Laut, yang mencakup lebih dari 70% permukaan bumi, bukan hanya sekadar hamparan air yang luas, melainkan juga sumber daya yang kaya dan berharga bagi kehidupan manusia. Konsep blue economy atau ekonomi biru muncul sebagai jawaban atas kebutuhan akan sistem ekonomi yang berkelanjutan, dengan memanfaatkan potensi laut secara bijaksana. Berbeda dengan pendekatan ekonomi tradisional yang seringkali mengorbankan lingkungan demi keuntungan jangka pendek, blue economy menawarkan paradigma baru: menggabungkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian ekosistem laut. Melalui sektor-sektor seperti perikanan berkelanjutan, pariwisata bahari, energi terbarukan (seperti energi gelombang dan angin laut), transportasi laut, serta bioteknologi kelautan, blue economy tidak hanya menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga memastikan bahwa sumber daya laut tetap terjaga untuk generasi mendatang. Salah satu contoh nyata penerapan blue economy adalah di Norwegia, yang telah menjadi pelopor dalam industri perikanan berkelanjutan. Negara ini tidak hanya memastikan praktik penangkapan ikan yang ramah lingkungan, tetapi juga mengembangkan teknologi energi terbarukan dari laut, seperti turbin angin lepas pantai. Di Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, blue economy menjadi prioritas utama. Pemerintah Indonesia telah meluncurkan berbagai program, seperti Gerakan Nasional Bulir Biru, yang bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan (Wijaya, 2024). Selain itu, negara-negara Karibia juga memanfaatkan pariwisata bahari sebagai tulang punggung ekonomi mereka, sambil terus menjaga kelestarian terumbu karang dan ekosistem pesisir.

Namun, mewujudkan blue economy bukan tanpa tantangan. Polusi laut, terutama sampah plastik, menjadi ancaman serius bagi ekosistem laut. Menurut data PBB, lebih dari 8,8 juta metrik ton sampah plastik terbuang ke laut setiap tahunnya, mengancam kehidupan biota laut dan merusak rantai makanan (Putri, 2019). Selain itu, perubahan iklim juga memberikan dampak besar, seperti naiknya suhu laut dan pengasaman air, yang mengancam kelangsungan hidup terumbu karang dan spesies laut lainnya. Praktik penangkapan ikan ilegal dan berlebihan juga masih menjadi masalah serius di banyak wilayah, yang mengancam stok ikan global dan ketahanan pangan. Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan kolaborasi global antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Inovasi teknologi, seperti sistem pemantauan laut berbasis satelit dan alat tangkap ramah lingkungan, dapat membantu mengurangi dampak negatif terhadap ekosistem laut. Selain itu, edukasi dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga laut juga menjadi kunci utama. Sebagai individu, kita dapat berkontribusi dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mendukung produk- produk perikanan berkelanjutan, serta turut serta dalam kegiatan konservasi laut.

Referensi:

Putri, N. Sikap China Menolak Resolusi Pbb Unep/Ea. 3/Res. 7 Tentang Pencemaran Sampah Plastik DI Wilayah Laut. Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Jember,

Wijaya, I. K. K. A. (2024). Pemanfaatan Sumber Daya Alam Yang Berkelanjutan: Tantangan Dalam Tata Kelola Industri Pariwisata Yang Berbasis Kearifan Lokal. Jurnal Ilmu Hukum Kyadiren, 5(2), 45-53.