Revolusi industri merujuk kepada sebuah kata yang menggambarkan bagaimana perkembangan suatu metode atau sistem yang membawa perubahan secara signifikan terhadap manusia (Susanti, 2018). Menurut Lase, (2019) dunia mulai mengalami pergolakan dalam bidang ekonomi yang menuntut untuk mendongkrak pertumbuhan perekonomian melalui cara yang baru, dimana saat ini telah memasuki revolusi industri 4.0 yang dihantarkan oleh berbagai teknologi baru yang lebih modern. Perkembangan revolusi industri di dunia telah membawa pergerakan perusahaan ke tahap yang lebih tinggi, sehingga diperlukan kesiapan dan kewaspadaan agar mampu beradaptasi dan menguasai perubahan zaman. Hingga saat ini, dunia telah mengalami perkembangan industri sebanyak 4 kali, yang dimulai dari:

  1. Revolusi Industri 1.0:
    Diawali dari revolusi industri 1.0 yang menciptakan mekanisme energi berbasis uap dan air oleh James Watt pada tahun 1748, mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dalam jangka waktu panjang (Lase, 2019). Era revolusi industri yang berlangsung pada aktivitas dan kegiatan manusia serta bisnis, telah mendorong sektor industri seperti manufaktur untuk membelanjai investasi berupa mesin, peralatan produksi, dan modal kerja. Hal tersebut menjadi titik mula berkembangnya perusahaan dalam skala besar untuk mempekerjakan tenaga manusia dalam jumlah besar yang berperan untuk memastikan dan mengoperasikan berjalannya suatu mesin untuk memproduksi barang sesuai dengan permintaan pasar (Susanti, 2018).
  2. Revolusi Industri 2.0:
    Kemudian pada tahun 1870, terjadilah revolusi industri 2.0 yang menitikberatkan kepada pertumbuhan produksi secara massal melalui implementasi energi listrik, sehingga pada masa ini banyak sekali penemuan-penemuan baru seperti pesawat terbang, kendaraan, dan telepon yang mempermudah manusia dalam bepergian dan berkomunikasi (Susanti, 2018). Hal ini bermula sejak adanya penemuan listrik oleh Nikola Tesla dan Thomas Alva Edison, menghasilkan titik terang dalam dunia bisnis. Pertumbuhan produksi massal akibat munculnya tenaga listrik telah mendongkrak tingkat perekonomian dan pendapatan perkapita meningkat secara drastis yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat luas dengan jauh lebih efektif dan efisien. Salah satunya pada tahun 1913, telah muncul sistem bernama conveyor belt yang bisa mempercepat proses produksi, sehingga menuntut karyawan untuk dapat memperbarui kapasitas yang dimiliki (Susanti, 2018). Pencapaian tertinggi pada revolusi industri 2.0 adalah terciptanya pesawat terbang, pesawat telepon, dan mobil.
  3. Revolusi Industri 3.0:
    Semakin bertambahnya pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki, telah mendorong manusia untuk berinovasi dengan menciptakan mesin otomatis yang mampu bekerja secara otomatis yang dikendalikan dengan komputerisasi. Penggunaan komputer telah membawa kehidupan kedalam revolusi industri 3.0 yang mendorong perkembangan tingkat produktivitas industri manufaktur seperti pembuatan mobil, perhitungan kalkulasi yang mempermudah akuntan dalam mengaplikasikan rumus perhitungan, dan pemrograman yang mampu mengatur teknologi untuk bekerja 24 jam, sehingga perusahaan dapat memproduksi barang dalam jumlah besar dengan waktu yang efisien (Susanti, 2018).
  4. Revolusi Industri 4.0:
    Memasuki era revolusi industri 4.0, telah menghantarkan manusia ke masa transformasi digital yang menjadi megatrends dalam pengoperasian dunia industri. Pada era ini didasarkan pada teknologi canggih yang mampu menghubungkan antar objek maupun manusia melalui jaringan dunia maya. Akibat perkembangan Internet of Things (IoT) oleh Kevin Ashton pada tahun 1999 yang semakin tinggi, mendorong manusia untuk menghasilkan data dalam jumlah besar setiap harinya yang mengarahkan kepada fenomena big data. Keberadaan big data menghasilkan banyak nilai-nilai tersembunyi yang berpeluang memperluas koneksi dan laba secara optimal. Big data telah menjadi dasar perkembangan teknologi untuk mampu menganalisis dan mengevaluasi data tersebut secara efektif dan hemat waktu, sehingga membantu pengambilan keputusan serta meningkatkan produktivitas perusahaan.

Munculnya teknologi-teknologi baru yang dikombinasikan dengan pertumbuhan jaringan, memudahkan seluruh pihak kepentingan perusahaan dalam melakukan pekerjaan secara fleksibel dengan hadirnya Cloud computing, artificial intelligence yang mampu memverifikasi dan mengoperasikan seluruh kegiatan operasional secara otomatis, hingga implementasi robot yang mampu bekerja 24 jam yang berpotensi meminimalisir human error. Akibat dari kemunculan teknologi tersebut, telah mendorong pemimpin perusahaan untuk berlomba-lomba menginvestasikan dana nya dalam persaingan yang semakin ketat, dimana akibat dari perubahan globalisasi tersebut telah merekonstruksi perusahaan beserta dengan tatanan struktur yang berjalan dengan berorientasi terhadap teknologi. Kemajuan perkembangan era 4.0 telah sukses mentransformasikan dunia industri untuk memaksimalkan keuntungan secara efektif. Tetapi, hal tersebut masih terdapat kelemahan dimana banyak manusia yang masih belum siap dan terbuka, sehingga keberadaan mereka menjadi terancam.

REFERENSI:

  • Lase, D. (2019). Pendidikan di Era Revolusi Industri 4.0. SUNDERMANN: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora Dan Kebudayaan, 1(1), 28–43. https://doi.org/10.36588/sundermann.v1i1.18
  • Susanti, F. (2018). Revolusi Industri. Academia.Edu.

Image Sources: Google Images