningkatan penjualan produk, penghematan biaya operasional (karena mesin baru lebih hemat listrik), dan nilai jual rongsokan mesin (salvage value) di akhir masa pakainya.
Singkatnya, pemahaman yang mendalam tentang Cash Inflow dan Cash Outflow adalah syarat mutlak sebelum menghitung profitabilitas proyek. Kita tidak bisa hanya tergiur oleh potensi keuntungan (inflow) yang besar di masa depan tanpa memperhitungkan beban modal (outflow) yang berat di awal. Inti dari analisis ini adalah memastikan bahwa arus kas yang masuk nantinya tidak hanya sekadar ‘balik modal’, tetapi juga memiliki surplus yang cukup untuk menutup risiko dan memberikan nilai tambah nyata bagi perusahaan.
Comments :