Agile Audit dapat membantu tim audit internal melakukan audit yang lebih efisien dengan fleksibilitas untuk merespons kebutuhan bisnis saat ini. Tapi apa itu agile audit?

Agile artinya kemampuan untuk berpikir dengan cara yang cepat dan cerdas. Biasanya digunakan untuk menggambarkan cara bekerja di mana waktu dan tempat kerja, dan peran yang dijalankan orang, semuanya dapat diubah sesuai kebutuhan.

Metode Agile sangat cocok untuk proyek jangka pendek. Dikarenakan metode ini akan sangat mudah beradaptasi jika terjadi perubahan dalam suatu proyek. Dalam Agile Development, nilai terpentingnya terdapat pada tim yang dapat memutuskan suatu hal dengan cepat dan tepat (Scharff, 2011). Keputusan yang diambil tidak hanya cepat dalam hitungan waktu, namun juga memiliki kualitas prediksi yang baik. Sehingga keputusan tersebut dapat mengatasi permasalahan yang ada tanpa menimbulkan masalah baru.

Sedangkan apabila kita membahas tentang agile dalam kontekstual audit. Maka sesuai dengan namanya, metodologi agile audit melibatkan pembuatan rencana audit yang lebih gesit, dibandingkan dengan tim audit yang biasanya berpegang pada rencana tahunan atau bahkan multi-tahun. Penerapan metodologi audit dapat meningkatkan tata kelola, karena tim audit dapat menyesuaikan pengawasan mereka terhadap risiko-risiko yang lebih baru dan relevan, dibandingkan terpaku pada masalah-masalah yang sudah ada sebelumnya (Truong, 2020).

Agile Audit melibatkan penggunaan metodologi agile yang berasal dari dunia pengembangan perangkat lunak. Mirip dengan metodologi agile lainnya, agile audit biasanya berarti bekerja dalam periode singkat dan berulang yang disebut sprint atau menggunakan proses manajemen proyek yang lebih fleksibel yang dikenal sebagai Kanban untuk menjalani metodologi agile audit secara penuh mulai dari perencanaan hingga presentasi dan peninjauan hasil.

Agile auditing digunakan oleh tim audit internal untuk mengembangkan rencana audit yang mampu merespons perubahan, baik karena munculnya risiko baru atau perubahan prioritas bisnis.

Dalam manajemen proyek tradisional, setiap perubahan pada tahap akhir tidak dianggap serius karena hal ini biasanya berarti perluasan ruang lingkup dan dengan demikian biaya yang lebih tinggi. Namun didalam agile, tim bertujuan untuk menerima ketidakpastian dan menyadari bahwa perubahan yang terlambat sekalipun masih dapat memberikan banyak manfaat bagi pelanggan akhir.

 

References

Scharff, C. (2011). Guiding global software development projects using Scrum and Agile with quality assurance. 2011 24th IEEE-CS Conference on Software Engineering Education and Training (CSEE&T), 274–283. https://doi.org/10.1109/CSEET.2011.5876097

Truong, L. (2020). Agile Auditing: More Value, Less Resources. The EDP Audit, Control, and Security Newsletter, 62(1), 4–7. https://doi.org/10.1080/07366981.2020.1769764

 

BLH

Image Source: Google Images