Desain Ramah Lingkungan Untuk Sektor UMKM

Dalam analisa ternyata baik bagi perusahaan besar maupun UMKM hal tersebut menjadi pendekatan utama bagi masyarakat. Kebijakan untuk mendorong desain ramah lingkungan adalah dengan memperkuat lingkungan pasar yang menguntungkan produk yang ramah lingkungan. Kebijakan lingkungan yang stabil dan kredibel menggunakan pendekatan yang berbeda-beda, seperti instrumen yang bertujuan untuk mengurangi emisi, mencapai siklus zat tertutup dan mengurangi penggunaan sumber daya merupakan faktor penting dalam hal ini. Hal ini dapat dilengkapi dengan langkah-langkah yang bertujuan langsung pada produk, seperti skema pelabelan ramah lingkungan, pengadaan publik yang berorientasi lingkungan, atau fiscal instrumen.

Jika terdapat pasar untuk produk-produk ramah lingkungan, perusahaan-perusahaan besar pada umumnya tidak akan melakukannya tanpa memerlukan dukungan lebih lanjut dari pemerintah untuk menerapkan desain ramah lingkungan. Situasinya berbeda untuk UM(Wang et al., 2007)KM, yang seringkali harus berhadapan dengan sumber daya strategis dan operasional yang terbatas. Seperti yang telah terjadi, UKM jelas kurang aktif dalam desain ramah lingkungan dibandingkan UMKM besar, perusahaan, dan memperkuat permintaan pasar saja tidak akan cukup bagi UMKM untuk mengejar ketinggalan (Bocken et al., 2014).

Tantangan UMKM untuk menerapkan desain ramah lingkungan:

Pertama, karena kurangnya sumber daya strategis, seringkali menyulitkan UMKM untuk mengantisipasi keuntungan pasar di masa depan dengan menghasilkan produk yang ramah lingkungan (Wang et al., 2007). Misalnya, lebih sulit bagi mereka untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan peraturan perundang-undangan yang akan datang dibandingkan dengan perusahaan besar, yang biasanya hadir secara langsung dalam pembuatan kebijakan dan proses yang mengarah pada legislasi lingkungan hidup.

Hambatan utama kedua terhadap penerapan desain ramah lingkungan di UKM adalah proses desain ramah lingkungan memerlukan pengetahuan dan alat khusus (Ipsen et al., 2021). Meskipun perusahaan besar dapat mengembangkannya sendiri, sebagian besar UMKM perlu mendapatkannya dari luar. Langkah-langkah untuk memfasilitasi desain ramah lingkungan pada UMKM harus mengatasi faktor-faktor ini.

Sebagai civitas akademik dan praktisi kita dapat membantu UMKM untuk mengatasi hambatan ini, antara lain dengan:

  1. Meningkatkan visibilitas peluang pasar saat ini dan masa depan untuk produk ramah lingkungan.
  2. Memodulasi dan mentransfer praktik terbaik diseminasi desain ramah lingkungan.
  3. Menyediakan informasi teknis desain ramah lingkungan.
  4. Memberikan pendampingan dan umpan balik bagi UMKM

Referensi:

Bocken, N. M. P., Farracho, M., Bosworth, R., & Kemp, R. (2014). The front-end of eco-innovation for eco-innovative small and medium sized companies. Journal of Engineering and Technology Management – JET-M, 31(1), 43–57. https://doi.org/10.1016/j.jengtecman.2013.10.004

Ipsen, K. L., Pizzol, M., Birkved, M., & Amor, B. (2021). How Lack of Knowledge and Tools Hinders the Eco-Design of Buildings — A Systematic Review. Urban Science.

Wang, C., Walker, E., & Redmond, J. (2007). Explaining the Lack of Strategic Planning in SMEs: The Importance of Owner Motivation. International Journal of Organizational Behavior, 12(121), 1–16.

BLH

Image Source: Google Images

Comments :