Stock opname merupakan salah satu prosedur penting dalam audit untuk memastikan keberadaan dan keakuratan persediaan yang dicatat dalam laporan keuangan. Proses ini melibatkan beberapa tahapan yang dilakukan oleh auditor untuk memastikan bahwa persediaan telah dihitung dengan benar dan sesuai dengan catatan perusahaan (Saro et al., 2021).

Tahap pertama dalam stock opname adalah melakukan perjanjian dengan klien mengenai jadwal dan prosedur yang akan dilakukan. Auditor akan mengkomunikasikan waktu pelaksanaan, metode penghitungan, serta tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh klien. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua pihak memiliki pemahaman yang sama dan menghindari kesalahan selama proses berlangsung.

Pada hari pelaksanaan, auditor akan datang ke lokasi penyimpanan persediaan yang telah disepakati sebelumnya. Setibanya di lokasi, auditor akan bertemu dengan pihak klien, termasuk staf yang bertanggung jawab atas persediaan dan saksi yang ditunjuk oleh klien. Kehadiran saksi ini penting untuk memastikan bahwa proses stock opname dilakukan secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Selanjutnya, auditor akan melakukan perhitungan fisik persediaan. Proses ini dilakukan dengan menghitung jumlah barang yang ada di gudang secara langsung dan mencatat hasilnya. Auditor dapat menggunakan metode sampling jika jumlah barang sangat besar, tetapi tetap memastikan bahwa hasilnya dapat mencerminkan kondisi keseluruhan persediaan dengan akurat.

Setelah perhitungan fisik selesai, auditor akan membandingkan hasil perhitungan tersebut dengan kartu persediaan yang dimiliki oleh klien. Kartu persediaan mencatat jumlah barang yang seharusnya ada berdasarkan transaksi yang telah terjadi, sehingga perbandingan ini bertujuan untuk mendeteksi adanya perbedaan antara catatan dan kondisi fisik yang sebenarnya.

Jika ditemukan perbedaan antara hasil perhitungan fisik dan kartu persediaan, auditor akan melakukan inquiry atau konfirmasi kepada pihak klien. Auditor akan menanyakan penyebab perbedaan tersebut, apakah karena kesalahan pencatatan, kehilangan barang, kerusakan, atau alasan lainnya (An et al., 2023). Auditor juga dapat meminta bukti pendukung seperti dokumen transaksi, laporan produksi, atau catatan lainnya untuk memastikan keakuratan informasi.

Kesimpulannya, proses stock opname yang dilakukan auditor mencakup berbagai tahapan mulai dari perjanjian dengan klien, kedatangan ke lokasi bersama saksi, perhitungan fisik persediaan, perbandingan dengan kartu persediaan, hingga inquiry jika ditemukan perbedaan. Proses ini sangat penting dalam memastikan bahwa laporan keuangan perusahaan mencerminkan kondisi persediaan yang sebenarnya dan tidak terdapat salah saji yang dapat mempengaruhi keandalan informasi keuangan.

Referensi:

  • An, R., Li, W., Wang, D., Wang, Y., & Yu, L. (2023). Do Key Audit Matters Affect Operating Activities? Evidence from Inventory Management. Abacus, 59(1), 300–339. https://doi.org/https://doi.org/10.1111/abac.12269
  • Saro, B., Keitany, P., & Rop, W. (2021). Inventory Audit and Supply Management: An Evidence of Inventory Control Practices. East African Journal of Business and Economics, 4(1), 85–92. https://doi.org/10.37284/eajbe.4.1.503

BLH