APA ITU AKUNTANSI FORENSIK ?

Oleh : Levana Dhia Prawati

Fakta bahwa kecurangan akuntansi menyebabkan kerugian ekonomi yang besar telah menyebabkan peningkatan dalam upaya untuk mencegah kerugian tersebut serta perkembangan dan perubahan di bidang audit dan akuntansi forensik. Dalam konteks ini, pengertian akuntansi forensik telah dibahas terlebih dahulu, diikuti oleh perkembangan profesi akuntansi forensik.

Definisi Akuntansi Forensik

Mengintegrasikan teknik audit dan investigasi ke dalam bidang akuntansi telah memunculkan keahlian yang dikenal sebagai “akuntansi forensik,” yang berfokus pada pencegahan dan penentuan kecurangan akuntansi (Arboleda, Luna, & Torres, 2018, p. 13).

Akuntansi forensik adalah tindakan menentukan, mencatat, menganalisis, mengklasifikasikan, melaporkan, dan mengkonfirmasikan ke data keuangan historis atau aktivitas akuntansi lainnya untuk penyelesaian sengketa hukum saat ini atau di masa mendatang. Data historis ini juga digunakan untuk evaluasi data keuangan dalam penyelesaian sengketa hukum di masa mendatang (Crumbley et al., 2015).

Pengertian forensik dalam profesi akuntan berkaitan dengan keterkaitan dan penerapan fakta keuangan dengan permasalahan hukum. Akuntansi forensik berisi audit atas catatan akuntansi untuk mencari bukti penipuan (kecurangan dan pemalsuan) (Singleton & Singleton, 2010, hal. 12). Akuntansi forensik adalah area intuisi yang menggunakan teknik investigasi dan audit, mengintegrasikannya dengan keterampilan akuntansi dan komersial, memberikan kesaksian di pengadilan melalui saksi ahli, menyelesaikan masalah keuangan yang kompleks, melaksanakan investigasi penipuan (Oberholzer, 2002, hal. 5). Akuntansi forensik memperoleh pemeriksaan mendalam dalam bisnis dan membantu untuk pemahaman yang lebih baik tentang sistem akuntansi yang dipegang oleh bisnis (McKittrick, 2009, p. 3).

Perkembangan Akuntansi Forensik

Dr. Larry Crumbley dapat dianggap sebagai akuntan forensik pertama dalam sejarah. Pasalnya, dia memeriksa catatan kebangkrutan dalam kasus kebangkrutan Sefton dan menjabat sebagai saksi ahli di pengadilan. Kejadian ini dapat dilihat sebagai titik awal dari profesi akuntansi forensik (Singleton & Singleton, 2010, p. 5). Pada tahun 1824, seorang akuntan muda Skotlandia membuat iklan pengetahuan dan bidang keahliannya tanpa menggunakan istilah “akuntan forensik”       untuk mendukung penyelesaian perselisihan dalam transaksi forensik (Idowu, 2011, hlm. 65) . Pada tahun 1900-an, Internal Revenue Service (IRS) mengembangkan banyak teknik forensik untuk menangkap para penghindaran pajak di AS, menghasilkan pengungkapan aktivitas penghindaran pajak dari gangster terkenal di dunia, Al Capone, oleh akuntan forensik (Crumbley et. al., 2015). Istilah “Akuntansi Forensik” pertama kali digunakan pada tahun 1946 oleh Maurice E. Peloubet dalam artikelnya yang berjudul “Akuntansi Forensik: Tempatnya dalam perekonomian saat ini” (Idowu, 2011, hlm. 65). Sebagai akibat dari skandal perusahaan besar seperti Enron, WorldCo, dan Xerox, yang terjadi pada 1980-an dan seterusnya, kepercayaan terhadap laporan keuangan telah berkurang dan tanggung jawab serta peran akuntan dan auditor dalam menentukan kondisi keuangan menjadi dipertanyakan. Pada tanggal 30 Juli 2002, Sarbanes – Oxley Act telah diadopsi oleh Senator Paul D. Sarbanes dan Michael G. Oxley di Amerika Serikat, untuk mencegah skandal ini dan mendapatkan kembalikepercayaan investor. The Sarbanes-Oxley Act dianggap sebagai salah satu tonggak terpenting dalam pengembangan profesi akuntansi forensik. Karena undang-undang ini telah membuat komite audit wajib di perusahaan selain dewan yang ada, dan, dalam konteks ini, akuntan forensik telah mampu memberikan layanan konsultasi khusus kepada komite audit atau manajer perusahaan dengan menggunakan kemampuan audit dan penelitian mereka. . Selain itu, mereka juga dapat bertugas di komite audit dengan izin dari Securities and Exchange Commission (SEC) (Dönmez & Çavus¸ogˇlu, 2015, hlm. 47).

Referensi :

Arboleda, F. J. M., Luna, A. G., & Torres, I. D. (2018). Fraud detection-oriented operators in a data warehouse based on forensic accounting techniques. Computer Fraud & Security, 2018(10), 13–19.

Crumbley, L., Heitger, L. E., & Smith, G. S. (2015). Forensic and investigative accounting (7th Ed.). USA: Wolters Kluwer.

Dönmez, A., & Çavus¸ogˇlu, K. (2015). Hilelerin ortaya çikarilmasi bakimindan bagˇimsiz denetim ile adli muhasebenin kars¸ilas¸tirilmasi (The comparison of independent audit and forensic accounting in terms of exposing fraud). Journal of Accounting, Finance and Auditing Studies, 1(3), 34–67.

Idowu, S. (2011). So you want to be a forensic accountant? Accountancy Ireland, 43(6), 65–66.

McKittrick, C. (2009). Forensic accounting – It’s broader than you might think and it can help your organization. Forensic Accounting, 1, 1–3.

Oberholzer, C. (2002). Quality management in forensic accounting. The Degree of Master of Business Administration, The Gordon Institute of Business Science, University of Pretoria. Retrieved from https://repository.up.ac.za/bitstream/handle/2263/28494/dissertation.pdf?sequence=1

Singleton, T. W., & Singleton, A. J. (2010). Fraud auditing and forensic accounting. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons, Inc.

 

Image Sources: Google Image

LDP