Ketika Klien Customer Tidak Menjawab Konfirmasi Piutang
Konfirmasi piutang merupakan prosedur audit yang digunakan untuk memastikan keberadaan dan keakuratan saldo piutang dalam laporan keuangan perusahaan. Auditor biasanya mengirimkan permintaan konfirmasi langsung kepada pelanggan yang memiliki saldo piutang tertentu. Namun, dalam beberapa kasus, pelanggan tidak memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi tersebut. Situasi ini dapat menjadi tantangan dalam proses audit, sehingga auditor perlu mengambil langkah-langkah alternatif untuk memastikan kewajaran saldo piutang yang dicatat perusahaan (Edmonds et al., 2019).
Langkah pertama yang dapat dilakukan auditor adalah melakukan prosedur alternatif, seperti meninjau dokumen pendukung yang berkaitan dengan transaksi piutang. Auditor dapat memeriksa faktur penjualan, bukti pengiriman barang, serta bukti penerimaan pembayaran yang telah dilakukan oleh pelanggan. Dengan menelusuri dokumen-dokumen ini, auditor dapat memperoleh keyakinan bahwa piutang benar-benar ada dan sesuai dengan yang tercatat dalam laporan keuangan.
Selain itu, auditor juga dapat melakukan analisis umur piutang untuk menilai kualitas dan kemungkinan penagihan piutang tersebut. Piutang yang sudah lama jatuh tempo tanpa ada pembayaran dapat menimbulkan risiko penurunan nilai, sehingga auditor harus mengevaluasi apakah perusahaan telah melakukan pencadangan piutang tak tertagih dengan memadai. Jika ditemukan indikasi adanya piutang yang tidak tertagih, auditor dapat merekomendasikan pencadangan atau penghapusan piutang sesuai dengan kebijakan akuntansi yang berlaku (Janvrin et al., 2010).
Selanjutnya, auditor dapat melakukan wawancara dengan manajemen atau staf keuangan perusahaan untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai status piutang yang tidak terkonfirmasi. Dalam wawancara ini, auditor dapat menanyakan apakah telah dilakukan upaya penagihan kepada pelanggan serta kendala yang mungkin dihadapi dalam proses tersebut. Informasi ini dapat membantu auditor dalam menilai apakah saldo piutang yang tidak terkonfirmasi masih dapat ditagih atau berisiko mengalami penurunan nilai.
Jika semua prosedur alternatif telah dilakukan dan auditor masih belum mendapatkan keyakinan yang cukup mengenai kewajaran saldo piutang, auditor dapat mempertimbangkan dampaknya terhadap laporan keuangan. Jika jumlah piutang yang tidak terkonfirmasi material, auditor mungkin perlu memberikan modifikasi dalam opini audit, seperti opini dengan pengecualian atau bahkan opini tidak wajar jika terdapat indikasi bahwa laporan keuangan tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya.
Referensi:
- Edmonds, M., Miller, T., & Savage, A. (2019). Accounts receivable: An audit simulation. Journal of Accounting Education, 47, 75–92. https://doi.org/10.1016/j.jaccedu.2019.04.001
- Janvrin, D., Caster, P., & Elder, R. (2010). Enforcement release evidence on the audit confirmation process: Implications for standard setters. Research in Accounting Regulation, 22(1), 1–17. https://doi.org/10.1016/j.racreg.2010.02.002
BLH
Comments :