Banyak metode dan pendekatan yang dapat digunakan untuk mendeteksi kemungkinan atau gejala terjadinya kecurangan laporan keuangan. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah fraud exposure rectangle (Albrecht et al., 2019). (Albrecht et al., 2019) mengatakan bahwa menilai fraud pada laporan keuangan tidak hanya dari satu segi atau dari satu sudut pandang saja, melainkan dari empat sudut pandang yang disebut dengan fraud exposure rectangle. Dimana dalam pendekatan ini perusahaan terlibat dengan pihak-pihak yang memungkinkan terjadinya kecurangan, seperti Direktur dan Manajemen, hubungannya dengan pihak lain, organisasi dan industri sejenis serta kondisi keuangan dan karakteristik operasi perusahaan.

Direktur dan manajemen

Terdapat tiga aspek dalam direktur dan manajemen yang perlu dilakukan investigasi, yaitu:

  1. Latar belakang manajemen
    Apakah orang yang duduk sebagai top manajemen di perusahaan atau grup tersebut adalah orang yang sebelumnya pernah terlibat kasus fraud atau belum? Auditor memeriksa track record dari orang-orang yang duduk sebagai pimpinan di perusahaan. Bila sudah pernah terlibat kasus fraud, maka ada kecenderungan untuk mengulangi perbuatan.
  1. Motivasi manajemen
    Apa motivasi manajemen dalam mendirikan perusahaan? Apakah motivasi normal, seperti untuk mendapatkan keuntungan dan kemakmuran, atau untuk dijadikan basket case company, perusahaan yang didirikan untuk dibangkrutkan, seperti special purpose entity dalam kasus Enron
  1. Pengaruh manajemen dalam pengambilan keputusan untuk organisasi
    Seberapa besar pengaruh manajemen dalam perusahaan. Apakah ada satu dua orang yang memegang peranan besar dalam perusahaan. Pengambilan keputusan hanya tergantung pada satu atau dua orang tersebut

Hubungan dengan pihak lain

Fraud pada laporan keuangan seringkali berhubungan dengan pihak lain, seperti dalam kasus Enron, dimana berhubungan dengan special purpose entities (SPE) (Awang et al., 2020), yang mana dalam bentuk suatu perusahaan lain yang mendukung perusahaan utama. Selain itu juga hubungan dengan pihak lain, seperti auditor (Certified Public Accountant – CPA) kuasa hukum/pengacara, investor, pejabat, orang yang memiliki kekuasaan dan sebagainya. Kecurangan laporan keuangan termasuk kedalam ranah white collar crime atau kejahatan kerah putih, dimana kecurangan dilakukan oleh top manajemen. Berbeda dengan blue collar crime, atau kejahatan kerah biru, yang dilakukan oleh karyawan, dimana dilakukan secara sembunyi-sembunyi, top manajemen tidak perlu sembunyi. Mereka seringkali menggunakan kedekatannya dengan regulator untuk merubah peraturan, sehingga yang awalnya melanggar hukum, menjadi tidak melanggar hukum.

Organisasi dan Industri

Yang perlu dilakukan investigasi pada organisasi dan industri adalah apakah perusahaan mempunyai struktur organisasi yang kompleks yang mengikutsertakan entitas hukum yang tidak biasa, otorisasi lini manajerial atau perjanjian kontrak tanpa tujuan bisnis yang jelas? Apakah jajaran direksi pasif atau aktif dan independen? Apakah kinerja perusahaan sama atau kontras dengan perusahaan di industri yang sama?

Kondisi Keuangan dan Karakteristik Operasi

Sudut pandang yang keempat ini melihat dari kondisi keuangan dan karakteristik operasi perusahaan. Melihat ada tidaknya kemungkinan fraud pada laporan keuangan dengan melihat gejala atau red flag pada kelima macam laporan keuangan perusahaan dan resiko fraud pada laporan keuangan yang bisa terjadi karena adanya inherent risk atau resiko melekat pada karakteristik industri perusahaan itu, seperti: adanya harga pasar yang fluktuatif, sulitnya perhitungan nilai wajar aset dan persediaan, dan sebagainya.

Reference:

  • Albrecht, W. S. et al. (2019) Fraud Examination. 6th edn. Mason, Ohio: Cengage Learning.
  • Awang, N. et al. (2020) ‘Fraud Triangle Theory: Calling for New Factors’, Insight Journal, 7(1), pp. 54–64. doi: 10.24191/ij.v7i1.62.

Image Sources: Google Images